Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Tak Bisa Bercinta


__ADS_3

Dahlan merasa risih dengan senyum perempuan asing di hadapannya.


Sungguh ia rindu senyum Juminya yang dulu. Senyum yang menyelusup ke ulu hatinya. Dan mengantarkan getar cinta serta kerinduan yang dalam pada setiap detik saat dirinya berada di laut lepas.


Tapi kini di hadapannya senyum istrinya begitu asing. Walau dalam diri perempuan itu tetap raga dan sukma milik istrinya.


"Ya Tuhan kenapa begitu sulit menerima senyum perempuan yang menutupi wajah istri hamba tercinta ..." Keluh hati Dahlan. Rasanya ia seperti berhadapan dengan orang lain.


Zainal batuk batuk membuyarkan pikiran dan keluhan Dahlan.


"Oh ya ..." Dahlan gugup suaranya bergetar.


"Harap Saudara Dahlan saat bertemu istri jangan menunjukkan sikap ragu, supaya tak memicu rasa bersalah dihati Saudari Jumi. Karena istri Anda ini mengalami traumah dan tidak percaya diri akibat rasa sesal mendalam terhadap dirinya sendiri," terngiang ucapan Suciyati Psikolog yang mendampingi pemulihan traumah sang istri.


"Jumi ..." Masih bergetar suara Dahlan, gugup dan dadanya berdebar tak lepas tatapannya pada wajah Jumini. Berusaha mendatangkan wajah Jumi yang lama supaya ada getar rindu, bukan getar bimbang.


"Ya Bang ... Bang Dahlan ..." Begitu pun dengan Juminii sangat gugup walau persiapan mental sudah terpatri untuk rilek.


"Percaya kekuatan itu datangnya dari hati yang kokoh dan jiwa yang ikhlas pada yang terjadi pada diri Kita," terngiang ucapan Suciyati Psikolog pendampingnya.


"Aku harus buang ragu dan bimbang. Aku tetap Jumi yang dulu. Aku bisa!" Batin Jumini.


"Jumi," sekarang Dahlan lebih bisa menguasai dirinya.


"Bang," begitu pun dengan Jumini.


Dahlan lebih maju lagi. Kini ia tak berjarak dengan Jumini yang menunggu.


Kedua lengan Dahlan terkembang. Dan sepenuh daya ia berusaha membayangkan wajah asli istrinya yang dulu. Supaya tercipta suasana yang tak mengganggu kerinduan pada Jumini.


Jumini segera masuk ke dalam pelukan Dahlan. Merapatkan wajah di dada bidang suaminya. Hal mana yang selalu mereka lakukan setiap pertama mereka bertemu setelah sepuluh bulan terpisah jarak.


Dahlan merangkul ketat istrinya. Membayangkan pertemuan mereka tahun lalu, karena terpisah raga cukup lama. Rasa rindu yang meletup letup di dadanya ia tumpahkan dengan memeluk perempuan cintanya.


Begitulah saat ini Dahlan memeluk Jumini. Saat tubuhnya merapat ke tubuh Jumini tercium aroma tubuh istrinya yang sudah lekat di sanubarinya. Hingga ia merasa begitu bahagia.


Jumini menangis di dada Dahlan. Hatinya terharu dalam bahagia yang tiada Tara karena menemukan kembali sentuhan serta aroma tubuh suaminya.


Beberapa menit mereka berpelukan. Dua orang suster yang menemani Jumini saling tatap dan tersenyum senang, lalu mereka diam diam mundur keluar ruangan.


Zainal dan Narsia sepakat meninggalkan Dahlan dan Jumini yang masih saling peluk melepaskan rindu. Mereka mendatangi dua suster.


"Suster," panggil Zainal.

__ADS_1


Kedua suster itu menoleh dan sekaligus menghentikan langkahnya.


"Terima kasih," ujar Dahlan.


"Sama sama, Pak," tersenyum si suster.


Lalu Zainal dan Narsia memandang pada Dahlan dan Jumini yang masih saling peluk menumpahkan rindu.


Dahlan merasa lebih nyaman tak memandang Jumini. Biar tak mengapa istrinya lebih lama menyembunyikan wajah di dadanya, supaya dirinya tak terganggu wajah asing istrinya.


"Abang Minta maaf sayang sudah menyiksa batinmu beberapa hari ini dengan tuduhan keji," tulus suara Dahlan, tangannya mengelus punggung istrinya.


"Aku yang salah, aku yang telah mencipta suasana kacau. Mohon ampunkan aku, Bang," terisak Jumini.


"Ya sayang," bisik Dahlan, "Sudah jangan menangis," bujuknya mencium rambut Jumini.


Zainal dan Narsia yang menyaksikan dari ambang pintu, sangat terharu.


"Pak," bisik Narsia, "Mereka akur sekarang,"


"Ya semoga begitu, bagaimana pun dia masih Jumini istri pilihan Dahlan dulu," suara Zainal balas membisik.


Narsia menghapus air mata di pelupuk matanya. Tangis haru dan bahagia.


Saat Jumini menarik wajahnya dari dada Dahlan. Lagi Dahlan tercekat melihat wajah cantik yang asing basah air mata tengadah di wajah mukanya.


"Bang ..."


"Ya ... Ya ...." agak ragu saat Dahlan menghapus air mata Jumini.


"Benar Abang menerima aku apa adanya seperti ini, ya," Jumini semakin lekat menatap Dahlan dengan air mata semakin deras.


Dahlan mengangguk. Berusaha membuang Rasa risihnya, demi pernikahan mereka.


"Ya mungkin sudah basibku, Dik, sudah terjadi tak mungkin lagi diulang yang lama," ujar Dahlan berusaha tabah.


"Terima kasih, Bang," tangan Jumini menghapus air matanya.


Dahlan terkejut saat melihat punggung tangan Jumini yang yang putih bersih, semula kulit tangan istrinya kuning langsat agak ke sawo matang, tapi kini kulit tangan istrinya menjadi putih bersih.


"Bang," suara Jumini menyadarkan Dahlan.


Segera ia tersenyum. Menekan riskan di dadanya. Aku harus terbiasa dengan perubahan ini, ujarnya dalam hati.

__ADS_1


"Ya sayang ..." Berusaha tersenyum, "Ayo temui dulu Emak dan Bapak,"


Jumini mengangguk. Tapi sesaat ia ragu untuk melangkah di samping Dahlan mendekati kedua orang tuanya.


"Aku Jumini aku harus melupakan operasi wajah ini," seru hati Jumini.


Zainal tergugu menatap Jumini yang kini berdiri di hadapannya. Perasaan asing terhadap sosok anaknya merayap dalam kalbunya.


Begitu pun dengan Narsia. Ia juga masih merasa asing dengan Jumini. Tapi tatapannya ia fokuskan pada sepasang mata Jumini yang sangat dikenalnya. Mata jeli yang bulat milik putrinya.


"Emak, Bapak," tanpa menunggu Jumini langsung bersimpuh di kedua kaki emaknya.


Suara Jumini yang masih asli mengusik hati Narsia. Segera ia membungkuk membimbing Jumini berdiri.


"Emak maafkan kelancangan Jumi," Jumini memeluk Narsia.


"Jumi anak Emak," rasanya walau jelas ibu yang melahirkan Jumini, kok sangat canggung dengan wajah putrinya yang baru itu. Dipeluknya Jumini. Maka ia lebih nyaman mendengar suara anaknya saja daripada memandang wajahnya.


"Mohon ampun apa yang telah Jumi lakukan, Mak," tangis Jumini pecah lagi.


"Sudah terjadi ya sudah mohon ampun pada Tuhan atas semua yang kamu lakukan, Jumi,"


"Ya nasi telah jadi bubur, tak mungkin lagi ditanak," ujar Zainal dengan suara parau.


Jumi menarik pelukannya dari Narsia, kini ia memandang bapaknya.


"Bapak minta maaf karena telah menyakitiku, Nak," ujar Zainal dengan tatap penuh sesal.


"Saya yang harus minta maaf karena telah membuat Bapak kecewa," lalu Jumini memeluk Zainal.


"Ya, Nak, Mohon ampun pada Tuhan atas apa yang sudah terjadi,"


"Ya, Pak,"


"Mari kita pulang," ajak Dahlan.


Mereka meninggalkan rumah sakit. Saat sampai di rumah Jumini sangat terharu dan bahagia melihat semerbak mawar putih menghiasi setiap sudut rumahnya.


"Oh Bang Dahlan menyambut kedatanganku dengan suka cita, terima kasih Tuhan," setetes air mata jatuh diantara kelopak mawar putih yang ada di tangannya.


Tapi ternyata Dahlan gagal untuk melepas kerinduannya secara total kepada Jumini.


Saat mereka sudah beranjak ke kamar. Saat sudah berada di tempat tidur. Dahlan gagal menumpahkan kasih sayang pada Jumini. Hal itu dikarenakan ia menatap wajah cantik Jumini yang bukan milik istrinya.

__ADS_1


"Abang sudah tak cinta padaku lagi?" Jumini menatap Dahlan yang mukanya begitu dekat dengan dirinya.


Bersambung


__ADS_2