
Sajak uring uringan karena panggilannya untuk yang kesekian ratus kali tak digubris Jumini. Sedangkan Dahlan mau dimintai tolong untuk sekedar curhat membagi keresahannya, justru lelaki seniornya di bidang kuliah pelayaran dulu di kampung, sedang dalam masalah besar dengan urusan rumah tangganya yang berada di ujung tanduk.
Maka yang dilakukan adalah terus mengulang ulang panggilannya pada Jumini dengan penuh harap, dan matanya tak beralih dari ponsel di tangannya.
Bagi Jumini belum berminat untuk membuka hubungan dengan lelaki lain, walau hanya sekedar say helo, karena sesungguhnya hatinya belum bisa lepas dari kebersamaannya dengan Dahlan
Hati kecilnya tak ikhlas dan tak ingin berpisah, namun dia sadar tak ada kekuatan untuk menolak jika pihak Dahlan beserta orang tuanya menginginkan perceraian. Tak ada yang bisa dipertahankan. Dengan Dahlan dirinya tak punya keturunan. Lagipula kesalahannya terlalu fatal di mata suaminya. Merombak wajah dan suaminya menolak.
Hal tang sangat memudahkan Dahlan untuk menceraikannya.Itulah yang membuatnya tak ingin apa pun, selain hanya berdiam diri di kamar.
Hingga terdengar ketukan.
Tok
Tok
Tok
Tiga kali ketukan dan disusul dengan suara Rini.
"Mbak Mini ..."
"Mbak Mini sakit, ya .." Roni tak mau kalah.
"Mbak Mini ..." Rini terus memanggil, sebenarnya dia tak mau Roni terlalu perhatian pada Jumini, walau sudah dijelaskan oleh pemuda iru, bahwa perhatiannya pada Jumini hanya sebatas kawan satu kosan dan Jumini iti pantas jadi kakaknya.
Tapi tetap saja Rini cemas, banyak kok mulanya menganggap kakak, tapi lama kelamaan jatuh cinta, apalagi Jumini jelita, siapa yang tak tertarik?
Rupanya Minati mengerti gejolak hati Rini, maka dia mengambil inisiatif untuk memanggil Jumini.
"Biar aku saja," ujarnya, "Mbak Mini ini kami yang sangat sayang sama Mbak Mini, kenapa mengurung diri di kamar, buka pintunya, dong ..."
Rusman tang pulang kerja tak mau ketinggalan langsung bergabung dengan ketiga kawannya yang memegang sebuah tempat makanan matang serta anggur untuk diberikan pada Jumini.
__ADS_1
"Kenapa Mbak Mini?" Rusman mendekat pada Minati.
"Kami khawatir mbak Mini sakit, makanya kami bawakan bubur dan anggur,"
" Sejak tadi kok nggak keluar," sambung Roni.
"Tenang mungkin mbak Mini lagi jenuh atau lelah, kita kan nggak tahu," ujar Rusman.
"Justru karena nggak tahu itulah kami ingin tahu," tampaknya Roni memang sangat ingin tahu keadaan Jumini, hal itulah yang membuat Rini tetap cemburu dan cemas.
Tapi rasa cemburu itu terpaksa disimpan dalam hati saja oleh Rini, kan si Roni belum jadi kekasih, masih jadi teman, walau dirinya ngebet pengen ditembak dengan ucapan cinta. Namanya juga perempuan, ya, menunggu. Justru menunggu itu yang membuatnya tak sabar. Penuh gejolak di dada.
Akhirnya Jumini membuka pintu juga. Dan wajahnya memang tak secerah waktu mereka pertama kenal. Ada lelah di matanya. Ada sedih yang dalam dan tak terucap.
"Hai kalian .." sebisa mungkin Jumini pasang wajah yang dipaksa cerah, tapi Roni yang sangat perhatian melihat ada rasa khawatir dan sedih yang dalam pada bola mata perempuan yang telah membuatnya suka itu.
"Mbak Mini seperti sedang memikirkan sesuatu," celetuk Roni, itu semua berasal dari perasaannya yang memang begitu perhatian.
Tapi tetap saja Roni masih menyimpan penilaiannya bahwa Jumini sedang tidak baiklah baik saja.
Diam diam perhatian Roni sangat membuat batin Rini jadi tersiksa.Kayaknya si Roni ini memang perhatian deh sama boneka Korea ini, keluhnya penuh dengan kecemburuan.
"Hai Mbak Mini, ini kami bawakan bubur ayam terlezat di sekitar sini, ayo makan pasti langsung jatuh cinta, deh, dan lumayan kalau lagi malas makan bisa langsung telan," ujar Minati mengangsurkan bungkus plastik yang berisi bubur ayam, "tapi kunyah dulu, dong kan ada ayamnya ..." candanya.
"Aduh terima kasih perhatian kalian semua," sungguh Jumini sangat terharu pada kebaikan teman teman barunya yang sangat perduli itu.
"Dan ini ada anggur," tambah Minati.
"Ah kalian banyak berkorban, ya," sungguh Jumini sangat merasa diperhatikan, sehingga membuatnya cukup terhibur, walau tak mengurangi beban derita batinnya.
"Nah ini air mineral untuk minum setelah makan bubur, Mbak," tiba tiba Rusman mengambil botol air mineral ukuran besar yang dibawanya dari tempat kerja untuk persiapan minumn sendiri, tapi, yang lain sudah patungan membeli bubur dan anggur, dirinya pun harus ada gerakan oerhatian, dong.
"Ayo dimakan, Mbak mumpung masih hangat," ujar Roni menatap Jumini lekat.
__ADS_1
Rini bukannya memandang pada Jumini, justru sejak tadi memperhatikan gerak gerik Roni, terutama pada tatap matamya. Dan dia menemukan binar binar yang sangat cerah di mata cowok idolanya saat menatap Jumini.
"Ya, Roni, kamu baik banget padaku," dan tangan Jumini tiba tiba saja menyentuh lembut bahu Roni.
Dan sentuhan itu rupanya langsung membuat dada Roni berdebar debar, hingga raut mukanya menjadi salah tingkah. Dan itu terekam oleh tatapan mata Rini, sehingga membuatnya jadi semakin merasa takut kalah saing dalam merebut perhatian pemuda idamannya itu.
Huh si Roni emang naksir kali sama Mbak Jumini, ih, kok seleranya yang tua, sih, cibir hatinya. Tapi saat sadar jika Jumini adalah perempuan yang masih muda dengan memiliki kecantikan berkali lipat dari dirinya, serta kecantikan yang begitu menawan, membuatnya sadar jika dirinya memang dirinya bukan tandingan Jumini.
Roni tersenyum, "Hanya perhatian kecil, Mbak," ujarnya.
"Perhatian kecil yang sangat berharga,"
Ungkapan Jumini membuat hidung Roni mengembang dan pemuda itu senyum senyum, semakin membuat hati Rini dilandah cemburu berat.
Minati menarik tangan Jumini untuk duduk di kursi di teras yang tak jauh dari kamar Jumini.
"Yuk dimakan, Mbak," ajaknya.
Jumini pun tak bisa menolak dikelilingi oleh orang orang yang memperhatikannya. Maka sedikit demi sedikit bubur berpindah juga ke perutnya. Walau tak habis, tapi cukup membuat perutnya yang memang belum terisi makanan itu lumayan adem dulu.
"Wah terima kasih pada kebaikan kalian, semoga aku bisa membalasnya, tapi InsyaAllah Tuhan akan terlebih dulu membalasnya,"
"Aamiin ..." seru Rusman dan Minati serta Rini hampir bersamaan.
"Yang penting Mbak Mini sehat saja dulu," ujar Roni menatap lekat wajah Jumini, "Ayo anggurnya, Mbak," lanjutnya.
Untuk tidak mengecewakan Jumini pun mulai memetik dua anggur yang disodorkan Roni, dan itu tak luput dari perhatian Rini, yang menyimpan rasa cemas dan cemburunya dibalik senyumnya.
"Bubur sudah dimakan, air sudah diminum, dan anggur pun sudah, duh rasanya kenyang deh ..." Jumini tertawa kecil, tapi diam diam Roni masih melihat rasa gundah tersembunyi di sudut kedua mata Jumini.
Tiba tiba ponsel Jumini berdering.
Mereka semua menoleh kearah kamar Jumini. Dan Jumini tahu itu dering panggilan dari orang tuanya. Tiba tiba wajahnya mendadak pucat.
__ADS_1