Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Rencana Pisah Tempat Tinggal


__ADS_3

Begitu pun di tempat tidur saat mereka tidur bersama. Jumini memeluk, menciumnya. Namun dirinya hanya memejamkan mata. Kalau Jumini keterlaluan, maka dengan halus Dahlan meminta supaya Jumini tidur saja.


"Tidur saja, Dik,"


Jumini masih memeluk, tapi ia tak lagi berusaha untuk mengganggu suaminya. Berusaha untuk terpejam, walau hatinya tak tenang. Bagaimana mau tenang jika karena ulahnya sang suami tercinta, yang semula sangat mencintainya menjadi hambar pada dirinya?


"Maafkan aku Bang Dahlan," bisik hati Jumini, tampa sadar air matanya mengalir di kedua pipinya.


Dahlan terkejut saat merasa dadanya basah. Ia berusaha menguatkan perasaannya menunduk memandang ke wajah Jumini yang tertidur di dadanya.


"Jumi menangis?" Tangan Dahlan yang akan menghapus air mata Jumini, tertahan di udara. Lalu lunglai di sebelah tubuh perempuan itu.


Dahlan menatap langit langit kamarnya. Gelisah semakin merasuki dadanya. Merasa bersalah tak mau disentuh istrinya, dan tak bisa melakukan kewajibannnya sebagai suami.


"Maafkan aku Dik, Maafkan aku," bisiknya mengelus rambut Jumini.


Hingga sebuah keputusan telah bulat ia ambil. Dan harus dibicarakan dengan Jumini.


"Berpisah?!" Jumini terkejut mendengar keinginan Dahlan untuk hidup terpisah untuk sementara demi keutuhan rumah tangga mereka.


"Maaf, Dik, aku terpaksa, sudah kucoba untuk dapat menerimamu, bersamamu, tapi setiap kali melihat wajah cantikmu, aku tersiksa, aku risih, aku tak bisa," tertunduk Dahlan, sesungguhnya ia tak sampai hati untuk bertempat tinggal terpisah dengan Jumini, tapi apa daya, perasaan dan hatinya tak bisa menerima keadaan istrinya. Wajah Jumini sangat menyiksanya, seakan itu bukan istrinya, bukan Jumi yang dicintainya.


Jumini mendadak pucat mendengar kata pisah rumah untuk sementara dari suaminya. Tak sanggup jika ia harus berpisah rumah dari Dahlan. Tak bisa . Bagaimana jika nanti diceraikan.


"Bang bukankah dulu Abang janji sehidup semati pada Jumi, tapi kenapa sekarang mau meninggalkan Jumi, Bang?" Jumini langsung merangkul pundak Dahlan dan menangis sedih, "Jumi tak bisa jika dijauhkan, Bang ..."


Dahlan tak sampai hati mendengar tangisan Jumini.


"Bang walau wajah Jumi berubah, tapi, kan raga serta jiwa ini tetap milik Jumi yang lama, yang asli, Bang," sebisa mungkin Jumini berusaha untuk menggagalkan keinginan pisah rumah sementara.


"Abang tahu itu, Jum, tapi setiap Abang melihat wajahmu, Abang seperti melihat perempuan lain. Abang seperti akan bercinta dengan perempuan yang bukan istri Abang,"


"Pokoknya Jumi nggak mau lain rumah denganmu Bang, tolong jangan tinggalkan Jumi, Bang," meratap Jumi di pelukan Dahlan.


Dahlan tak mau menatap Jumi, karena setiap menatap wajah istrinya ia seperti tengah menatap perempuan lain.


Jumini menangis histeris di dada Dahlan. Tapi Dahlan justru menutup muka dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Maafkan aku Dik, maafkan aku ..." suara Dahlan bagai merintih. Sakit sebenarnya menyadari tak bisa bersama perempuan yang dicintainya itu. Tapi tak bisa mendampingi Jumini. Makanya akan dicoba dengan solusi pisah rumah untuk beberapa minggu.


"Bang kasihani Jumi, bagaimana dengan perasaan dan hati Jumi jika dijauhkan. Jiwa Jumi bakalan tak kuat, Bang," sedan Jumini dengan dada sesak. Ia memang tak sanggup jika harus berpisah walau bukan selamanya dari Dahlan. Lelaki itu adalah junjungan hatinya. Makanya sampai nekat operasi untuk lebih membuat Dahlan bahagia memiliki istri cantik, tapi nyatanya membuatnya akan ditinggalkan.


"Dik Jumi terus terang saja Abang sangat tersiksa bersamamu dengan wajah barumu ini," apa yang dikatakan Dahlan memang benar.


Jumi adalah istrinya, otomatis mereka selalu bersama. Siang dan malam. Sungguh sangat menyiksa batinnya, jika harus terus menerus menunduk saat mereka makan bersama, karena ia merasa tak nyaman dengan wajah cantik istrinya. Bahkan tidur pun merupakan siksaan seranjang dengan perempuan yang dianggapnya asing itu.


"Abang bukannya tak berusaha, sudah ke Psikolog, tapi pikiran Abang tak bisa menerima kenyataan untuk berdampingan dengan perempuan yang wajahnya bukan milik istriku, itu hasilnya, Dik," sebenarnya sakit hati Dahlan mengatakan semuanya pada Jumini istrinya.


"Jumi mau menunggu sampai Abang bisa menerima keadaan Jumi," ujar Jumini dengan tatap memohon.


Dahlan berpaling tak sanggup berlama lama menatap istrinya."Maafkan aku, Dik, itu nggak bisa, makanya daripada kita saling tersiksa dan Aku menjadi suami yang berdosa karena tak mau menggauli istrinya, maka sebaiknya kita berpisah saja dulu untuk sementara,"


"Bang," tangan Jumini meraih tangan Dahlan, diciumnya, lalu didekapnya ke dada,"Abang rasakan debar cinta Jumi sama Abang, jan?" Ujarnya dengan sepasang mata merebak air.


"Ya, tapi Abang tak bisa, Dik. "Ujar Dahlan mantap, "Kita akan berpisah sementara , aku akan belajar menerima perubahanmu, Dik. Dan aku berjanji untuk tetap berusaha untuk bisa menerimamu, ini hanya sementara saja,"


Jumini sangat sedih. Rupanya Dahlan sudah pada keputusan berpisah tempat tinggal dirinya. Ingin tenang sambil mempersiapkan diri menerima perubahan wajahnya.


"Biar besok aku mau memulainya untuk pindah rumah. Kamu tetap di rumah ini, Dik. Biar untuk beberapa hari aku tenang sendirian. Nanti setelah aku tenang barulah aku putuskan bertemu denganmu," menunduk Dahlan. Ada beban berat harus berjauhan dengan Jumini, "Kita harus melakukannya, Dik, aku harus melakukan dengan cara berjauhan denganmu, Dik ,"


Dahlan mengangguk.


"Abang Jumi bisa patah hati kalau pisah dari Abang," rengek Jumini.


"Aku juga tak akan sanggup berjauhan denganmu seandainya wajahmu yang ai dulu masih ada. Makanya Abang harus belajar dulu,"


"Abang tak kasihan pada Jumi, Bang?" Berharap dikasihani Jumini tak malu demi tinggal berdekatan dengan orang yang begitu dicintainya.


"Demi kebaikan kita, Dik," lirih suara Dahlan, "Abang pasti juga sedih harus jauh darimu, Dik, tapi daripada kita terus menerus begini, ya lebih baik memang sementara berpisah,"


Jumini menangis.


Dahlan terdiam.


Jumini memeluk Dahlan erat."Aku tak mau dijauhkan, Bang, aku tak mau .." tiba tiba Jumini terkulai di dada Dahlan.

__ADS_1


"Dik ..." Panggil Dahlan.


Jumini terdiam.


"Dik Jumi ..!'


Tetap diam.


Dahlan langsung membopong Jumini ketempat tidur. Memberi minyak angin ke leher istrinya, lalu sedikit memoles minyak angin ke dahi Dan hidung Jumini. Otomatis ia memandang wajah cantik Jumini yang pingsan.


"Ya Allah maafkan hamba sangat tak bisa berdampingan dengan istri hamba yang cantik ini," batin Dahlan yang sebenarnya sangat tersiksa harus menyaksikan Jumini pingsan dan mau tak mau harus berhadapan langsung dengan wajah istrinya.


Jumini masih belum siuman.


"Sebaiknya aku telepon dokter saja." Dahlan cemas melihat keadaan Jumini, maka segera dihubunginya pihak rumah sakit yang pernah merawat Jumini.


"Baik, Pak, kami akan mengirim ambulan ke rumah Bapak," jawaban dari rumah sakit


"Begini Saja, Bu, mengirim Ambulan kelamaan, tolong rekomendasikan Dokter yang tak terlalu jauh dari tempat tinggal kami," ujar Dahlan langsung mengirim alamatnya.


"Baik, Pak,"


"Dik Jumi sebentar lagi dokter datang," sambil menunggu dokter datang Dahlan masih berusaha untuk menyadarkan Jumini, dengan Cara menepuk nepuk pelan pipi merona istrinya.


Tapi Jumini masih diam saja.


"Nadinya sangat lemah," terkejut Dahlan, "Apakah langsung dibawa ke rumah sakit saja?"


Saat ia cemas ponselnya berbunyi.


"Ya halo,"


"Lima menit lagi dokter akan datang,"


"Ya tolong kirim juga ambulan sepertinya istri saya sangat lemah, Bu,"


"Baiklah,"

__ADS_1


"Maafkan Abang Dik, maafkan Abang ..." Air Mata Dahlan mengambang Di pelupuk matanya. Rasanya tak sampai hati melihat Jumini pingsan Karena diminta berpisah rumah.


Bersambung


__ADS_2