
Bab 36
Jumini pun memberikan nomer ponselnya. Mereka bertukar nomor ponsel.
"Terima kasih untuk kencan pertama kita," ujar Sajak mengantarkan Jumini ke depan Cafe .
Jumini melongoh, "Kencan?!"
Sajak mengangguk dan tersenyum, "Kuanggap ini kencan pertamaku dengan seorang titisan Bidadari dari Khayangan," ujarnya dengan nada penuh sanjungan. Dalam hati berharap semoga akan adalagi pertemuan dan pertemuan dengan perempuan yang telah membuat hatinya yakin tertarik itu.
Jumini hanya tersenyum tak mau menggubris ocehan Sajak yang menunjukkan betapa lelaki muda itu sangat menyanjung dirinya.
"Permisi, Assalamu'alaikum ..." Jumini melangkah tak lagiau menoleh.
"Wa'alaikum salam ..." balas Sajak, "Semoga Anda dalam keadaan sehat danTuhan memberi kesempatan untuk aku bertemu Anda lagi," terus terang Sajak terkekut dengan ucapannya sendiri.
Jumini masih sempat menangkap ucapan Sajak. Namun dia terus melangkah tak mau menoleh lagi, hingga menghilang di tikungan lorong cafe.
Sajak masih berdiri terpaku menatap pada jalan yang dilalui Jumini. Walau perempuan itu sudah tak nampak lagi, bahkan bayangannya pun sudah tak ada, tapi dia enggan untuk berpaling, seakan sosok perempuan penggoda hatinya itu masih melenggang.
"Hai ..." Dahlan menepuk Sajak dari arah belakang.
Sajak spontan menoleh dan cengsr cengir bagai orang baru sadar dari mimpi indah.
"Kenapa kamu jadi nyengir seperti orang baru sadar dari kesurupan?"
"Bukan kesurupan, tapi dapat durian dan berharap akan runtuh hatinya padaku, supaya hari hariku selalu bermimpi indah tentang diriku dan dirinya," ujar Sajak dengan mata berbinar binar, dan bayangan Jumini memenui cornea matanya.
"Hei jangan keringgian menfkhayal kau nanti jatuh patah tulang dan hatimu!" Dahlan yang pikirannya sedang rusuh mau tak mau menertawakan Sajak yang kali ini lain dari biasanya. Lelaki bujangan di depannya itu tampak sekali berbinar bahagia.
"Serius, Bang, baru saja aku dapat kenalan gadis cantik jelita yang telah menggoda hatiku, sayang dia keburu pamit pulang, kalau tidak pasti Abang kagum padaku karena bisa ngajak bidadari itu minum kopi bersama denganku," seru cara Sajakmenceritakan pengalamannya bertemu dan ngopi bersama Jumini.
__ADS_1
"Semoga saja dia juga naksir padamu," ujar Dahlan saat sudah duduk di kursi cafe, dan secara kebetulan kursi yang tadi diduduki Jumini kini didudukinya.
"Oh ya juga sih," ingat dan sadar jika belum tentu Jumini memiliki perasaan yang sama dengan yang kini dia rasakan terhadap perempuan itu, hatinya jadi cemas.
"Jangan takut, Bro, tinggal berdoa minta pada Allah semoga dia jodohmu, jika dikabulkan nikahilah dia,jika tak diberi jawaban, tawakal, yerus berdoa," ujar Dahlan memberi dukungan pada Sajak.
“Aamiin, Bang semoga saja dia memang dikirim Tuhan untuk aku,” penuh harap raut muka Sajak. Benarkah aku jatuh hati pada gadis yang baru kukenal tanpa sengaja barusan?
“Hei Sajak apa kau sudh Tanya apa dia belum punya pacar, atau jangan jangan istri orang, atau calon janda, karena konon katanya jaman sekarang ini banyak perempuan jelita minta cerai pada suaminya …” canda Dahln sambil tertawa.
Justru candaan itu membuat Sajak terkejut. Dirinya memang belum tahu status si Mini yang sesungguhnya, karena antara mereka baru tahap minum kopi bersama, itu pun karena dirinya yang menembak sang perempuan supaya bisa berlama lama dengan pujaan hatinya yang datang secara tiba tiba itu.
“Kenapa?” Dahlan merasa tertarik dengan gaya lesuh Sajak, beda dengan semenit lalu saat lelaki itu menceritakan tentang sosok perempuan cantik yang dikirim Tuhan pada dirinya.
“Kau benar, Bang, aku belum sempat tanya tentang statusnya. Entah apa dia itu masih single, atau sudah doble, atau entahlah aku juga belum tahu ..” geleng kepala Sajak merasa sangsi atas diri Jumini yang dikenalnya bernama Mini itu, apakah masih sendiri atau sudah berdua.
“Orangnya bagaimana sudah dewasa?”
“Ya si, Bang, tapi kupikir umurnya dibawah umurku,” angguk Sajak, “Walau dia cantik jelita, tapi kayaknya masih agak polos dan nggak over orangnya, buktinya saat kutembak untuk menemaniku atau mentraktirku minum kopi atas kesalahannya telah menabrakku di super market tadi, dia sejenak gugup, tapi kayaknya nggak berani menolak, wajahnya mengesankan rasa bersalah, gitu, ya aku jadi terkesan dengan sikapnya yang apa adanya nggak dibuat buat. “ cerita Sajak jujur penilaiannya tentang Jumini.
“Ya Bang, aku juga bingung, tampang modern dan aku mulanya juga mengira dia akan pasang tingkah sok gitu saat aku nekat minta dia mentraktirku minum kopi sebagai kompensasi atas kelalaiannya telah menabrakku. Ternyata dia itu perempuan yang sangat santun dan langsung memikat hatiku sikapnya itu,”
“Ya semoga sajalah dia memang single supaya kamu nggak kecewa,” harap Dahlan merasa kasihan jika Sajak harus kecewa hatinya.
“Ya, Bang semoga saja, biarlah aku akan mengadakan pendekatan dulu sebelum aku melaut,” bersinar lagi kedua mata Sajak.
“Nah begitu penuh semangat,” ujar Dahlan sejenak dia lupa akan urusan pribadinya dengan Jumini yang sangat menguras tenanga dan pikirannya.
“Bang minum kopi, ya, aku temani karena aku sudah ngopi sama si jelita tadi,”
“Okelah kalau begitu,”
__ADS_1
Sajak memesan satu cangkir kopi untuk Dahlan serta sepiring cemilan untuk mereka berdua. Untuk beberapa menit pertama setelah secangkir kopi dan sepiring cemilan kue diantar dan diletakkan di depan mereka, keduanya menikmati hidangan yang ada. Dahlan menikmati seruputan kopinya, sedangkan Sajak menikmati nikmatnya kue hidangan yang memang sangat lumer di mulutnya dan terasa cocok dengan lidahnya.
Barulah setelah Dahlan menghabiskan setengah cangkir dan satu kue dia berkeluh kesah tentang pencariannnya terhadap Jumini yang belum ditemukannya.
“Kalau dirimu sedang berbunga bunga karena mengenal perempuan jelita dan kemungkinan dirimu jatuh hati, aku sebaliknya, Sajak. Istriku belum kutemukan, eh , kemungkinan lusa orang tuaku sudah ada di Jakarta, mereka akan menengok aku dan Jumi,”
Sajak menatap Dahlan serius tanpa suara.
“Istriku belum kutemukan. Jika sampai orang tuaku datang dia belum juga kembali ke rumah, maka ada dua persoalan yang sangat rumit. Pertama jelas orang tuaku tak suka jika seorang istri itu pergi dari rumah suaminya, bagaimana pun harus ada kompromi jika akan meninggalkan rumah. Dan yang lebih membuatku panik adalah tentang perubahana wajah Jumi. Jelas orang tuaku menentang …” Dahlan menunjukkan muka panik, tak seperti tadi saat saat mendukung pertemuan Sajak dengan perempuan yang tak dia ketahui yang sesungguhnya adalah Jumini istri yang dicarinya.
“Wah aku juga sangat prihatin pada rumah tanggamu, Bang, semoga saja istrimu segera ditemukan, Bang, lalu kalian bisa berunding sebelum orang tua Abang datang ke Jakarta, ya, kuharap permasalahannya segera teratasi,” ujar Sajak tulus.
“Ya, pada akhirnya aku harus mengambil keputusan juga jika orang tuaku sudah mengeluarkan jurus larangan dalam agama bahwa merubah pemberian Sang Pencipta itu haram hukumnya,” menunduk Dahlan, dan untuk mengusir rasa galau dalam dadanya dia mengangkat cangkir kopinya dan langsung menesuk sisa isi cangkirnya, tanpa menikmati aroma rasanya lagi.
“Maksudmu perceraiaian?”
Dahlan menatap Sajak.
“Maaf jika aku salah berkata, Bang,” ujar Sajak cepat karena khwatir membuat Dahlan marah atas ucapannya tadi.
“Aku belum berpikir untuk menceraikan Jumi, atau untuk berkumpul dengan perempuan berwajah asing seperti wajah istriku saat ini aku rishi dan merasa seperti membeli pelacur, maaf ..” terdiam sesaat Dahlan, “Tapi perubahan wajah Jumi jelas tak akan pernah disetujui oleh orang tuaku, dan perpisahan itu kemungkinan akan terjadi juga, aku bingung cara mengatasinya,”
Sajak mengangguk mengerti.
“Karena bagaimana pun pasti orang tuaku kecewa dengan perubahan wajah Jumi, dan mereka tak bisa menerima sesuatu yang bertentangan dengan agama, itu sudah jelas terjadi karena aku paham kedua orang tuaku …”
“Aku mengerti kondisi perasaanmu, Bang,” angguk Sajak.
“Ya, aku harus bagaimana lagi hatiku sendiri menolak wajah Jumi, dan orang tuaku lebih pada pemahaman pada larangan agama, ya, aku sendiri tak menyangkah akan begini nasib rumah tanggaku …”
“Abang tapi masih mencintai istri Abang?”
__ADS_1
“Aku mencintai Jumi yang berwajah asli,” angguk Dahlan yakin.
Bersambung