Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Bab 32 Dukungan Secara Moral


__ADS_3

Bab.31


Deli dan Lia menatap Jumini dengan ibah. Rupanya kasus alih rupa perempuan muda itu berbuntut sangat menyedihkan. Dari dituduh membunuh dan mencuri uang dirinya sendiri oleh Dahlan suaminya, hingga penolakan secara halus sang suami menyarankan mereka tak lagi serumah.


“Mulanya aku masih berusaha untuk bersabar dan mengerti jika Bang Dahlan itu masih asing dengan perubahanku, tapi lama kelamaan aku juga berpikir bahwa aku pun harus bias menghargai diriku sendiri. Tapi mungkin caraku yang salah karena tak pamit secara langsung pada dia, tapi hanya meninggalkan kertas saja bahwa aku pergi,” ada nada sedih pada suara Jumini walau telah memutuskan untuk belajar mandiri di kota yang belum sepenuhnya dikuasainya ini.


“Yah hal itu membuat persoalan kalian jadi mengambang, bahkan menjadi rumit karena ketidak adanya kepastian, pisah atau hanya cooling down saja,” ujar Lia, “Bagaimana kalau Dik Jumi bertemu suami dan mengatakan semua yang ada dalam keinginan Dik Jumi saat ini,” LIa menawari.


Deli berpikir juga demikian, “Memang harusnya ada keterus terangan, keberbukaan walau terasa pahit tak masalah, apalagi permintaan pisah itu datangnya dari Dahlan, walau bukan pisah cerai itu kan sama saja dia menolak istrinya,” lanjut Deli yang sebenarnya gemas juga pada Dahlan yang tak mau menerima perubahana dari sang istri.


“Kita berdua bias menjadi jembatan untuk menghubungi suamimu, Dik Jumi,” ujar Lia ingin menolong JUmini supaya persoalan perempuan itu dengan suaminya secepatnya diatasinya dan tak lagi menjadi beban pikiran karena ketidak adanya titik temu mau kemana rumah tangga mereka.


“Ya jika cerai ya cerai jika lanjut ya tinggal mencari solusi baiknya saja, jika Dahlan mau pisah rumah denganmu, Dik, itu berapa lama kalian terpisah, itu harus jelas jangan Dik Jumi digantung tanpa kepastian.” Deli memberi saran pada Jumini.


Jumini menunduk. Saran kedua sahabat barunya itu memang benar adanya, membuat dirinya merasa terbebas dari beban dan tak lagi digantung oleh Dahlan. Tapi sanggupkah dirinya berpisah dari lelaki yang teramat dicintainya itu?


“Saya masih bingung …” Jumini bergumam lirih.

__ADS_1


“Aku mengerti Dik Jumini masih mencintai suaminya, karena suaminya ingin lebih bahagia dan bangga atas dirinya inilah dia operasi menjadi cantik, walau hasilnya sungguh sangat nestapa, sang suami tak menghargai sama sekali hasil jerih payahnya.” Lia meraih tangan Jumini, “Memang sakit kita tak diinginkan oleh suami kita sendiri,”


“Ya aku juga ditolak suami karena dia lebih memilih selingkuhannya,” seru Deli yang kini kasus perceraiananya terus mengalir bak air yang diguyur dari langit ke sungai.


“Ya versinya yang berbeda,” angguk LIa yang juga harus melepas sang suami secara kekeluargaan karena tak ingin ribut ribut malu. Suaminya ketahuan berselingkuh. Selingkuhannya telah menjebaknya sebagai penipu, makanya sampai dia ditahan di kantor polisi, beruntung saudaranya menjadi penjaminnya hingga dirinya bebas dan bias membuktikan pada polisi bahwa selingkuhan suaminyalah telah merekayasa tentang kasus yang menjeratnya.


“Terima kasih atas sarannya, tapi aku masih belum mau bertemu Bang Dahlan, aku ingin sendiri dulu sambil berpikir apa yang harus aku lakukan untuk selanjutnya,” ujar Jumini pada akhirnya pada kedua perempuan yang siap berada di belakangnya jika nanti terjadi sesuatu dengan dirinya pasca perceraiananya nanti.


“Ya bisa kumengerti memang tak gampang memutuskan sesuatu yang berdampak pada rumah tangga kita. Nanti pikirkan saja baik-baik, kami siap mendukungmu,” ujar Lia tersenyum.”Tapi walau kami siap mendukungmu, Dik Jumi, kami juga akan lebih senang jika dirimu dan suamimu baik-baik saja dan suamimu bisa lapang dada menerima perubahaan atas wajah serta kulitmu,” ujar Deli.


“Ya Mbak,” angguk Jumini.


Setelah berpisah dengan kedua sahabat barunya itu, Jumi langsung kembali ke tempat kosnya, kemudian langsung masuk ke dalam kamar sebelum para sahabat yang merupakan para pendukung kecantikannya Roni ran kawan kawan melihat kedatangannya. Walau tak diutarakan secara terus terang sebagai penggemar. Namun mereka secara terang terangan sering memuji tentang wajah jelitanya. Roni yang sering curi curi pandang, Rusman yang kerap menatapnya tapi merasa minder, atau Minati yang terang terangan mengatakan jika gadis itu secantik dirinya, maka ia akan melamar menjadi bintang film. Dan Rini si mungil yang baru menginjak usia jelang dua puluh tahun yang sering kepergok menatapnya diam diam tapi terkesan memendam sesuatu.


Mungkin gadis itu sedang banyak tugas di kampusnya, begitu pikir Jumini, makanya sering banyak melamun.


Ah seandainya Jumini tahu jika gadis itu sedang merasa terdaungi oleh kecantikan dirimya karena Roni kelihatannya menjadi pemujanya secara diam diam.

__ADS_1


“Menjadi Diri Sendiri …” suara itu muncul begitu saja saat Jumini menhidupkan televisi yang disediakan oleh pemilik rumah kos di dalam kamarnya.


Jumini duduk menonton acara tentang pengenalan jati diri dari seorang yang dulunya terpuruk karena merasa disisihkan oleh lingkungannya.


"Wah kok mirip drngan kisahku disisihkan suami sih bedanya kalau aku," bisik hati Jumini.


Maka Jumini merasa perlu menyimak apa saja yang akan diceritakam sang motivator dalam kesaksiannya peristiwa pada masa lalunya, masa kelam pada kehidupannya sebelum dia berhasil mengangkat dirinya sendiri ke dalam suatu posisi seperti saat ini.


"Wah sepertinya seru ini," bisik Jumini.


Suara televisi dia kecilkan, ran sengaja lampu kamar dia matukan supaya tak ada yang tahu jika dirinya masih menonton televisi.


Dia mendengar suara sandal ditarik bolak balik di depan kamarnya,pasti itu salah seorang diantara sahabat barunya dirumah kos ini yang akan mengajaknya ngobrol lagi.


Setelah suara sandal menjauh barulah Jumini bernapas legah. Bukanya tak mau beramah tamah dengan mereka lagi. Bukan pula tak ingin berkawan lebih dekat lagi. Mereka para muda yang penuh semangat sebenarnya. Tapi dirinya memiliki urusan pribadi yang harus diutamakan untuk dipikirkan.


Jadi urusan pertemanan tunggu dulu, sabar karena bagaimana pun urusan pribadinya yang utama .

__ADS_1


__ADS_2