
Tangan Jumini mengelus raut muka Dahlan. Saat Dahlan diam saja karena pikiran dan perasaannya kompak merasa tak nyaman dengan wajah asing dalam pelukannya tadi, saat itulah Jumini justru mengangkat wajahnya hingga tepat berada di atas raut muka Dahlan.
Dahlan tercekat saat menatap lurus ke wajah cantik Jumini.
"Ohk!" Dahlan merasa sedang berduaan di tempat tidur dengan perempuan lain. Maka seketika keinginannya untuk bersama Jumini hilang sudah.
"Bang," rajuk Jumini. Lalu mencium pipi suaminya.
Dahlan langsung merinding saat menerima ciuman mesra istrinya. Sungguh ia membayangkan bukan Jumini yang sedang menciumnya barusan. Ia merasa dicium oleh perempuan lain. Hal itulah yang membuatnya menjadikan hatinya tak nyaman.
Sungguh Dahlan merasa seperti berada dalam sebuah tempat dengan perempuan yang bukan istrinya.
"Bang," rajuk Jumini.
Semakin menatap wajah Jumini Dahlan semakin tersiksa. Ia semakin merasa tengah bersama dengan perempuan nakal.
"Ohk!" Dahlan langsung terduduk dan menghindari wajah Jumini.
Jumini hanya terpaku tak mengerti. Tiba tiba ia sadar jika wajahnya bukan wajah Jumini yang lama, tapi wajah yang agak condong ke wajah perempuan Korea.
Dahlan bukan menolak wajah Korea Jumini. Itu sangat cantik menurutnya, tapi itu bukan wajah istrinya. Sehingga ia merasa seperti akan bercinta dengan perempuan yang bukan istrinya.
Rupanya hal itu terulang berkali kali dalam beberapa hari ini. Dahlan selalu gagal melanjutkan hasratnya menumpahkan cinta sucinya pada Jumini, karena kendala wajah yang tak familiar baginya, bukan wajah Jumini.
Jumini memendam sedih atas apa yang terjadi pada hubungan mereka sebagai suami istri.
Namun hal itu mereka rahasiakan pada Zanail dan Narsia, hingga kedua orang tua itu pulang ke kampung halamannya, membawa perasaan penuh bersyukur, karena mengira anak dan menantunya harmonis. Dan mereka pun berpesan pada Dahlan dan Jumini supaya segera memberinya cucu.
"Jangan menunda lagi Dahlan, kalian harus memberi kami cucu ..."
Dahlan berusaha tersenyum."Semoga, Pak,"
"Jumi cepat hamil ya, Nak," Narsia mengelus perut Jumini yang rata.
"Ya, Mak," angguk Jumini.
*
Sudah dua minggu antara Dahlan dan Jumini selalu gagal untuk berkasih sayang. Pemicunya adalah karena Dahlan selalu tak bisa melanjutkan kemesraan mereka. Penghalangnya adalah wajah Jumini.
Sehingga hal ini membuat Jumini menjadi tak nyaman. Dan selalu merasa bersalah. Walau pun Dahlan tak menyalahkannya.
"Bang kok aku ini jadi istri sangat tak berguna, ya," ujar Jumini setelah Dahlan gagal dalam kebersamaan mereka untuk yang sekian kali.
Dahlan menatap Jumini, setiap menatap cantiknya Jumini selalu membayangkan perempuan lain sedang bersamanya di tempat tidur. Seketika dia merinding dan menjauh dari istrinya.
Jumini paham akan derita batin suaminya. Walau sedih tapi berusaha untuk tabah. Tapi hatinya sangat tak nyaman menghadapi keadaan yang dia sendiri pemicu ketidaknyamanan sang suami.
"Mungkin Abang hanya butuh waktu saja, Dik," ujar Dahlan pelan. Ia sebenarnya tak tahu, apakah betul hanya perlu waktu untuk bisa menerima wajah baru istrinya.
"Baiklah, Bang, aku berharap Abang bisa menerima rupa baruku ini," dengan manja Jumini menyandar di dada Dahlan.
*
Dahlan mengajak bertemu Sajak di sebuah cafe. Mereka mengopi bersama.
"Hem, bagaimana rasanya punya istri berwajah cantik, pasti sensasinya lain, ya?" Sajak menggoda.
"Hem," hanya itu tanggapan Dahlan.
__ADS_1
"Jadi kau ini beruntung hitung hitung dapat istri baru," goda Sajak lagi.
Dahlan menarik napas panjang.
Sajak mengerling,"Ngomong ngomong boleh dong lihat foto istrimu yang sekarang?"
Dahlan menggeleng, "Aku tak pernah menyimpan foto cantik istriku,"
"Lho kenapa itu kan sudah jadi wajah istrimu?"
Dahlan meneguk kopinya, "Karena aku nggak srek dengan kecantikannya,"
"Oh ya?"
"Ya,"
"Kalau boleh aku ingin wajah lama istriku saja,"
"Begitu?" Sajak menghabiskan kopinya.
"Ya," angguk Dahlan, "Aku Masih mencintainya, tapi aku tak bisa bersamanya sebagai suami istri,"
"Maksudmu?!" Sajak belum paham.
"Ya terus terang saja wajahnya itu membuatku seperti bersama dengan perempuan lain, jika ingin bersamanya aku merasa seperti mau bercinta dengan perempuan lain," jujur akhirnya Dahlan bercerita.
"Oh sampai segitunya?!"
"Ya, aku tak bisa sampai saat ini,"
"Hati hati jangan Karena itu hubungan kalian merenggang," ujar Sajak mengingatkan Dahlan, "Ingat istrimu sekarang jelita katamu, jangan sampai dia kecewa padamu dan ..."
"Sori itu hanya kecemasanku saja, Bro,"
Dahlan menggeleng, "Jumi orang yang sangat kuat Iman, menurutku jauh dari kata nyeleweng, dia hanya ingin cantik itu saja yang menggodanya,"
"Syukurlah kalau begitu," angguk Sajak, "Tapi harus juga kamu hati hati jika ditinggal belayar terlalu lama, dalam keadaan kamu tinggalkan hubungan kalian seperti itu,"
Dahlan terkejut memandang Sajak tajam tanpa suara.
"Maaf kita teman saling mengingatkan," ujar Sajak khawatir Dahlan tersinggung.
"Ya, aku mengerti," angguk Dahlan.
"Kau perlu ke Psikolog, konsultasi,"
Dahlan terkejut.
"Mungkin bisa membantu kesulitanmu,"
"Apa iya?" Dahlan tampak ragu.
"Kurasa kau perlu untuk mengatasi kasus pikiranmu itu," saran Sajak.
"Akan kupikirkan," angguk Dahlan pada akhirnya.
Sedangkan Jumini diam diam merasa bersalah telah membuat suaminya tak bisa menggaulinya, sedang berupaya pula mencari jalan keluarnya. Tapi apa?
Jumini menggeleng bingung. Aku sudah terlanjur berubah, lalu harus bagaimana lagi?
__ADS_1
"Aku Minta maaf, Bang, atau jika kita bersama jangan pandang wajahku," ujar Jumini mengajukan solusi pada Dahlan.
"Dik Jumi tenang sajalah, ini mungkin hanya aku terlalu terobsesi dengan wajah lamamu," hibur Dahlan memeluk istrinya.
"Lalu apa yang harus kulakukan, Bang?" Jumini ingin membantu suaminya supaya bisa menerima wajah barunya dalam kebersamaan mereka.
"Aku akan berusaha,"
"Akan berusaha?"
"Ya,"
Jumini menatap suaminya. Ingin bertanya tapi ia hanya diam saja.
"Tidurlah," segera Dahlan merebahkan dirinya.
Jumini diam diam rebah di samping Dahlan yang tampaknya tak mau duganggu.
*
Maka Dahlan pun mengikuti saran Sajak untuk berkunjung pada seorang Psikolog.
Di hadapan lelaki paruh bayah yang sudah banyak membantu pasien dalam berbagai kasus, yang terjadi pada pola pikir mereka, berceritalah Dahlan tentang apa yang menjadi penghambat kemesraan ya terhadap istrinya.
Sang Psikolog mendengarkan, dan merekam pengakuan Dahlan secara rinci, dan lengkap itu.
"Begitulah, saya sampai saat ini tak bisa menggaulinya sebagai suami," ujar Dahlan.
"Karena wajah istri Anda berubah,"
"Ya,"
"Alasannya?"
"Saya merasa mencumbu perempuan lain yang bukan istri saya,"
"Tapi suaranya milik istri Anda, toh?" Harjono M.Psi menatap Dahlan.
"Sama dengan suara asli istri saya tak berubah,"
"Fisiknya?"
"Tak berubah saya Rasa, hanya kulitnya kini putih bersih, itu pun membuat saya agak risih,"
"Bisa lihat wajah asli istri Anda dan wajah setelah operasi?"
"Ini," Dahlan memberikan dua foto Jumini yang asli dan setelah operasi.
"Total berubah, ya," angguk Harjono.
"Ya,"
Harjono paham jika Dahlan merasa istrinya adalah orang lain. Dengan perubahan wajah sang istri telah memunculkan suatu rasa janggal, dan risih karena merasa tidur dengan perempuan lain. Perasaan itulah yang memicu pikiran Dahlan merasa enggan lagi menyentuh istrinya.
"Perasaan Anda telah dipengaruhi pikiran yang kuat. Bahwa Anda mengutamakan visual atau penampilan luar yang telah Anda kenali, daripada bagian dalam yang tak berubah,"
"Ya, Pak,"
"Sosok istri sudah terekam dalam sanubari Anda. Tak heran jika pemikiran Anda mengomando diri Anda tetap pada sosok lama istri Anda. Itu wajar saja,"
__ADS_1
Bersambung