
Zainal segera menghubungi Dahlan memberitahu rencana keberangkatan kedua orang tua menantunya itu.
"Menurutmu bagaimana ya, Dahlan mengingat perubahan pada wajah Jumi, sedangkan kami belum memberitahukan tentang itu, rasanya belum siap untuk berterus terang. " Zainal sangat cemas saat memberitahukan rencananya kedatangan besannya ke Jakarta.
"Ya Dahlan Emak juga cemas bagaimana jika kedua orang ruamu kecewa pada tindakan nekat Jum anak Emak," sambung Narsia tak kalah cemas dari suaminya. Perempuan itu khawatir kedua besannya menolak Jumini, lalu meminta Dahlan menceraikannya, bagaimana ini?
Pasti desas desus akan menyebar di kampung mereka. Jumini dicerailan karena operasi plastik. Bukankah kedua mertua anaknya itu adalah seorang Hajiyang sangat paham hukum hukum agama?
"Bapak sudah memberitahu saya barusan, Pak, entah saya belum berani berterus terang yentang Dik Jumi," ujar Dahlan yang masih merahasiakan pula pada mertuanya jika Jumini pergi entah kemana.
"Ya pada akhirnya Bapak dan Emak disini tak bisa berbuat apa apa jika kedua orang tuamu tak bisa menerima keadaan Jumini anak kami, walau kami berharap semoga kalian berjodoh dengan jodoh yang telah ditetapkan oleh Allah," suara Zainal pasrah.
"Semoga kita semua bisa mengambil jalan keluar yang baik," ujar Dahlan tak merinci lagi karena dia juga dalam keadaan bingung kalut, karena yang menimpa dalam rumah tangganya betul betul diluar kendali pemikiran dan perasaannya.
"Ya Bapak dan Emak juga hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi, biarlah kedua orang tuamu yang menilai tentang Jumini, kami hanya bisa pasrah."
Dahlan paham jika kedua mertuanya seresah seperti saat ini. Karena Haji Ali dan istrinya Hajjah Narimah tertarik pada Jumini untuk dijadikan menantu ru karena keseharian peeempuan itu yang apa adanya. Sederhana dan ramah.
Dua tahun yang lalu.
"Anak perempuamnya Pak Zainal itu sangat Ibu suka, dia sederhana tapi ramah. Ngajinya khatam Qur-an tiga kali, dia juga ngajari ngaji anak anak sekitar sini, rasanya pas kalau dijadikan iatri," ujar Haji Narimah tentang Jumini, saat itu Dahlan pulang kampung setelah melaut hampir sepuluh bulan.
"Ya kalau cari istri itu yang penting tingkah lakunya baik, terlebih kamu seorang pelaut, ya harus memiliki istri soleha, suami belayar istri berdoa dan setia ditinggal di rumah, jangan suami belayar istri kelayapan nggak karuan," sambung Haji Ali menimpali ucapan sang istri.
Rupanya gayung bersambut. Karena diam diam Dahlan pun naksir pada Jumini.
Sebulan kemudian Dahlan dan orang tuanya melamar Jumini untuk dijadikan istri.
"Dahlan ini kan mencari istri, jadi bagaimana sekiranua tak usah berlama lama pertunangannys, jadi bulan depan diselenggarakan pesta peenikahannya, karena khawatir Dahlan dapat panggilan kerja," usul Haji Ali saat selesai acara lamaran.
__ADS_1
Suami istri Zainal saling tatap, lalu menoleh pada Jumini. Gadis itu menunduk malu malu saat tatapan matanya bertemu dengan mata Dahlan.
Pernikahan pun dilaksanakan dengan meriah.
"Jumi mantu Ibu jaga keharmonisan kalian, ya," pesan Haji Narimah merangkul Juminipenih sayang saat mengantar anak dan menantunya ke Bandara untuk berangkat ke Jakarta.
"Ya Ibu," angguk Jumini dengan bola mata berbinar.
"Dahlan jaga dirimu nanti kalau sudah belayar, jangan jadi pelaut yang sok sok an, jaga diri dari rayuan perempuan cantik yang hanya akan membuatmu merugi. Rugi di hadapan Allah karena yelah berzinah, juga bisa membuat rumah tangga berantakan. Karena mengkhianati istri itu akan menutup rejeki kita sendiri ..." nasehat Haji Ali pelan tapi mendalam pada Dahlan.
Sedangkan kedua mertua Dahlan lebih banyak menjejali nasehat pada Jumini untuk menjadikan putri mereka seorang istri yang berbakti dan membanggakan suami.
Tapi kini ternyata malapetaka terjadi pada rumah tangga Dahlan yang tak kurang kurangnya dari petuah orang tua mereka masing masing.
Kita kembali ke Dahlan.
"Bagaimana ini, apa kata mereka jika tahu tentang perubahan Dik Jumi?" Dahlan sangat resah memikirkan keterkejutan kedua orang tuanya. Mereka pasti tak bisa menerima perubahan yang terjadi Jumi, batinnya dengan cemas bakalan kecewa berat kedua orang tuanya atas apa yang telah dilakukan Jumi istrinya.
Lain Dahlan lain pula Hajjah Narimah. Perempuan itu dengan hati berbunga meninggalkan pasar dengan belanjaan yang cukup banyak.
Membeli daun pisang serta ketan dan kelapa parut untuk persiapan membuat lemper, atau buras yang terbuat dari ketan dan santan, kesukaan Dahlan juga Jumini.
Membeli banyak ikan bandeng dan tongkol untuk dijadikan ikan kering berbumbu, hingga nanti sang menantu di Jakarta tinggal menggoreng saja.
Bukan hanya ikan kering berbumbu dan buras yang terbuat dari ketan dan santan kental, tapi ada sele pisang, dodol, serta kue kering lainnya.
Jika buras ketan dan ikan kering dibuat oleh tangan Hajjah Narimah sendiri, namun untuk urusan selai pisang dan kue kering serta dodol dia tak punya waktu. Jadi memesan pada penjual yang hasil olahannya sudah menjadi favorit banyak orang.
Haji Ali senyum senyum melihat antusias sang istri dalam persiapan untuk membuat buras dan mbuat ikan berbumbu yang akan dikeringkan. Karena mereka tak punya anak selain Dahlan, maka pwkerjaan itu mereka lakukan berdua, walau sebenarnya mereka bisa minta bantuan keponakan yang tinggal di samping rumah. Tapi mereka memilih untuk mengerjajkannya bedua saja untuk oleh oleh anak dan menantunya.
__ADS_1
Jumini di trmpat barunya menerima kedatangan Minati dam Rini, serta Rusman serta Roni. Mereka berempat berdiri di depan pintu kamarnya setelah atraksinya ketuk pintu dibuka.
"Hai maaf mengganggu," seru Minati yang merasa paling senior,bukankarena segi umur, tapi ngekos di tempat itu merasa lebih lama, sudah tiga tahun sejak diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta.
"Hai," balas Jumini ramah. "Senang kok kalian datang menyapa," Tak hanya menatap Minati, tapi memandang mereka semua secara keseluruhan dengan senyum manis dan ramah, yang membuat mereka semakin terkesima melihat dari dekat kecantikannya, apalagi ditambah senyumnya.
"Aky Minati," bukan sekedar menyebut nama, namun menyalami Jumini.
"Ya aku Jumi," balas Jumini.
"Assalu'alaikum, " ujar Rusman ramah.
"Wa'alaikum salam," balas Jumini.
"Aku Rusman" tak mau kalah Rusman pun mengulurkan tangan.
"Hai Rusman," balas Jumini.
Rusman terkesima melihat kecantikan bak boneka. Ah, kalau saja aku berduit sudah kubawa pulang ke kampung untuk dikenalkan pada orang tuanya, daripada nanti dijodohkan dengan Maryamah anak tetangga yang badannya bongsor alias gemuk, pikirnya.
"Hai ngelamun ..." goda Jumini.
"Oh ya ..." nyengir Rusman menyadari belum apa apa sudah mengkhayal mau membawa sibJumi ke kampungnya.
"Hai Mbak Jumi ..." Roni si pemuda dua puluh tahun langsung saja menyerobot mengulurkan tangannya, "Aku Romi, walau baru dua puluh tahun dan semester empat, tapi termasuk coeok yang bertanggung jawab ...."
"Hai aku suka dengan cowok bertanggung jawab," ujar Jumini menggoda Roni yang cengar cengir membuat Rini gadis seusianya merasa menfapat saingan berat, kan diam diam dia naksir Roni.
"
__ADS_1