
Jumini terbelalak. Spontan meraba kedua matanya. "Astagfirullahal Adzim ini ini mata saya asli saya, Pak ...!"
"Karena Pak Dahlan berdasarkan laporan orang tua Ibu Jumini jika sepasang mata Saudari mirip dengan mata putrinya, maka timbul dugaan Anda telah mengambil kornea Mata Ibu Jumini yang asli," ujar polisi membuat tubuh Jumini bergetar.
Manamungkin tuduhan pada dirinya sedemikian kejinya. Dituduh menyembunyikan Jumini, yang tak lain dirinya, dituduh mencuri uang, sekarang dituduh pula dengan sadis bahwa dirinya telah mengambil mata milik Jumini.
Ya ampun segitunya mereka tak percaya padaku, hingga satu persatu tuduhan itu bermunculan?
"Saudari boleh mengelak, tapi saat hasil tes DNA antara Anda dengan Bapak Zainal dan Ibu Narsia keluar dan ternyata kalian tidak ada hubungan pertalian darah, tentu Anda akan diproses lebih lanjut, dan tak main main karena penculikan dan pencurian uang serta pengambilan kornea mata Ibu Jumi akan tertuju pada Anda, dan tentu kami akan memproses Anda dengan peningkatan kasus tentunya. Jika sebelumnya masih berdasarkan laporan suami korban, tapi nanti akan ditingkatkan menjadi tindak kriminal,"
"Ohk!" Terperanjat Jumini. Ngeri mendengar kata kriminal yang bisa diselamatkan pada dirinya, jika hasil tes itu negatif.
"Bapak Polisi, percayalah saya ini Jumini asli, yang biasa dipanggil Jumi. Ini badan saya milik Jumi istrinya Abang Dahlan, hanya wajah saya yang berubah, serta kulit sawo matang saya yang menjadi bersih, itu semua karena operasi yang menghabiskan yang satu miliyar dua ratus lima puluh juta lebih, yang saya ambil dari rekening saya sendiri. Tapi saya juga dituduh mencuri uang saya hasil pemberian suami saya."
Tersengal Jumini karena berusaha untuk menjelaskan hal yang sebenarnya. Hal yang telah ia ceritakan sebelumnya.
"Tuduhan itu sangat kejam. Artinya saya membunuh Jumini, atau mencuri kedua Mata Jumini, yang tak lain saya sendiri orangnya," ujar Jumini setelah beberapa saat mengambil napas.
"Kita buktikan saja nanti," ujar polisi dengan sikap seolah tak percaya pada ucapan Jumini.
"Pak Polisi saya ini bukan orang sadis mencuri mata orang. Huh!" Bergidik kedua bahu Jumini.
"Ya semua akan terbukti nanti," ujar polisi.
"Saya berani sumpah, Pak!" Jumi bersikap sangat serius.
"Ya kumpulkan tenaga Anda untuk menghadapi kasus yang akan ditingkatkan jika tes DNA itu meleset!" Ujar polisi penyidik itu menatap Jumini dengan pandang sangat membuat perempuan di depannya ngeri walau ia merasa dirinya adalah Jumini asli.
"Pak Demi Allah sayalah Jumini itu!" Jumini hampir menangis.
Polisi yang memeriksa Jumini berdiri.
"Pak Percayalah saya ..."
__ADS_1
"Sudah waktunya kami harus berhadapan dengan kasus lain," ujar polisi itu lalu memandang pada polisi wanita yang mengawal Jumini
Polisi Wanita itu mengangguk lalu segera membimbing Jumini yang masih terisak di kursinya.
"Mari Bu," ajak polisi wanita itu ramah.
"Kenapa semua tak percaya pada keterangan saya, Bu Polisi?" Suara Jumini tampak putus asah.
"Ibu harus menunggu hasil tes DNA dulu, dan selanjutnya penyelidikan diteruskan atau dihentikan tergantung pada hasil tes itu,"
Tapi ternyata Dahlan merencanakan untuk menghubungi langsung klinik tempat Jumini melakukan operasi plastik.
Hal itu sudah dirundingkan dengan pihak kepolisian. Maka Dahlan akan berangkat ke Korea dengan pendampingnya polisi. Dikhawatirkan pihak klinik merahasiakan pasiennya jika tak didampingi polisi.
Maka bersama polisi penyelidikan tentang operasi Jumini akan transparan.
"Pak Dahlan mau berangkat ke Korea setelah keluar hasil tes DNA atau sebelumnya?" Polisi menatap Dahlan.
"Sebaiknya sebelum hasil tes DNA keluar, Pak,"
"Sebaiknya kita berangkat hari ini saja, saya sudah menghubungi pihak penjualan ticket," ujar Dahlan.
"Baiklah seorang polisi akan mendampingi Bapak," angguk polisi itu.
"Terima kasi, Pak," angguk Dahlan merasa belum puas jika belum mendatangi klinik tempat Jumini operasi plastik.
Malam harinya Jumini tak bisa tidur. Ia gelisah jelang pengumuman hasil tes DNA nya. Tentang keberangkatan Dahlan ke Korea ia tak tahu. Itu misi rahasia Dahlan yang tak main main dalam menyingkap kasus istrinya yang tak berjejak.
"Sudah tidur Dik Jum, pasrah Dan yakin tes itu berhasil jika memang Dik Jumi ini adalah Jumini yang asli," ujar Deli membujuk Jumini yang masih duduk memeluk lutut, padahal malam sudah berlalu lebih dari separuh waktu.
"Mbak saya takut Allah menghukumku," pelan suara Jumini.
"Menghukum?!" Delia yang semula tiduran langsung duduk menatap Jumini.
__ADS_1
"Aku kan sudah membuang wajah asliku, wajah pemberian Allah, tak terima apa adanya, lalu melakukannya tanpa ijin suami, menghabiskan uang suami, lalu membuat suami sedih, orang tua terpukul, bukankah itu perbuatan tercelah yang tak disukai Allah?"
Deli tercengang atas ucapan Jumi Nah, tuh tahu, kenapa baru menyadari ya sekarang? Batinnya.
"Aku takut Allah murka, lalu menegatifkan hasil tes DNA itu atas apa yang telah kulakukan," sangat sedih Jumini, "Jika Allah berkehendak semuanya akan terjadi ..." Seadanya, "Ya Allah ampunkan hambaMu ini. Apa yang hamba lakukan semata mata untuk menyenangkan hati suami hamba, ingin membuatnya bangga dan senang memiliki istri cantik. Tapi hamba Salah ya Allah, hamba khilaf ..." bergetar suaranya. Hatinya dikuasai Rasa takut teramat sangat.
"Dik Jumi, dirimu sudah mengakuinya khilaf Dik Jumi. Semoga Allah membuka pintu maaf, dan percayalah Allah tak sekejam itu menghapus hubungan darah anak dan orang tua. Allah Maha Segalanya," dirangkulnya pundak Jumini.
Jumini mengangguk."Ya, Bu saya percaya Allah Maha Pengasih dan penyanggah,"
"Nah begitu biar hatimu tenang," ujar Deli yang masih saja berusaha menguatkan hati Jumini walau dirinya terancam hukuman. Baginya jika masih berguna bagi orang lain kenapa tak ia lakukan. Masalah kesalahannya biar Polisi yang menanganinya, dan semoga Pula Tuhan mengampuni apa yang telah diperbuatnya.
*
Hari ini Zainal dan Narsia akan ke kantor polisi guna mendengar hasil tes DNA yang akan dikirim oleh rumah sakit ke Kantor polisi.
Berhubung Dahlan masih dalam perjalanan pulang dari Korea, maka maka mereka hanya berdua saja. Diperkirakan Dahlan baru sampai malam hari. Perjalanan pulang pergi yang memakan waktu belasan jam itu, membuat Dahlan tak bisa hadir tepar waktu. Tapi pihak kepolisian akan langsung mengirim hasil tes DNA ke ponselnya.
Jumi duduk dikawal polisi wanita dengan wajah menunduk tak berani memandang pada bapak dan ibunya.
Sedangkan Narsia yang semula sepasang mata Jumini dekat dengan dirinya, kini justru merasa sangat benci pada Jumini yang telah dituduh mengambil dua kornea mata putrinya.
"Sadis ya kau!!" Sengitnya saat matanya dan mata Jumini bertemu.
"Biar kuculek matanya kuambil lagi Mata anakku!!" Seru Zainal langsung menimpali saat melihat istrinya buang muka dari pandangan Jumini.
"Ya Allah ini Mata Jum asli, Mak, Pak," ujar Jumini tapi hanya diucapkan dalam hati. Ia takut mengeluarkan suara mengingat bapaknya sudah pernah mencakarnya. Apalagi sekarang mereka menuduhnya mengambil kornea nata anak mereka. Pasti dirinya dituduh sebagai perempuan sadis yang super tega.
Polisi penyidik menerima surat tertutup berlogo rumah sakit tempat Jumini dan kedua orang tuanya melakukan tes DNA.
Jumini berdebar mamandang amplop tertutup itu. Sedangkan suami istri Zainal tak berkedip tatapannya pada tangan polisi memperlihatkan Surat amplop surat yang disegel.
*
__ADS_1
Bersambung