Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Hati Yang Tersiksa


__ADS_3

Delia mendengarkan cerita Jumi yang datang membesuknya. Perempuan itu masih di tahanan polisi. Kasusnya belum selesai. Masih akan dilanjutkan pada tahap lebih tinggi lagi.


"Maaf ya Dik Jumi aku tak bisa membesukmu di rumah sakit,"


"Tak apa, Bu, Kan lagi di sini," ujar Jumi.


"Tapi selamat, ya, Dik Jumi sudah tenang sekarang. Sudah kumpul dengan suami. Aku ikut senang. Minimal jangan mengalami seperti aku yang belum jelas nasibnya."


"Ya semoga cepat selesai, ya, semoga mendapat kemudahan," harap Jumi.


"Aamiin Dik Jumi," angguk Delia, "Wah sudah Bulan Madu dengan suami, bagaimana suami semakin sayang, kan?" Lanjut perempuan yang tak ingin terlalu larut dalam kesedihannya dalam kasusnya yang sudah akan masuk ke persidangan,"


Tiba tiba Jumini i menunduk dengan wajah sedih, "Suami saya tak bisa mesra pada saya, Bu,"


"Kok?!" Delia terbelalak, "Sudah cantik begini kok masih ditolak?"


"Ya, kami selalu gagal untuk melakukan hubungan suami istri karena suami saya merasa bersama perempuan lain,"


"Karena wajah Dik Jumi berubah?"


Jumini mengangguk, "Itu bukan salah suami saya, Bu, tapi salah saya," tampak sedih suara Jumini.


"Lalu bagaimana kalau suami istri tapi nggak berhubungan ?"


"Entah, Bu, saya juga bingung. Saya sudah bilang pada suami saat berhubungan nggak usah mandang wajah saya,"


"Bisa saja Dik Jumi ini," tersenyum Delia mendengar ucapan Jumini.


"Ya itu solusi yang saya berikan, Bu,"


"Sabar ya, Dik Jumi,"


"Oh ya Bu, Mbak Lia apa pernah ke sini, saya masih menyimpan nomer ponselnya, "Maksud saya ingin berunding dengan Mbak Lia, bagaimana caranya bisa menolong Ibu Delia,"


Delia tersenyum, "Dik Jumi ini orang yang sangat baik, semoga niat baiknya mendapat ganjaran dari Allah,"


"Aamiin, Bu,"


"Mbak Lia sudah kemarin dua hari lalu bersama pengacara dari Komnas Perempuan, sudah mencatat semua kasusku, Dik, mereka akan berusaha meringankan hukumanku , atau bebas bersyarat, atau hukuman rumah,"


"Alhamdulillah, Bu," sangat senang Jumini mendengarnya.


"Ya karena aku ini korban dari kekerasan rumah tangga suamiku, korban perselingkuhan suamiku, makanya mereka ingin membantuku," ujar Delia dengan wajah berseri, "Mulanya aku sudah pasrah, dan dihukum pun pasrah, tapi rupanya ada pertolongan datang,"


"Ya, Bu, saya ikut senang mendengarnya.


Saat akan pulang Jumini menyerahkan satu box makanan ringan, serta satu bungkus untuk makan malam, beserta dua botol air minum.


"Wah terima kasih, Dik," sangat senang Delia menerima pemberian Jumini.


"Ya, Bu, maaf sangat terlambat perhatian saya ini," ujar Jumini malu malu.


"Kita sama sama punya kasus, ini sudah luar biasa perhatiannya," ujar Delia.

__ADS_1


Saat melewati pos penjagaan untuk pulang, Jumini bertemu dengan polisi wanita yang waktu dirinya sebagai tersangkah, si polisi wanita sangat perhatian pada dirinya.


"Selamat sore Ibu Polisi," sapa Jumini.


"Wah Ibu Jumi, apa kabar?" Balas polisi wanita itu senang bisa bertemu Jumini lagi.


"Baik, Bu,"


"Alhamdulillah semua urusan Ibu akhirnya berjalan lancar, dan Ibu sudah kumpul dengan suami,"


"Alhamdulillah, Bu, terima kasih dan maaf sudah merepotkan," angguk Jumini. Jika pada Delia ia menceritakan kondisi rumah tangganya, namun tidak pada polisi wanita ini.


"Sama sama, Bu Jumi, sudah tugas saya. Yang penting sekarang Ibu sudah bersama suami dan keluarga lagi," tersenyum polisi wanita itu, "Oh ya Ibu darimana?"


"Bertemu Dengan Ibu Delia,"


"Oh begitu,"


"Mari Bu Polisi," pamit Jumini.


"Silahkan, Bu, hati hati,"


Jumini mengangguk dan tersenyum, lalu bergegas meninggalkan kantor polisi.


*


Dahlan berjalan mondar mandir di kamarnya. Percakapannya dengan Harjono M.Psi terus diingatnya.


"Pikiranku memang mengomando seluruh perasaanku tak bisa menerima wajah baru Jumi," gumam hati Dahlan tentang usahanya yang tak berhasil menerima kenyataan untuk bisa menerima istrinya dalam keadaannya sekarang.


"Ya," sungguh Dahlan tak pernah mau menatap wajah istrinya jika berbicara.


"Maaf, Bang, tadi jalanan macet, jadi aku terlambat pulang," Jumini semakin mendekat.


Dahlan pura pura membuka lemari untuk menghindari wajah Jumini.


"Cari apa, Bang?" Jumini berdiri di belakang Dahlan.


"Cari Kaos Abang," asal bicara Dahlan.


"Biar aku yang ambilkan , Bang,"


"Biar aku saja, Dik,"


"Ya sudah aku ke dapur dulu mau buat teh untuk Abang," segera Jumini keluar kamar.


Dahlan menutup lemari, menarik napas lega, lalu melangkah ke kursi Dan duduk di sana.


"Ya Allah ampunkan hamba jika hambaMu ini bersalah dan berdosa karena merasa sangat tersiksa setiap melihat wajah baru istri hamba," keluh Dahlan.


"Bang teh sudah jadi," muncul Jumini di pintu memandang pada Dahlan.


"Ya Tuhan setiap melihat wajahmu Abang merasa risih," batin Dahlan, lalu pura pura mencari sesuatu di saku celananya, otomatis ia memandang pada saku celananya, "Ya sudah taruh di luar saja," ujar Dahlan.

__ADS_1


Jumini membawa teh manis panas ke meja di ruang tengah. Lalu mengambil cemilan roti diletakkan di dekat gelas teh untuk Dahlan.


Sebelum duduk ia menyalahkan televisi, dan duduk di sofa menunggu Dahlan.


Yang ditunggu muncul. Jumini tersenyum menyambut Dahlan yang mendekat.


Dahlan pun tersenyum, tapi ada yang mengganggu jiwanya saat melihat senyum Jumini. Maka segera ia berpaling ke tempat lain.


Dahlan duduk di Sofa bersebelahan dengan Jumini. Ia tak mau berhadapan dengan istrinya untuk menghindari memandang wajah Jumini. Dirinya akan terus semakin tersiksa jika semakin sering menatap Jumini.


Mereka minum teh bersama dan makan roti bersama pula. Tapi setiap percakapan berlangsung Dahlan kerap tak mau menatap wajah Jumini.


"Tehnya cukup manisnya ya, Bang?" Jumini menatap suaminya.


"Ya cukup," angguk Dahlan meneguk beberapa kali teh buatan Jumini, lalu melanjutkan menikmati roti tawar bakar isi mentega buatan istrinya.


walau suara Dahlan tetap tak berubah, tapi Jumini merasa ada yang lain pada diri suaminya.


"Kenapa ya setiap ngomong Bang Dahlan tak mau memandangku?" Batin Jumini lalu melayangkan pandangannya pada Dahlan.


Saat pandangannya bertemu dengan tatapan suaminya, segera Dahlan pura pura menoleh ke tempat lain.


"Ih Bang Dahlan menghindar lagi," keluh Jumini tanpa suara.


Begitulah berhari hari keadaan Dahlan dan Jumini. Tidur tanpa kemesraan suami istri.


"Bang kenapa kok bisa begitu berubah padaku, apakah tak bisa belajar menerimaku dengan wajah begini?" Karena sudah tak tahan, dengan wajah sedih Jumini pun bertanya pada suaminya.


Dahlan hanya menghela napas panjang. Diam tak mau menjawab.


"Bang,"


"Ya,'


Jumini lebih mendekat, justru membuat Dahlan sangat tersiksa saat Jumini dengan manja memeluknya, lalu menengadahkan wajah cantiknya di bawah dagu Dahlan.


Bergidik Dahlan saat mereka saling tatap. Segera berpaling untuk menghindari wajah Jumini.


"Bang Dahlan betul betul tak mau dengan wajah barumu, lalu Aku harus bagaimana?" Batin Jumini merasa sedih dan tersiksa juga jika keseharian mereka suaminya merasa tak nyaman dengan dirinya.


"Bang,"


"Hem," walau enggan melihat wajah istrinya, namun Dahlan tak sampai hati untuk menolak Jumini memeluknya.


"Abang merasa tak nyaman denganku, ya?" Jumini merasa ibah melihat suaminya kerap menghindari tatapannya.


"Abang masih belum bisa, Dik, maafkan Abang," jujur Dahlan.


"Aku Minta maaf, ya, Bang,"


"Sudah terjadi," ujar Dahlan hanya menatap Jumini sesaat, lalu sibuk dengan ponselnya.


Mau tak mau Jumini mengalah. Hanya menatap dengan rasa bersalah pada Dahlan yang semakin sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Bersambung


"


__ADS_2