Istriku Bukan Boneka

Istriku Bukan Boneka
Bab 12 Menuju Tes DNA


__ADS_3

Untuk menjaga kemungkinan yang tak diinginkan, segera polisi wanita mendekat pada Jumini


"Kursi Ibu agak ke sini saja,"


Jumini segera berdiri dan polisi wanita segera memindahkan kursi untuk Jumini agak berjarak dengan kursi yang akan diduduki pasangan Zanail dan Narsia. Kesempatan itu dipergunakan oleh Jumi untuk mengipas ngipaskan karton ke wajahnya yang perih.


Zainal dan Narsia sudah duduk di kursi Di hadapan polisi yang memeriksa Jumini. Untuk berjaga jaga, maka polisi pendamping berdiri di belakang pasangan itu. Sedangkan polisi wanita tetap konsisten berdiri di belakang Jumini.


"Kami meminta Bapak dan Ibu didatangkan ke Jakarta adalah untuk dipertemukan dengan Saudari Jumi," polisi memandang suami istri Zainal, "Tapi Bapak dan Ibu jelas menolak mengakui Saudari Jumini sebagai anak kandung. Nah untuk itu harus ada Upaya dan solusi pembuktian


Polisi yang duduk di hadapan Narsia dan Zainal mulai melaksanakan tugasnya, setelah menyaksikan tragedi di dalam ruangan, dimana suami orang istri hampir saja berbuat anarkis terhadap Jumini, si cantik tertuduh sebagai pencuri dan menyembunyikan Jumini asli.


"Bapak Dahlan silahkan kursinya dimajukan. Sebagai pelapor supaya Bapak bisa menyimak apa rencana hari ini,"


"Ya Pak Polisi," angguk Dahlan berdiri, lalu membawa kursi yang didudukinya. Kursi diletakkan di sebelah Zainal, hingga ia duduk berdekatan dengan Bapak mertuanya.


"Baiklah kita mulai," ujarnya, "Kami harap Bapak dan Ibu bisa menyimak dan tidak boleh menyela sebelum polisi menyelesaikan penjelasan terkait hilangnya seorang perempuan bernama Jumini, dan juga ada yang mencuri uang tabungannya sebesar satu miliyar dua ratus lima puluh juta rupiah."


Zainal dan Narsia yang sudah diingatkan polisi berdiam menunggu sampai polisi menyelesaikan penjelasannya.


"Bapak Zainal dan Ibu Narsia," seru polisi.


"Ya Pak ..." Sahut kedua suami istri itu bersamaan.


"Kami dari kepolisian telah menerima laporan dari Bapak Dahlan, bahwa beliau kehilangan istri dan tabungan sebesar yang saya sebutkan tadi. Betul Pak Dahlan?" Polisi menatap Dahlan.


"Ya betul Pak Polisi," angguk Dahlan.


"Tertuduhnya adalah Saudari Jumi," lalu polisi menoleh pada Jumini yang tampak bersedih campur meringis, karena merasakan kulit wajahnya perih akibat cakaran Zainal.


"Benar Pak,"


"Saudari Jumi atau Jumini," seru polisi pada Jumini.


"Ya Pak Polisi," sahut Jumini cepat.


"Betul anda mengaku sebagai istri Pak Dahlan yang bernama Jumi atau nama lengkapnya Jumini?"

__ADS_1


"Ya," angguk Jumini yakin.


"Jelaskan kenapa Anda mengaku sebagai Jumini, di sini ada kedua orang tua Saudari Jumini,"


Jumini menatap pada bapak dan ibunya yang juga tengah memandanginya penuh selidik.


"Sayalah Jumini itu, berdasarkan bukti yang ada pada diri saya, kecuali perubahan warna kulit saya dari sawo matang berubah putih bersih, dan wajah saya jauh lebih cantik dari aslinya," ujar Jumini dengan penuh semangat, "Saya sudah jelaskan pada suami saya," menoleh pada Dahlan.


Tapi Dahlan memalingkan mukanya tak hendak beradu pandang dengan Jumini yang sangat asing dengan dirinya.


"Bahwa saya berubah begini karena saya operasi plastik merubah wajah saya. Saya melakukan semuanya karena ingin supaya membuat suami saya lebih bangga dan bahagia memiliki istri cantik,"


Tentu saja Zainal dan Narsia terkejut oleh pengakuan Jumini. Mereka saling tatap dengan tegang.


"Saya tidak mencuri sudah saya jelaskan, karena uang di tabungan itu pemberian suami saya. Saya mengambil tabungan untuk biaya operasi wajah ke Korea ..." Lanjut Jumini.


Narsia menyentuh tangan Zainal, "Pak,"


"Mak apa apaan ini?!" Zainal merasa bingung mendengar pengakuan Jumini.


Narsia dan Zainal memperhatikan Jumini. Apa yang diucapkan perempuan itu benar adanya, tapi mungkinkah perempuan cantik itu anaknya?


Jumini menatap pada Zainal dan Narsia, "Bapak dan Emak maafkan Jumi yang sudah melakukan operasi wajah secantik ini. Jumi pikir ini kejutan, tapi justru malapetaka. Sekali lagi Jumi minta maaf," berlinang air Mata Jumini masih menatap kedua orang tuanya. Setiap tetesan air mata yang menuruni pipinya, setiap itu pula rasa perih seperti pisau mengiris iris kulit wajahnya yang iritasi setelah dicakar bapaknya tadi berulang kali.


"Masa dia anak kita, Mak?" Zainal berbisik pada Narsia.


"Entah, Pak, Emak jadi bingung, sinar matanya sih memang milik Jumi," balas Narsia berbisik. Lalu menoleh pada Jumini, benarkah itu si Jumi? Kenapa pula dia melakukan operasi segala? Narsia mulai goyah.


"Saya Minta maaf, Mak, Pak, karena lalai dengan nasehat Emak, bahwa cantik rupa itu tak penting yang penting hati dan kelakuan kita," ujar Jumini mengulang nasehat emaknya dulu.


Narsia terkejut mendengar ucapan Jumini. Apa yang dikatakan perempuan itu memang pernah dinasehatkan pada putrinya dulu.


"Hati hati jangan terpengaruh ucapan perempuan itu, Pak, Mak," ujar Dahlan mengingatkan kedua mertuanya yang dilihatnya mulai bimbang, raut muka mereka menunjukkan jika sedang bingung, tak lagi terlihat marah seperti sebelumnya.


"Untuk mempersingkat penyelidikan ini, dan supaya lebih akurat, maka kami dari pihak kepolisian sepakat untuk melakukan tes DNA antara Bapak dan Ibu dengan Saudari Jumini,"


Dahlan mengangguk angguk. Ia merasa senang karena pasti perempuan yang telah menyembunyikan istrinya tak bisa mengelak lagi jika dia itu penipu.

__ADS_1


Sedangkan Jumi mengangguk penuh semangat. Hasil tes akan menunjukkan jika dirinya memang ada keterikatan hubungan darah dengan Bapak dan ibunya. Dengan demikian maka Dahlan sebagai suaminya tak bisa menalaknya lagi.


"Tes DNA?" Desis Zainal.


"Ya satu satunya jalan pembuktian apakah Saudari Jumi ini memang Ibu Jumini putri Bapak dan Ibu," angguk polisi.


"Caranya bagaimana Pak Polisi?" Narsia menatap polisi dengan tatap penuh rasa ingin tahu.


"Nanti dokter atau petugas medis di rumah sakit yang menentukan. Kami akan menunjuk rumah sakit tempat Ibu dan Bapak serta Saudari Jumi untuk melakukan tes DNA, bagaimana, Bu, Pak?"


Zainal dan Narsia bersamaan memandang pada Dahlan.


Dahlan mengangguk, "Tak Ada jalan lain, Post, Mak,"


"Jika nanti hasil dari tes keluar harap semua tidak menolak, Karena tes DNA ini hasil akurat dan sangat dipercaya kebenarannya. Nanti Jika hasil tes positif artinya Saudari Jumi memang putri Bapak dan Ibu serta istri Bapak Dahlan, tapi jika hasilnya negatif, itu berarti Saudari Jumi ini palsu dan harus mempertanggung jawabkan semua yang telah dituduhkan Bapak Dahlan." Polisi menatap Jumini.


Jumi diam diam tersenyum mendengar keterangan polisi. Ia ingin tes DNA dilakukan secepat mungkin.


"Bagaimana, Pak?" Polisi menatap Zainal.


Zainal menoleh pada Dahlan.


Dahlan yang meyakini bahwa perempuan itu Jumi palsu mengangguk.


"Ya saya bersediah," angguk Zainal.


"Lalu Ibu?" Polisi memandang Narsia.


"Ya saya mengikuti apa kata suami,"


"Baiklah semua pihak setuju, maka sore ini kita akan bersama ke rumah sakit," ujar polisi.


Jika Zainal dan Narsia satu mobil dengan Dahlan, maka Jumi dikawal tiga polisi dalam satu mobil. Polisi wanita yang selalu mendampinginya duduk di sebelahnya, serta dua polisi yang mengawal kasusnya turut mengawalnya pula.


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2