
"Tapi kau harus dapat gadis. Dapat yang tulen, asli supaya nggak penasaran sama rasa perawan ..." tertawa Dahlan.
"Maunya begitu, tapi tergantung pemberian Tuhan," ujar Sajak santai.
"Bicara kita sama dengan doa. Bicara tentang perawan saja kau!" Dahlan seperti menekankan pada Sajak.
"Ya maunya memang aku yang pertama untuk istriku ..." Sajak tersenyum.
"Lalu dirimu juga yang pertama untuk istrimu, bisa?" Dahlan mengerling.
"Abang yang pertama untuk istri Abang?" Sajak senyum menggoda.
"Alhamdulillah aku bisa menjaga diriku walau sudah bertemu dengan berbagai type perempuan, hati hati kau kalau ada perempuan cantik bisa naik ke kapalmu,"
"Hebat si Abang ini, aku juga akan bertahan," ujar Sajak tertawa.
"Harus tahan godaan,"
"Sudah tahun dua tahunan ini, somoga selanjutnya begitu," ujar Sajak yang memang masih murni perjaka, karena beberapa kali digoda gadis muda penggoda di beberapa negara yang disinggahinya sebagai pelaut. Jika tak kuat iman sudah lama dia menyerah pada syahwatnya yang merontah saat dalam dekapan gadis malam yang mungil putih bersih dan cantik, serta pandai merayu dan ahli dalam gelitik menggelitik nafsu lelaki, terutama kaum pelaut yang kapalnya singgah di negeri mereka.
"Penggoda itu jelita dan lentik serta pandai menggoda titik lemah kelelakian kita, apalagi pelaut kan jarang di darat otomatis garang lihat gadis seksi, karena selama di laut yang dilihat ombak dan teman teman seprofesi ..." ujar Dahlan mengingat pengalamannya sendiri saat digoda gadis genit yang bisa merontokkan imannya.
"Ya mereka menganggap kaum pelaut kayak kita ini garang lihat perempuan seksi ha ha ha ..." tertawa Sajak.
"Ya karena sudah bukan rahasia lagi jika banyak pelaut yang iseng dan garang lihat body seksi dan semok ..." tertawa Dahlan.
"Benar ... benar ..." sambut Sajak.
"Tapi semoga kita menjadi pelaut yang amanah, yang setoa dan tahan godaan dari setan yang berujud siseksi manis dan menawan ..." tertawa Dahlan
"Aamiin ..." sambut Sajak. Diam diam dia merasa salut dan bangga pada pendirian Dahlan yang bisa mempertahankan diri dalam gempuran arus jajahan Syahwat perempuan muda penjajah sek komesial..
__ADS_1
"Jangan merasa aku sok moralis dan sok suci bila mengingat dirimu harus tahan goda dan tahan gempuran syahwat perempuan penggoda iman kita ..."
"Oh nggak Bang, justru aku merasa terima kasih sudah diingatkan, khawatir khilaf ..." tersenyum Sajak.
Obrolan mereka pun kemudian kembali pada topik awal kepergian Jumini.
"Bang maaf kita kembali ke topik awal, kira kira Abang punya gambaran nggak kemana istri Abang perginya?"
Dahlan terdiam. Berpikir sejenak..
"Jumini pernah ditahan di kantor polisi, barangkali saja dia punya teman baru," seru Dahlan lirih.
"Bisa saja mereka saling curhat jadi teman, Bang," usul Sajak.
Berdasarkan pembicaraan itulah Dahlan mendatangi kantor polisi dimana beberapa waktu lalu dirinya mempolisikan Jumini.
Tapi sayang teman teman Jumini yang tak lain adalah Deli kasus menyerang selingkuhan suaminya, sudah tak lagi dalam masa tahanan polisi, karena pihak keluarga telah berhasil membuat pihak pelakor mencabut laporannya. Begitu pula Lia yang kasusnya lebih dulu selesai dengan damai.
Dahlan masih menunggu polisi yang dimintai nomor telepon kedua perempuan yang pernah.ditahan bersama Jumini.
Tak lama kemudian demi menemukan berita tentang keberadaan sang istri, Dahlan mendapatkan nomor telepon kedua perempuan itu dari pihak kepolisian.
"Terima kasih, Pak, saya permisi pamit untuk menghubungi beliau beliau ini,"
"Silahkan Pak Dahlan, semoga istri Anda segera ditemukan, dan keluarga Anda kembali harmonis," sambut polisi yang sedang bertugas itu.
Yang peeta dihubunginya adalah Lia. Dari perempuan itu didapat keterangan bahwa Jumini belum menghubunginya.
"Wah kok bisa Dik Jumi pergi, bukankah selama ini dia beeharap Dik Dahlan mengakuinya sebagai istrinya yang dulu," ujar Lia merasa heran dan bingung mendengar berita Jumini pergi.
"Saya yang bersalah, Bu, karena saya belum bisa secara batin menerima perubahan fisiknya. Setiap melihat wajahnya, seakan saya berhadapan dengan orang asing," jujur Dahlan mengakuinya.
__ADS_1
"Saya akan berusaha membujuknya jika dia menghubungi saya," janji Lia.
"Baik, Bu, terima kasih,"
Lain Lia lain pula Deli. Perempuan yang lebih lama lagi bersama Jumini di tahanan polisi itu, minta bertemu dengan Dahlan saat lelaki itu menghubunginya.
Dahlan yang memang sangat menginginkan Jumini dia temukan langsung menyambut, dengan harapan Deli bersama Jumini, atau perempuan itu mengetahui keberadaan istrinya saat ini.
Tapi harapannya ternyata zonk, karena Deli tak bersama, atau tak dihubungi Jumini. Namun begitu Dahlan mendapat nasehat dari perempuan yang sedang mengurus surat perceraiannya dengan sang suami itu.
"Maaf ya, Mas, kenapa Jumi sampai pergi, pasti ada sesuatu yang sangat menyakiti hatinya, karena setiap malam dia itu nangis karena sedih suaminya tak mengakuinya. Hatinya hancur. Makanya saya heran kalau sampai dia itu pergi setelah kalian bersama,"
"Saya telah menyakiti hatinya," lalu Dahlan menceritakan apa yang telah terjadi dalam rumah tangganya pasca mereka sudah satu rumah.
"Oh ..." Deli mengangguk angguk, "Yaitu dia, sebagai perempuan bagaimana pun cintanya dia pada suami, ya mungkin juga sudah lelah dan merasa tak dibutuhkan," lanjutnya dengan berani.
Dahlan tertunduk."Ya saya memang belum bisa menerima keadaannya yang sekarang jujur saja," ujarnya lirih.
"Ya apalagi minta tinggal terpisah pasti Dik Jumi merasa tak dibutuhkan, padahal dia itu sangat ingin mengabdikan hidupnya untuk Mas Dahlan, dia cinta mati pada Mas Dahlan, walau caranya salah dalam upaya untuk membuat suaminy a bangga atas dirimya,"
"Ya, Mbak saya memang salah," lirih suara Dahlan
"Seandainya nanti bertemu Jumi, kira kira Mas mau ngajak dia kembali ke rumah kalian?" Pandangan Deli tajam ke mata Dahlan. Ada rasa gemas dan gusar atas perlakuan Dahlan pada Jumi yang selalu menginginkan rumah tangganya harmonis kembali itu. Walau separuh hatinya bisa mengerti apa yang berkecamuk dalam diri lelaki yang tampak kebingungan oleh pertanyaannya itu.
Dahlan terpojok oleh pertanyaan mantan teman satu tahanan istrinya itu. Dia terdiam sesaat merasa bingung harus menjawab apa, karena hati kecilnya sampai detik ini masih belum bisa menerima perubahan yang terjadi pada Jumini istrinya. Namun membiarkan Jumini di luar rumah tanpa tahu dimana keberadaan perempuan itu, hatinya tak tenang. Terlebih lagi jika sampai mertuanya tahu tentang keadaan yang sesungguhnya.
"Maaf, Mbak, saya belum bisa menentukan sikap," pada akhirnya Dahlan berkata jujur sesuai kata hatinya
Deli terkejut. Lalu untuk apa mencari Jumini? Batinnya, untuk disakiti lagi?!
"Saya juga terbebani oleh pikiran saya yang sangat parno dengan keadaan wajah Korea dik Jumi, saya juga tak tahu bagaimana selanjutnya dengan kami. Saya ingin istri saya ditemukan karena itu tanggung jawab saya yang utama sebagai suami yang harus melindungi keselamatannya," ujar Dahlan yang tak bisa mengambil keputusan untuk menerima atau menolak istrinya.
__ADS_1
Bersambung