
"Kamu siapa cantik?" Jumini menatap Rini dan menyentuh pundaknya dengan sikap akrab.
"Oh ... ya ... " Mendapat sapaan ramah dari Jymini selagi hatinya cemas dan khawatir Roni naksir wajah Koreanya Jumini, membuat Rini agak gugup. "Rini, Mbak ..."
"Pasti umurnya nggak jauh dari Roni, ya?" Jumini mengerling Roni.
"Ya kebetulan ksmi sama sama masih mahasiswa," angguk Roni.
"Wah hebat ya Rini?"Jymini menatap Rini. "Ah enaknya kita ngobrolnya di teras yuk," ajak Jumini, "Sambil minum apa gitu biar aku pesan online, ya," ajak Jumini.
"Oh ya, boleh, tuh," angguk Minati.
Segera mereka bergerak ke teras depan dan di sana mereka duduk dengan santai. Segera Jumini menawarkan makanan atau minuman pada tetangga barunya.
"Aku pesan yang dingin dingin, ya via online, sekalian kita makan siang, gimana kalau aku pesan ayam goreng geprek plus nasinya, minumnya terserah nih pada miliih," seru Jumini memberikan ponselnya pada Rini.
Rini dengan antusias memperhatikan jenis minuman yang terdapat pada aplikasi Minum Segeer. Bukan hanya Rini, Minati ikut nimbrung untuk memilih.
"Aku ikutan ajah, deh," ujar Rusman.
"Aku juha," angguk Roni.
"Aku juice alpukat," usul Rini.
"Aku juice jeruk," ujar Minati.
"Nah kamu ikut aku apa ikut Mbak Minati," Rini menatap Roni.
"Aku ikut Mbak Minati ajah, jeruk," pilih Roni membuat hati Rini kecewa kenapa tadi nggak milih juice jeruk saja, sekarang udah kadung milih alpukat, masa plinplan, sih, yaudah deh.
"Kamu Rusman?" Minati mematap Rusman.
"Pastinya milih ..."
"Apa ikut aku saja pilihannya?" Tiba tiba Jumini umenawari Rusman.
Karuan Rusman langsung beralih pada Jumini. Menatap perempuan yang masih menunggu keputusannya.
"Ya aku ikit Mbak saja," ujar Rusman menyebut Mbak pada Jumini.
"Dial, ya,"
__ADS_1
"Dial ..."
"Nah Juice jeruk dua, alpukat satu dan air mineral dua aku dan Rusman ..."
Rusman diam diam berseru di hatinya, kalau air putih, mah, aku bawa sendiri saja dari kamar ada segalon,ag,kirain mesen yang seger seger si cantik ini, yaudalah ...
Sambil menunggu pesanan mereka berbincang bincang dengan akrab.
"Nah sekarang guliran Mbak Jumi memperkenalkan diri," usul Roni menatap Jumini.
"Huh segitu bernapsunya ingin tahu riwayat Mbak Jumi!" Sungut Rini cemburu, tapi hanya dalam hati saja, tapi sungguh dia sangat terganggu dengan sikap Roni yang begitu antusias, dan begitu serous menatap pada Jumini.
"Setuju," seru Rusman yang masih belum bisa move ondari khayalannya untuk mengajak Jumini ke kampung halamannya. Ah siapa tahu mujur, harapnya dengan tidak yakin tapi.
"Oke," anfguk Jumini.
Semua mata menatap pada Jumini serius, tak ubahnya si Jumini adalah seorang guru yang sedang bersiap untuk menerangkan sebuah rumus di depan kelas, dan mereka berempat adalah murid yang patuh pada sang guru.
"Aku datang dari sebuah kampung yang cukup jauh dari Jakarta, " terdiam Jumini.
"Darimana, Kak," penasaran Roni.
"Ya darimana, aku dari Sukabumi," ujar Rusman
"Aku Banten," Minati unjuk ibu jarinya."Kamu, Ron?" Jumini menatap Roni.
"Surabaya, tepatnya dari Gresik," cepat Roni menjawab dan menurut Rini suara serta jawaban Roni itu bersemangat
Duh rasanya Rini yakin deh kalau pemuda pujaannya sedang mengagumi Jumini. Sabar hati, dan tetap berdoasama Yang Kuasa semoga saja Mbak Jymi nggak suka daun muda, kan kelihatannya tuaan dia daripada Roni.
"Aku datang dari daerah yang jauh dari Sulawesi ...""Ooooh ..." seru mereka serempak.
"Ya," angguk Jumini, tapi aku nggak boleh berterus terang punya suami, masa kalau punya suami kok ngekos sendiri?
Aduh gimana dong ini, bilangnya apa, ya, masa janda, kan masih belum cerai. Cepat berpikir. Segera dapatkan solusinya dengan cepat.
"Aku datang ke Jakarta untuk mengadu nasib," menarik napas panjang berpikir pekerjaan apa yang kira kira cocok dengan dirinya, duh, pendidikannya hanya sampai sekolah lanjutan atas, bida melamar sebagai apa?
Paling paling pelayan toko, atau SPG. Kan pekerjaan ini terlalu sederhana jika harus datang jauh jauh dari Sulawesi, bukannya bermaksud merendahkan SPG, tapi kan kalau ada yang sedikit lebih bagus dari SPG kan lumayan.
"Berarti Mbak Jumi masih single, dong ..." celote Roni cepat.
__ADS_1
"Huh ngapain, sih, nanya single nggaknya, kayaknya nih si Roni bahaya juga, tapi, aku kan nggak mungkin menyatakan isi hati duluan," barin Rini merasa cemas khawatir cowok pujaannya beneran naksir Jumini.
"Mau kerja di Jakarta maksudnya?" Rusman menatap lekat pada Jumini.
"Gadis secantikMbak Jumi cocoknya jadi artis," ujar Minati tanpa rasa iri karena si Jumini memang cocok jadi artis atau pemain sinetron, pikirnya, bahkan jadi bintang film pun bisa kalau mau.
Mendengar kata artis membuat rasa.minder Roni melonjak pesat, dirinya merasa kalah pamor pada Jumi, yamg tampaknya dikagumi oleh Roni. Gawat bisa bisa Roni nekat betul betul mepet si wajah Korea ini, keluhnya merasa kalah sebelum berperang.
"Ah manamungkin aku jadi artis, ya, aku hanya mau kerja biasa di tempat kerja saudara, cuma ya harus nunggu katamya," legah, akhirnya Jumini bisa memberi penjelasan yang masuk akal sebelum ditanyai gerangan pekerjaan apa yang sedang ditunggunya.
"Sangat bisa kan Mbak Jum cantik," celetuk Roni tak tahan untuk tidak memuji Jumini.
Jumini menatap Roni, "Aduh terima kasih ya Roni kamu memuji aku, semoga nanti kamu dapat pacar yang cantik, eh, udah punya pacar belum?" Jumini mengerling menggoda Roni.
Roni tersipu. Menyembunyikan senyumnya.
Rini berdebar menunggu Roni beriaksi. Waduh kalau diam diam Roni udah punya gebetan di kampusnya, gimana, nih?
"Aku lebih fokus pada kuliah, Mbak. Jauh jauh merantau dari Gresik masa cuma dapat cewe!" Diplomatis jawaban Roni membuat Rini lega, tapi sekaligus juga merasa kurang suka.
Lega ternyata Roni tak memiliki gebetan di kampusnya. Tak suka ternyata Roni tak punya niat pacaran, berarti dirinya tak ada artinya di mata pemuda itu. Bahkan tak masuk katagori, itu kemungkinan besarnya.
"Eh Rini sayang kok diem diem saja dari tadi?" Kebetulan Rini berada di samping Jumini, maka perempuan itu merangkul pundak Rini yang bertubuh mungil dan ramping.
"Ah nggak apa apa, Mbak," berusaha tersenyum si Rini, Jangan ditunjukkan kerisauannya karena tak digubris Roni. Harus tetap kuat. Bila perlu nanti akan dibuatnya Roni mengejar cintanya. Tapi bagaimana caranya?
"Tuh kam lagi jatuh cinta, ya?" Goda Jumini.
Rini hanya menunduk merasa sedih ditanya demikian soal perasaan hatinya.
"Naksir coeok, nih, ye ..." Roni justru menggodanya.
Guh dasar nggak punya perasaan! Gusar Rini, tapi hanya dalam hati saja.
Sebuah sepeda motor berhenti. Sebelum Jumini berdiri ternyata Rusman mendului menebus semua pesanan untuk mereka makan siang bersama.
"Wah Mas Rusman banyak duit ya, padahal tanggal tua," goda Roni yang tak bekerja tapi mengandalkan kiriman orang tuanya, pada saat ini uangnya sudah menipis. Bahkan sejak dua hari lalu sudah makan dengan lauk orek tempe, supaya sisa uangnya sampai ke habis bulan dampai orang tuanya mengirim lagi.
"Wah jadi nggak enak aku yang pesan malah Bang Rusman yang bayar ...." Jumini menerima box makanan dari Rusman, "Terima kasih ya, Bang,"
"Sama sama untuk merayakan perkenalan kita," ujar Rusman merasa jadi bintang karena bisa mentraktir Jumini .
__ADS_1
Diam di Rini melirik Roni yang terlihat agak lesuh mungkin merasa kalah pamor dari Rusman yang punya uang. Rasain, lo, Ron!