
Dahlan sangat kebingungan karena hilang kontak dengan Jumini yang telah mengganti nomor ponselnya dengan nomor baru.
Mau tanya ke mertuanya di kampung justru nanti ketahuan jika Jumini pergi dari rumah, kan bisa runyam urusannya.
Terus aku harus cari Jumini kemana lagi?
Sedangkan hari kedatangan kedua orang tuanya sudah tinggal menunggu besok atau lusa paling lambat. Walau isrinya sudah bersalin rupa, tapi harus ada di dalam rumah supaya persoalan mereka yang masih ngambamg dalam hubungan suami istri, tak semakin rumit.
Dahlan sangat paham kedua orang tuanya sudah jelas akan menolak perubahan wajah istrinya. Ayahnya sangat paham agama serta larangannya. Begitu pun ibunya. Sedangkan apa yang dilakukan Jumini jelas bertentangan dengan larangan untuk merubah apa yang telah diberikan Sang Pencipta terhadap umatnya.
Entah jika ada pertimbangan lain yang akan membuat orang tuanya bisa menerima perubahan Jumini. Tapi Dahlan merasa sulit ada celah bagi Jumini untuk bisa dimengerti kedua orang tuanya.
Artinya perpisahan akan terjadi secara permanen alias perceraian dengan Jumini?
Dahlan terkejut
Walau dirinya enggan memandang wajah Jumini, dan risih berhadapan dengan istrinya, serta menginginkan untuk pisah rumah, namun belum berpikir untuk menceraikan perempuan yang sesungguhnya begitu dicintainya dengan sepenuh juwa raganya itu.
"Bagaimana uni?!" Dahlan kebingungan sendiri.
Tiba tuba dia teringat Suciyati M.Psi. Siap tahu psikolog yang pernah menjadi konseling untuk Jumini tahu keberadaan istrinya.
"Jadi istri Anda pergi dari rumah sejak kemari?" Justru Suciyati terkejut.
"Ya, Bu, apa dia tak menghubungi Ibu?"
Suciyati menggeleng.
"Mungkin dia tersinggung karena saya meminta berpisah rumah," gumam Dahlan.
"Ya istri Anda sudah sampai pada pilihannya, karena selama ini dia merasa sudah berusaha bertahan dari sikap Anda yang begitu alergi pada perubahan wajahnya," ujar Syciyati pada Dahlan.
"Ya maaf, Bu, karena saya merasa risih harus berdua dengan wajah asing di rumah, terlebih di tempat tidur, sayabenar benar stress rasanya,"
"Maaf apa Anda berniat untuk melakukan perpisahan selamanya?"
Dahlan mengerti yang dimaksud psikolog di depannya itu. Kepalanya menggeleng.
"Artinya Anda masih mencintai istri Anda, Pak Dahlan?"
__ADS_1
"Ya tapi dengan wajah lamanya, Jumi jelita yang sekarang sulit saya terima, Bu," jujur Dahlan mengakuinya
Suciyati mengangguk paham. Anda juga trauma dengan wajah istri Anda yang sekarang. Sulit memang apa yang Anda alami. Jika ingin pernikahan bertahan Anda harus bisa melepas ego Anda dan itu tidak mudah, butuh waktu memang,"
"Ya itulah, Bu," jelas terlihat raut muka Dahlan begitu bingung dan sedih.
"Seperti makan buah simalakama, bukan?"
"Tepatnya demikian. Dimakan mati Ayah, nggak dimakan mati Ibu, atau ..."
"Ya saya mengerti,"
"Sepenuh hati saya mencintai istri saya Jumini. Tapi saya tersiksa dengan wajah barunya, saya asing dan enggan menyentuhnya. Maaf, Bu, jika bersama dia di tempat tidur saya seperti sedang dengan perempuan cantik penjaja sek komersial," lirih suara Dahlan, "Saya tak bisa menggauli istri yang asing bagi saya, hilang gairah saya dan jijik walau hanya sekedar menyentuh wajahnya dengan tangan, apalagi melakukan hubungan yang lebih dalam .."
"Ya itu sulit untuk keharmonisan suami istri. Paling tidak Anda harus belajar ikhlas menerima perubahan istri Anda. Artinya Anda juga harus menjalani terapi ..."
"Rasanya sulit walau saya diterapi, Bu, kecuali Jumi kembali pada wajah aslinya, hal itu mustahil, kan, Bu?"
Suciyati terkejut. Dipandangnya Dahlan.
"Ya saya hanya bisa menerima Jumi jika dia berwajah Jumi yang asli," angguk Dahlan yakin.
Jumini saat ini sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Jangan ditanya, sudah berapa banyak lelaki yang melirik dan memandangnya secara terang terangan.
Pandangan kaum hawa itu rata rata menunjukkan rasa kagum, dan tatap menggoda. Tak bisa dipungkiri lagi kecantikannya membuat daya tarik utama pada lawan jenisnya, yang ada juga sengaja memberinya senyum. Arti dari senyum itu sendiri beragam. Ada yang sekedar mengagumi dan ada juga yang sengaja coba peruntungan siapa tahu dibalas senyum, lalu mereka bisa minum bersama, dan jika beruntung si lelaki bisa mencicipi wajah jelitanya.
Jumini tak merespon senyum senyum yang dikirim para lelaki dari berbagai type serta beragam latar belakang itu. Wajah cantiknya bukan untuk lelaki lain. Tapi hanya untuk suami tercintanya.
Ingat akan suami otomatis raut muka Dahlan yang terbayang, sedangkan lelaki itu berpaling dari kejelitaan wajahnya.
"Jangan putus asah dan jangan tenggelam dalam keterpurukan Anda, jika memang Anda merasa terpuruk oleh suatu hal yang sulit untuk diperbaiki," terngiang interaksinya dengan sang motivator.
"Ya aku memang harus kuat dan tegar, aku tetap menjadi diri sendiri. Pribadi sebagai Jumi anak Emak, walau wajahku cantik jelita," pemahaman itulah yang selalu dilekatkan Jumini pada dirinya supaya tetap memiliki semangat.
Karena sibuk dengan suasana hatinya yang dipacu untuk kuat dan tegar menghadapi persoalanmya, langkahnya tak terkontrol hingga dia menabrak seseirang. Otomatis barang keperluan yang ada di tangannya jatuh berantakan.
"Oh maaf ..." Jumini menatap lelali yang ditabraknya, tersenyum santun.
Sesaat lelaki muda yang tak lain adalah Sajak menatapnya terkesima tak berkedip.
__ADS_1
"Ya Ampun cantiknya ini cewek .." desah hati Sajak tak ingin lepas dari wajah Jumini matanya.
Tapi dia langsung tersadar saat Jumini menunduk untuk mengambil barang barang bawaannya yang berserakan di sekitar kakinya.
Sajak segera berjongkok membantu Jumini untuk memungut sabun mandi, pasta gigi dan barang barang lainnya.
"Terima kasih," angguk Jumini.
"Anda harusnya pakai keranjang," bergegas Sajak mengambil keranjang dan memberikan pada Jumini.
"Teruma kasih," angguk Jumini.
"Hem gimana caranya bisa ngajak cewek ini ngobrol, ya, sayang kan cantik cantik dilewatkan?" Tiba tiba saja Sajak tergelitik dengan bisikan hatinya untuk lebih mengenal Jumini.
"Mari .."pamit Jumini langsung melangkah.
Sajak terkesiap. Hatinya merontah ingin lebih mengenal perempuan yang menggelitik perasaannya itu.
"Tunggu ..."
Jumini menghentikan langkah, menoleh, "Aku?"
Sajak mengangguk, sekaligus melangkah mendekat. Saat sudah berhadapan dengan Jumini dadanya berdebar ada hentakan yang memaksanya untuk berucap sesuatu pada Jumini yang ternganga mendengar permintaannya.
"Maaf tadi Anda sudah menabrakku. Harus ada kompensasi untuk itu,"
"Konpensasi?" Tentu saja Jumini tak mengerti maksud yang terselubung dibalik kara konpensasi yang dilontarkan Sajak, lelaki yang kini menatapnya lekat itu.
"Ya," angguk Sajak pura pura serius, tapi dengan sikap manis tentu saja, wah kalau pasanguka galak bisa bisa cewek yang telah membuatnya tersentak itu kabur, pikirnya
"Tapi ..." Jumini masih belum bisa mengerti.
"Supaya satu satu," ujar Sajak membuat Jumini semakin menunjukkan raut muka bingung.
"Wah kalau bingung nih cewek semakin cantik saja dengan wajah memelasnya," tentu saja hanya diucapkan dalam hati oleh Sajak.
"Tapi aku tak mengerti," jujur Jumini dengan lugu sikapnya.
Sajak tersenyum dan mengerling, ini kesempatan, bisiknya.
__ADS_1
Jumini ketar ketir menunggu.