Jangan Hina Aku

Jangan Hina Aku
Masa sih?


__ADS_3

"Kenapa, Sayang? Kok kayaknya kamu bingung?" tanya Reza ketika menghampiri istrinya yang sedang melamun di sofa kecil mereka. Pria itu baru saja selesai mandi.


"Eh, Mas, enggak, ah. Aku cuma capek aja, baru nganterin kue ke tetangga kita," sahutnya berbohong. mana mungkin dia mengatakan bahwa dirinya baru saja bertemu dengan pria yang pernah ditolaknya.


"Oh, jadi gimana kenalan sama tetangga barunya?"


"Udah, Mas. Yang di sebelah namanya Bu Anna. Dan yang di depan namanya Mbak Helena."


"Oh, kok kamu nggak nungguin Mas."


"Aku kira kamu nggak ikut, soalnya tadi aku tanyain kamu diam aja."


"Aku nggak denger, Sayang. Lagi di kamar mandi."


Salsa hanya mengangguk saja. Namun, raut wajahnya terlihat berbeda seperti sedang bingung.


"Kamu kenapa, Sa? Sakit?" tanya Reza heran. Dia bahkan memeriksa suhu tubuh Salsa untuk memastikan bahwa istrinya itu tidak sedang sakit.


"Mas, kamu masih ingat nggak dengan teman dekat aku yang namanya Siti. Dia pernah jadi langganan ojek kamu sebelum nikah," ucap Salsa dengan tatapan ragu.


"Oh, yang katanya menikah dengan manajer itu ya? Iya, Mas tau, kenapa?"


"Barusan aku ketemu dia di rumah Bu Anna."

__ADS_1


"Oh ya? Dia menantunya Bu Anna?"


"Bukan, Mas."


"Jadi? Saudaranya?"


"Bukan juga, Mas. Dia kerja di rumah Bu Anna."


"Hah? Kerja? Kerja apa? Emangnya di rumah Bu Anna ada usaha gitu ya?"


"Enggak, Mas, dia kerja di rumah Bu Anna sebagai asisten rumah tangga."


"Hah? Asisten rumah tangga? Masa sih? Tapi kan suaminya manajer, masa dia jadi asisten rumah tangga?" Sama seperti Salsa, Reza juga tak percaya dengan kabar tersebut. Logikanya saja, jika suami Siti seorang manajer, mengapa dia harus repot-repot bekerja sebagai asisten rumah tangga?


"Ya udah, jangan terlalu kamu pikirkan. Mungkin saja Siti punya alasan mengapa dia menjadi asisten rumah tangga. Sekarang lebih baik kita istirahat aja. Besok Mas mau kerja, udah ada pangkalan ojek. Untung aja di daerah ini tukang ojeknya hanya satu, jadi, waktu Mas minta izin untuk mangkal di situ, dia ngebolehin dengan ketentuan dan syarat."


"Hah? Syarat? Syarat apa, Mas?"


"Kami harus berbagi penumpang. Nggak boleh serakah, apalagi curang."


"Ternyata di dunia ojek juga gitu, ya. Pake syarat dan ketentuan." Salsa tertawa geli.


"Iya, dong. Sekarang mending kita ke kamar." Tiba-tiba saja Reza menarik tangan Salsa menuju ke kamar. Bukannya istirahat, dia malah meminta jatah pada sang istri. Maklum saja, mereka masih pengantin baru yang sedang dimabuk cinta.

__ADS_1


*****


"Ini kue dari siapa?" tanya Gilang ketika melihat sekotak kue yang terletak di atas meja makan.


"Itu tadi pemberian dari tetangga baru, Mas," ujar Helena sambil membuka kotak kue tersebut.


"Yang mana? Yang di depan rumah ini?"


"Iya, Mas."


"Oh, kamu makan aja. Aku nggak suka makanan ya nggak jelas asal usulnya kayak gitu."


"Aku juga nggak mau, Mas. Kita kasih ke Bi Iyem aja, ya."


"Hmmm."


Helena pun pergi ke belakang dan memberikan kotak kue itu pada asisten rumah tangga mereka.


Dia pun kembali ke meja makan dan menemani suaminya makan malam. Terlihat Gilang yang makan sambil fokus pada ponselnya tanpa memperdulikan keberadaan Helena.


Wanita itu hanya menghela nafas panjang. Entah mengapa, setelah menikah dengan pria yang selama ini dipujanya, dia seolah merasa berjuang sendiri.


Ya, meskipun pernikahan mereka mendadak karena tiba-tiba saja Gilang datang dan mengajaknya menikah. Padahal, sudah berkali-kali Gilang menolak cintanya. Namun, pria itu datang dengan sendirinya dan mengajaknya membina rumah tangga bersama.

__ADS_1


Namun, dia merasa seperti seorang yang dijadikan pelarian. Dinikahi, namun tak dicintai. Benarkah pemikirannya ini?


__ADS_2