
Tingg tung.
Suara bel berbunyi saat Bu Anna sedang minum teh di ruang tamu. Dia berpikir untuk menyuruh Siti membuka pintu. Namun, ketika melihat Siti sedang mengangkat pakaian di jemuran, Bu Anna pun memilih untuk membuka pintu gerbang sendiri.
Dia pun heran melihat dua orang wanita yang tak dikenalnya sedang berdiri dengan tatapan heran ketika dia baru keluar tadi.
"Maaf, Bu, Mbak, cari siapa?" tanya Bu Anna setelah dia membuka pintu gerbang.
"Ibu temennya anak saya, ya. Saya mau ketemu," ucap Bu Reni yang mencoba untuk berpikir positif. Mungkin saja wanita yang membuka pintu gerbang itu adalah temannya Siti.
"Teman anak Ibu?" tanya Bu Anna sambil mengernyitkan dahinya.
"Iya, ini kan rumah anak saya. Dia di dalam kan? Kami mau masuk." Bu Reni pun mengajak Ismi berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Bu Anna pun langsung mengejar mereka untuk mendapatkan keterangan mengenai ucapan mereka yang mengatakan bahwa rumah ini adalah milik anak mereka.
"Bu, Bu, maaf, sepertinya kalian salah rumah. Ini rumah saya," ucap Bu Anna ketika berhasil menghentikan mereka.
Bu Reni dan Ismi pun terlihat saling pandang dengan tatapan tak mengerti. "Maaf, Bu, tapi ini rumah anak saya. Oh, atau anak saya jual rumah ini sama ibu dan pindah ke rumah yang lebih besar, ya?" terka Bu Reni.
__ADS_1
"Hah? Enggak, Bu. Dari awal rumah ibu dibangun, ini adalah rumah saya. Mungkin ibu salah orang."
"Enggak, saya yakin, kok. Dulu anak saya pernah ngajak saya ke sini."
"Nama anak ibu siapa?"
"Lah, masa ibu nggak tau? Dia itu orang kaya, suaminya manager," ujar Bu Reni yang langsung membuat Bu Anna terkejut. Yang manager adalah suaminya. Apa mungkin suaminya telah menikah dengan anak wanita di depannya ini diam-diam?
"Bu, siapa nama anak Ibu?" tanyanya semakin khawatir.
"Hah? Siti? Agus?" Bu Anna semakin terkejut. Bisa-bisanya Siti mengaku bahwa ini rumahnya dan suaminya adalah manager.
"Iya, Bu. Kenal, kan? Mana dia? Saya mau ketemu?" Bu Reni terlihat celingukan mencari keberadaan Siti.
"Bu, mungkin aja Siti lagi ke salon sama pembantunya, si Anna. Dia kan orang kaya, pasti lagi perawatan," sahut Ismi.
"Apa? Anna pembantu Siti?"
__ADS_1
"Iya, Siti pernah cerita kalau dia punya pembantu namanya Anna. Katanya sih dari keluarga miskin yang telah dia tolong. Baik banget ya si Siti."
"Apa? Dia bilang Anna miskin?"
"Iya. Nggak cuma itu si Anna itu sering banget minjem duit sama dia. Makanya dia belum bisa ngasih saya uang gaji. Anna juga sering ngambil uang dan barang tanpa izin. Tapi Siti tetap memaafkan. Itulah dia terlalu baik sama orang."
Bu Anna ya mendengar namanya sudah dijelekkan oleh Siti dan dijadikan pembantu dalam ceritanya pun langsung mengurungkan niatnya untuk melindungi Siti. Tadinya dia ingin memberitahu Siti tentang ini. Namun, lebih baik ibunya mendengar seperti apa anaknya.
"Maaf, Bu, kalian ini sudah dibohongi sama Siti."
"Hah? Bohong gimana?"
"Siti itu bukan pemilik rumah ini. Dia itu pembantu di rumah ini!"
Ucapan Bu Anna pun langsung membuat Bu Reni dan Ismi terkejut.
"Apa, Bu? Pembantu? Jangan bercanda, Bu. Mana mungkin dia pembantu di sini. Suaminya kan manager."
__ADS_1