
"Hah? Jadi mereka benar-benar menyindirku?"
Wajah Salsa memerah. Dia pun langsung men screenshot percakapan itu dan menyimpannya sebagai bukti jika sewaktu-waktu Siti berkilah. Tidak disangka, jika teman baiknya dulu tega menceritakan hal buruk tentangnya. Dirinya yang tadinya sempat kasihan pada Siti, kini seolah sirna. Berganti rasa kesal yang teramat dalam. Padahal hidup Siti jauh lebih parah darinya. Tapi mengapa Siti menceritakan kehidupannya yang mereka sangka tidak bahagia?
Dia pun ikut nimbrung di percakapan itu untuk sedikit memberi gertakan pada Siti.
[Dari tadi baca komenan kakak-kakak kayaknya seru. Ngomongin siapa sih, Kak? Kok kasihan bener hidupnya, hahaha.]
Sengaja Salsa mengasihani dirinya sendiri dalam komentar itu. Tak apalah, toh tidak ada yang tahu jika akun itu adalah miliknya. Nama akunnya sengaja dibuat dengan nama Melati. Nama yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan namanya.
[Ada deh, pokoknya orangnya kasian bener deh hidupnya. Dia berasal dari keluarga kaya tapi malah nikah sama tukang ojek dan pergi merantau. Kata orang sini sih, dia sekarang hidup susah di perantauan.] Balasan dari Ismi.
[Wah, kok mau-maunya ya punya suami kayak gitu. Teman aku juga ada lho kayak gitu. Dia punya suami, ganteng sih, tapi pengangguran. Terus dia kerja di rumah orang buat nafkahin suaminya. Udah gitu dia bohong ke semua orang dan bilang kalau suaminya kerja di perusahaan. Padahal cuma pengangguran. Kasian, ya, Kak.]
__ADS_1
Inilah serangan yang diberikan Salsa pada Siti. Semoga saja dirinya tersendiri dengan kata-kata ini.
[Heh? Beneran? Masa ada sih kayak gitu? Beneran parah banget lah. Itu namanya istri bodoh. Terlalu bucin sama suaminya sampai nggak sadar kalau dia sedang dimanfaatkan. Untung aja kita nggak gitu wkwkw.]
Hanya Ismi yang membalas. Sedangkan Siti terlihat sudah menghilang. Dia bahkan sudah terlihat tidak online lagi. Sepertinya dia tersinggung dengan komen Salsa yang ceritanya persis seperti dirinya.
[Hahah, iya, Kak. Kasihan banget temenku. Tapi gimana, ya. Aku juga udah lelah bilangin ke dia supaya jangan mau sama suami kayak begitu. Tapi katanya dia cinta banget sama suaminya. Mungkin aja dia bisa kenyang dengan Cinta.] Salsa kembali membalas.
[Iya, Kak. Laki-laki nggak berguna kayak gitu ngapain dipertahankan, bikin beban hidup bertambah aja. Semoga aja keluarga kita dihindarkan dari laki-laki kayak gitu, ya, Kak.]
[Iya, Say. Jangan sampe, deh. Amit-amit dapat laki kayak gitu. Pengen banget aku jumpa sama temanmu. Pengen nampol kepalanya biar dia sadar, hahaha.]
Salsa tersenyum puas. Sudah pasti komenan panjang ini dibaca olehnya nanti. Kalau seandainya Siti tidak menceritakannya, pasti dia juga tidak akan seperti ini. Tadinya dia ingin melindungi Siti. Namun, melihatnya yang seperti ini dia pun mengurungkan niatnya. Untuk apa membantu teman yang munafik?
__ADS_1
"Hei, kenapa sih kok dari tadi kamu senyum-senyum sendiri?" Tiba-tiba Reza datang dan ikut bergabung di atas ranjang. Dia memeluk Salsa dari belakang sembari mencium rambutnya yang wangi. Di depan suaminya Salsa memang tidak mengenakan jilbab.
"Ini, Mas." Salsa pun berbalik, lalu menunjukkan ponselnya dan memperlihatkan isi percakapannya di kolom komentar postingan Siti.
"Heh, kamu nggak boleh kayak gitu, Sayang." Reza mencubit hidung Salsa pelan.
"Ya biarin aja, siapa suruh dia cari gara-gara sama aku. Lagian kenapa sih kamu nggak pernah tersinggung dibilang kayak gitu? Kamu dibilang orang nggak bisa menafkahi keluarga, lho. Bahkan kakaknya Siti mengatakan bahwa orang-orang menganggap bahwa kita di sini hidup susah."
Reza menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. Dia tersenyum melihat istrinya yang masih dirundung rasa kesal.
"Sayang, kita nggak perlu membuktikan apa-apa pada orang yang nggak suka sama kita. Kamu tahu nggak, ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa kita terlihat baik di mata orang yang menyukai kita. Kita terlihat buruk di mata orang yang membenci kita. Jadi, untuk apa kamu melakukan semua ini? Mau seperti apapun dirimu, kamu akan berbeda di setiap cerita orang lain."
Salsa tersenyum mendengar ucapan bijak sang suami. "Kamu itu selalu bisa menenangkan hatiku. Terima kasih, ya, Mas." Salsa memajukan tubuhnya dan memeluk sang suami dengan erat. Tak perlu, harta, cukup kehidupan sederhana dan suami penyayang seperti Reza. Da kehidupan seperti inilah yang selalu diimpikannya.
__ADS_1