Jangan Hina Aku

Jangan Hina Aku
Bukan teman 2


__ADS_3

"Mas, hari ini anterin aku ke pasar, ya. Soalnya mau belanja stok di kulkas," ajak Salsa setelah mereka sarapan bersama.


"Iya, ayok, Sayang." Reza pun bergegas mencari helm satu lagi yang akan dikenakan oleh Salsa.


Setelah siap, mereka pun segera pergi menuju ke pasar. Di sana, Salsa membeli banyak bahan makanan mentah untuk stok di kulkas. Dia juga membeli beberapa alat dapur yang harus diganti. Bersyukur Reza memberinya uang belanja yang lumayan banyak. Katanya orderan ojek Reza setiap harinya sangat lancar, sehingga bisa memberikan uang lebih untuk Salsa.


"Sa, kita ke situ, yuk." Reza menunjuk sebuah toko baju yang di depan pasar itu.


"Ngapain, Mas? Kamu mau beli baju?"


"Iya, tapi bukan buat aku. Buat kamu."


"Hah? Buat aku? Nggak usah, Mas, bajuku masih banyak, Kok." Salsa berusaha menolak tawaran Reza karena dirinya tak ingin merepotkan pria itu. Reza terlalu loyal, bahkan tak pernah minta uang pada Salsa jika ingin membeli sesuatu di luar padahal semua uang hasil ojek telah diberikan pada Salsa.


"Nggak papa, aku pengen banget beliin kamu baju."


"Tapi kan semua uang kamu sama aku."


"Aku ada tabungan, kok, tenang aja."


"Nanti habis, lho, Mas."


"Nggak, Sayang, masih cukup kok buat belanjain kamu baju setoko."


"Hah? Banyak banget? Ratusan juta doang?"


Salsa terkejut mendengar ucapan Reza yang katanya tabungannya cukup untuk membeli semua baju yang ada di toko itu. Dia tahu berapa harga baju yang ada di toko seperti itu.


"Eh, cuma kiasan doang. Nggak sebanyak itu, sih."


"Ya udah, Mas, satu aja, ya. Mas juga beli, dong. Eh, gimana kalau kita beli yang couple. Kan bagus buat kondangan," ujar Salsa.


"Boleh, yuk."

__ADS_1


Mereka pun pergi ke toko baju itu. Di dalam, banyak sekali model baju couple yang mampu menghipnotis mata Salsa. Tidak salah Reza menunjuk toko ini sebagai tempat mereka membeli baju.


"Wah, bagus banget," ucap Salsa dengan tatapan penuh kekaguman. Matanya pun tertuju pada sepasang manekin yang memakai baju couple. Pasti Salsa akan sangat cantik jika memakai gamis itu.


"Selamat datang, mau cari baju tipe apa, Mbak?" Tiba-tiba seseorang mendatangi mereka dan menyapa mereka.


Salsa pun berbalik dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seseorang yang baru saja menyapanya adalah teman lamanya yang bernama Riska, teman dekatnya bersama dengan Siti saat mereka belum menikah. Suami Riska adalah seorang dokter yang bekerja di daerah ini.


"Riska?" Salsa tersenyum senang dan berusaha untuk memeluk Riska. Namun, diuar dugaan, Riska malah memundurkan langkahnya dengan tatapan jijik.


"Maaf, Ris, aku habis dari pasar, hehe." Salsa yang menyadari bahwa tubuhnya bau pasar pun berusaha untuk memaklumi sikap Riska.


"Kamu tinggal di sini, Sa?" tanyanya sambil menatap heran.


"Iya, Ris. Aku tinggal di jln. anggrek. Ini suamiku, Mas Reza." Salsa pun memperkenalkan suaminya pada Riska.


"Hah? Ini kan tukang ojek itu, Sa? Kok kamu mau sih nikah sama tukang ojek? Apa udah nggak laku lagi?" Dengan entengnya Riska malah mengatakan kalimat menyakitkan itu pada Salsa.


"Sayang sih sayang, tapi kalau tukang ojek, masa kamu mau, sih, nggak level tau."


"Ris, kamu kok ngomongnya kayak gitu. Kita kan temen. Harusnya kita mendukung keputusan teman kita."


"Aduh, maaf, ya, Sa. Kalau modelan kamu kayak gini, aku ya nggak mau jadi temen kamu. Itu bisa merusak citra aku sebagai pemilik toko terkenal di sini. Masa aku punya teman kere kayak gini." Riksa memberikan tatapan penghinaan pada Salsa.


"Oh, jadi dulu kamu mau temenan sama aku karena keluarga aku orang berada?"


"Kalau iya kenapa? Ya jelas lah aku mau temenan sama kamu. Makanya aku bisa dapetin Mas Indra yang seorang dokter. Kan dia temennya Mas Adit. Lagian kamu punya Abang ipar kayak aku nggak mau sih minta dikenalin sama CEO atau paling nggak manager gitu."


"Udah, cukup, Ris, kamu nggak perlu menghina aku kayak gitu. Aku juga nggak mau punya teman yang sombong dan lupa diri kayak kamu!" Dengan kesal, Salsa pun langsung pergi dari toko itu bersama Reza.


"Kamu kenapa sih, Mas, kok diem aja." Salsa memegang tangan seseorang yang sedari tadi berjalan di belakangnya namun tetap diam.


Namun, ketika berbalik, dia terkejut karena orang itu adalah salah satu pegawai Riska.

__ADS_1


"Eh, maaf, Mas, saya nggak tahu kalau itu tangan Mas."


"Nggak papa, Mbak, bawa aja saya, kemanapun Mbak pergi saya mau ikut kok." Pria yang sepertinya menyukai Salsa itu pun terlihat senyum-senyum sendiri.


"Duh, maaf, Mas, saya punya suami. Permisi." Salsa pun kembali ke toko baju milik Riska. Mengapa Reza masih tetap berada di sana dan tidak mengejarnya?


"Mas, ayo pergi, ngapain kamu di sini?" tanya Salsa dengan kesal.


"Bentar, Sayang. Kamu mau baju itu kan?" Reza menunjukkan gamis yang tadi dilirik Salsa saat pertama datang ke sini.


"Iya, tapi yang nggak di toko dia juga."


"Ini memang toko dia, tapi dia ngambil bajunya di tempat lain. Toko ini kan menjual, bukan memproduksi."


"Lagian kalian sok kaya banget sih, mau beli baju couple kayak gini. Harganya mahal, sepasangnya lima ratus ribu!" Riska memasukkan baju couple itu ke dalam paper bag dan menyerahkannya pada Reza.


Reza pun langsung membayar dengan uang pas. "Kalau hanya karena lima ratus ribu kami nggak makan, artinya saya gagal menjadi suami. Tenang saja, Mbak, Salsa akan selalu bahagia bersama saya meskipun kami hidup sederhana. Ayo, Sayang, nanti pulangnya kita mampir ke bakso mang Jaja, ya. Di sana enak banget, kamu pasti suka." Sambil meninggalkan Riska, Reza terus memegangi tangan Salsa dan juga belanjaannya. Terlibat wajah Salsa yang sangat bahagia ketika berbicara dengan Reza.


"Kamu sih, Mas, gara-gara kamu nggak ikut aku, jadinya aku narik tangannya pegawai Riska!" kesal Salsa sambil mencebikkan bibirnya.


"Maaf, Sayang. Nanti kita beli es krim, deh, jangan marah lagi, ya." Reza mencubit pipi Salsa dengan gemas.


"Wah, es krim? Mau, Mas!"


"Jangan cemberut lagi, ya, Sayang."


"Iya, iya."


Riska yang melihat kebersamaan mereka pun menjadi kesal. Dia melihat sepasang patung manekin yang tidak memiliki baju lagi karena dibeli Reza.


Indra suaminya bahkan tak pernah memperlakukannya semanis itu. Dia memang selalu diberikan uang, tapi tak pernah sekalipun suaminya menemaninya berbelanja, apalagi memberikan pakaian itu untuknya. Merayu? Ah, yang ada, ketika Riska sedang ngambek, maka suaminya seakan tak peduli dengannya dan membiarkan moodnya sembuh sendiri.


Kini dia menatap layar ponselnya. Beberapa jam yang lalu, dia sudah mengirimkan pesan singkat pada sang suami. Tapi, sampai saat ini, pesan itu tak dibalas, hanya dibaca saja.

__ADS_1


__ADS_2