
Sebuah pesta pernikahan sederhana pun diadakan di rumah orang tua Salsa. Mereka Kak menikah di gedung mewah meski memiliki kakak ipar kaya raya. Hanya acara sederhana dengan mengundang kenalan, menyewa orgen tunggal, dan dekorasi sederhana.
"Kok bisa ya Salsa mau nikah sama kang ojek kayak gitu," ucap Bu Lena dengan mulut khas orang yang sedang mencibir. Bibirnya agak dimajukan dan bergelombang sambil melirik Salsa dengan sinis.
"Ya, mungkin aja emang nggak ada lagi laki-laki yang mau sama dia. Makanya dia nikah sama kang ojek," sahut Bu Mega.
"Eh, bener juga sih. Siapa juga yang mau sama janda yang punya masa lalu buruk kayak gitu. Saya disuruh lamar gratis aja nggak mau." Bu Mega menanggapi.
"Lagian pasti si Salsa mau sama Reza karena dia ganteng. Dasar, perempuan zaman sekarang itu kayak nggak peduli dengan latar belakang suaminya. Yang penting ganteng aja, pasti langsung mau." Bu Lena semakin memperburuk pendapatnya.
"Ya iyalah, mana mungkin dia mau nikah sama orang yang nggak punya apa-apa. Eh, pasti nanti setelah ini si Reza bakalan minta kerjaan sama abang iparnya, si Adit. Dia kan CEO perusahaan besar, mana mungkin nggak bisa masukin Reza jadi manajer atau apalah yang tinggi-tinggi."
__ADS_1
"Duh, ibu-ibu ini, yakin orang pasti cepet banget." Tiba-tiba saja Bu Asih datang dan menegur mereka. Bu Asih adalah janda kaya yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Salsa.
Memang, dulunya Bu Asih tidak menyukai Salsa sama sekali karena sikapnya yang kurang sopan dan sombong. Namun, setelah melihat perubahan Salsa, perlahan hati Bu Asih pun melunak. Dan kini mereka telah berhubungan baik sebagai tetangga.
"Halah, Bu Asih, baru juga dibaikin bentar langsung luluh. Si Salsa itu baiknya cuma sebentar, Bu. Paling nanti dia kumat lagi kayak dulu. Nggak inget apa, dulu dia sering banget ngelawan Ibu," ucap Bu Lena. Dialah mantan teman ghibah Bu Asih yang dulu sama-sama membenci Salsa.
"Nggak, Kok, saya percaya kalau dia sudah berubah. Sekarang kalian yang harusnya berubah agar tidak menjadi tetangga yang suka menceritakan keburukan tetangganya sendiri."
"Ya terserah kalian lah. Sudah, ya, saya mau nemuin Salsa dulu. Saya ngasih kalung emas buat dia. Kalian ngasih apa? Handuk, ya? Atau kain bekas hadiah dari orang? Atau jangan-jangan gelas mama papa? Kok ngasihnya cuma segitu doang, sih? Kalo nyeritain suaranya paling kenceng, giliran ngasih kado modal gratis."
Bu Asih pun melenggang pergi meninggalkan mereka yang saat ini sedang menatap kesal padanya. Jelas saja, yang dikatakan Bu Asih memang benar. Mereka memberikan kado bekas hadiah saat hajatan dari orang lain yang belum dipakai.
__ADS_1
Sementara Bu Asih beristighfar terus karena baru saja mengucapkan kalimat tidak baik pada mereka. Dia akan umroh, semestinya tak boleh seperti itu.
Dia pun segera menghampiri Salsa dan memeluk serta mengucapkan selamat padanya.
"Selamat, ya, Sa. Semoga sakinah mawadah warohmah," ucapnya sambil memberikan sekotak kecil hadiah yang berisi kalung emas pada Salsa.
"Makasih, ya, Bu."
"Kamu pikirkan lagi, ya tawaran Ibu. Kalau kamu mau, Ibu bisa kok masukin kamu ke yayasan Ibu buat jadi guru. Sayang kan ijazah kamu nggak terpakai."
"Heheh, iya, Bu, Salsa akan pikir-pikir lagi." Mungkin hanya kalimat itu yang bisa menyenangkan hati Bu Asih. Bukannya Salsa tidak mau. Namun, rasanya dia masih memiliki banyak kesalahan dan tak pantas mendapatkan kesempatan itu.
__ADS_1