Jangan Hina Aku

Jangan Hina Aku
Datang melamar


__ADS_3

"Apa, Za? Tante nggak salah denger?" tanya Dewi sambil menatap seorang pria yang merupakan Reza di depannya.


Sejak kedatangan Reza beberapa menit yang lalu, Dewi sudah mulai curiga dengan gerak-geriknya yang seperti hendak melamar putri bungsunya. Dan kecurigaannya kini pun terbukti. Reza datang memang untuk melamar Salsa.


"Iya, Tante, saya datang ke sini untuk melamar Salsa menjadi istri saya," ucapnya dengan tegas. Tanpa keraguan apalagi rasa takut. Dia sangat percaya diri karena sebelumnya Salsa sudah memberikan lampu hijau padanya.


Dewi melirik suaminya yang juga bingung dengan situasi ini. Mereka memang ingin Salsa menikah. Tapi, apakah harus dengan pemuda yatim piatu yang merupakan tukang ojek?


"Bagaimana, Yah?" ucapnya penuh keraguan. Meskipun dia tidak pernah memandang harta, namun menerima pemuda yang tak jelas asal-usulnya juga perlu pertimbangan.


"Kalau Ayah terserah Salsa," tulis Ramli di note digital miliknya.


"Kalau Tante, terserah Salsa. Maaf, ya, Za, sebelumnya ada 4 orang yang sudah melamar Salsa. Tapi mereka semua ditolak olehnya. Kamu jangan sedih ya jika Salsa melakukannya juga padamu," ujar Dewi dengan tatapan ragu. Dia tahu Salsa pasti akan menolak Reza.


Namun, beberapa saat kemudian, Dewi dan Ramli pun dibuat terkejut ketika Salsa setuju untuk menerima lamaran Reza.


"Aku menerima Mas Reza, Buk, Yah," sahutnya sambil mengangguk.

__ADS_1


"Apa, Sa? Kamu serius?" tanya Dewi.


"Iya, Buk, aku mau menerima Mas Reza sebagai calon suamiku. Aku rasa, dia adalah pria yang tepat untukku."


"Emm, sebentar, ya, Nak Reza, Tante mau ngobrol sama Salsa dulu." Dewi pun langsung mengajak Salsa pergi ke kamarnya untuk berdiskusi mengenai hal ini.


"Kamu udah gila, ya, Sa? Semudah itu kamu menerima lamaran dari dia?"


"Iya, Buk, aku mau menerima lamaran dari Mas Reza."


"Kenapa? Karena dia ganteng? Atau, apa karena dia nggak punya apa-apa? Terus gimana sama hidup kamu ke depannya kalau kamu menikah dengan seorang tukang ojek? Apa kamu mau sampai tua hidup susah?"


"Enggak, Buk. Sebenarnya udah lama aku suka sama Mas Reza. Kami bahkan kenal sebelum aku menikah dengan Bagas. Jadi, nggak ada yang perlu diragukan lagi. Dan soal harta, Mas Reza adalah sosok laki-laki pekerja keras. Aku yakin dia pasti akan berusaha untuk membahagiakan aku."


Mendengar ucapan Salsa, Dewi justru bingung. Bahkan sekarang dia berpikir bahwa Reza ingin memanfaatkan Salsa.


Mereka pun memutus pembicaraan dan segera kembali ke ruang tamu untuk menemui Reza dan Ramli.

__ADS_1


"Za, kalau boleh Tante tanya, kamu tinggal dimana?"


"Di gang mangga, Tante."


"Rumah sendiri atau ngontrak?"


"Ngontrak, Tante."


"Semisal lamaran ini kami terima, setelah menikah kamu mau tinggal di sini, kan? Kamu nggak perlu kerja lagi. Biar nanti dimasukin kerja ke perusahaan Abang ipar Salsa."


Mendengar ucapan Dewi, Salsa pun menatap heran. Jelas sekali ibunya hanya ingin mengetes Reza. Apakah dia berpikir bahwa Reza ingin memanfaatkan kesempatan jadi adik ipar Adit?


"Maaf, Tante, kalo soal itu. Saya nggak bisa tinggal di sini karena saya ingin mandiri bersama istri saya nantinya. Dan soal pekerjaan, saya juga nggak mau masuk kerja jalur instan. Apalagi saya cuma tamatan SMK. Insyaallah, saya akan bekerja keras untuk menafkahi istri saya dengan hasil keringat saya sendiri. Tante jangan khawatir, saya akan menjaga Salsa sepenuh hati saya."


Ucapan sungguh-sungguh Reza pun akhirnya membuat Dewi luluh dan menerima lamaran Reza malam itu juga.


Mereka pun langsung memutuskan tanggal pertunangan yang diadakan sebelum pernikahan di hari yang sama.

__ADS_1


Memang berat, karena Reza hidup sebatang kara di dunia ini tanpa orang tua atau saudara. Apalagi backgroundnya dari panti asuhan. Namun, jika Salsa sudah menerima, mereka bisa apa. Daripada melihat Salsa tak kunjung menikah, lebih baik mereka merestuinya saja asal Reza bisa meyakinkan bahwa dia akan membahagiakan Salsa.


__ADS_2