
Keesokan harinya, Salsa terlihat keluar kamar menuju ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk sang suami. Malam melelahkan yang mereka lewati tadi malam membuat Salsa dan Reza kembali tidur setelah salat subuh. Dan keluar kamar ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Salsa memang kesiangan hingga membuatnya terburu-buru pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan Reza.
Namun, baru saja dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam dapur, dia tertegun melihat beberapa orang ibu-ibu sedang membantu membereskan peralatan dapur yang disewa dari vendor yang ada di daerah itu.
"Eh, Sa, mau masak, ya? Ini udah Ibu masakin tadi," ucap Bu Asih sambil menunjuk ke arah meja makan. Di sana sudah tersaji dua piring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok yang sangat menggugah selera.
"Wah, makasih, Bu. Ini Ibu semua yang masak?" tanya Salsa heran. Setahunya, Bu Asih memiliki asisten rumah tangga dan dia tak pernah sekalipun terlihat memasak.
"Ya iyalah, memangnya kamu pikir Ibu nggak bisa masak?"
"Hehehe, Salsa nggak tau, Bu. Btw makasih, ya, Bu," ujar Salsa yang melangkah menuju ke meja makan untuk mengambil dua piring sarapannya dan Reza.
__ADS_1
"Eh, Sa, suamimu ngapain? Enak banget dia di kamar aja. Dari sini aja udah ketahuan kalau dia itu males. Pasti mau numpang hidup sama kamu, kan?"
Tiba-tiba saja Bu Mega berceletuk. Salsa juga tak menyangka keberadaan wanita tukang ghibah itu di rumahnya. Mengapa dia bisa ada di sini? Salsa pun melihat sekitar dan akhirnya mengetahui alasan mengapa Bu Mega ada di sini.
Sebuah talam besar berisikan dodol pun menjadi alasan utama keberadaannya di sini. Dan juga, masih ada sedikit daging yang bisa dibagikan ke tetangga. Ibunya memang sengaja menyimpan daging dan dan memasaknya pagi ini untuk dibagikan kepada tetangga.
"Enggak, kok, Bu. Mas Reza lagi bantuin bapak-bapak di depan buka tenda," sahut Salsa dengan sabar. Tak perlu terpancing emosi untuk orang seperti Bu Mega. Tetangga yang sangat pelit dan perhitungan. Memanfaatkan anaknya yang penurut serta menantunya yang juga menurutnya sangat bodoh karena mau memberikan gajinya pada sang mertua. Padahal gaji suaminya sudah dipegang oleh sang mertua.
Entahlah, banyak kabar yang beredar, katanya Bu Mega menggunakan magic dari Mbah dukun untuk membuat anak dan menantunya patuh padanya.
"Tadi pagi kami udah bangun, kok, Bu. Kami salat subuh. Tapi habis itu tidur lagi. Karena berdiri berjam-jam menyalami para tamu juga sangat melelahkan. Kecuali kalau kami duduk sambil mencibir yang punya hajatan, barulah kami nggak lelah."
"Kamu nyindir saya, ya?"
__ADS_1
"Lho, kenapa tersindir, Bu? Emangnya Ibu kayak gitu?"
"Ya enggaklah! Kamu itu kalau dibilangin sama orang tua malah melawan. Kalau saya dapat menantu seperti kamu, sudah saya pecat sejak hari pertama."
"Kerja kali, pake dipecat segala. Oh ya, bilangin sama anak gadis Ibu, kalau kerja jangan suka pulang subuh, nggak enak, lho di liat tetangga."
Setelah mengatakan hal itu, Salsa pun pergi ke ruang tamu untuk memanggil Reza agar sarapan bersama.
"Hah? Si Tina pulang pagi, Bu?" tanya Bu Asih.
"Enggak, Bu, dia lembur, makanya pulang pagi."
"Duh, hati-hati, lho, Bu. Bahaya anak gadis kerja sampai pagi. Memangnya Tina kerja apa sih, Bu?"
__ADS_1
"Eh, anu itu, duh, saya lupa kalau lagi merebus air dan belum mematikannya. Saya pulang dulu, ya, Bu." Bu Mega yang terlihat gugup langsung pergi meninggalkan rumah itu.
Bu Asih hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Mencibir orang nomor satu, tapi tidak pernah melihat dirinya sendiri yang jauh lebih parah dari orang yang dicibir.