
"Kenapa, Ti? Kamu iri karena Salsa dapat suami kaya? Sedangkan kamu punya suami pengangguran ngaku manager, hahaha."
Bukannya didengarkan, Siti malah dibully sesibuk komplek. Mereka tertawa melihat Siti yang seperti tak terima diejek seperti itu.
"Ya kita kan gak tau nasib ke depannya gimana. Siapa juga yang iri sama janda bekas KDRT gitu."
"Ti, kamu kan temen deketnya Salsa, kok jadi kayak gini, sih? Kayaknya kamu iri deh, ya. Suami Salsa kan ganteng, kaya, baik, nggak kayak suami kamu yang banyak minusnya, hahaha."
Mendengar ejekan mereka, Siti pun langsung pulang sambil menahan tangis. Dia juga mengepal erat tangannya lantaran merasa dendam pada Salsa.
"Kenapa, Ti?" tanya Ismi yang melihat Siti baru saja masuk ke dalam rumah sambil menangis.
"Aku diejek mereka, Mbak. Katanya aku iri sama Salsa, padahal kan enggak. Udahlah, mending kita pindah rumah aja, Mbak, aku nggak suka sama orang-orang di komplek ini. Mereka semua menyudutkanku."
Ismi memandangi Siti dengan tatapan penuh prihatin. Dilihatnya tubuh Siti yang kurus kering dan wajah yang tampak lebih tua dari umurnya. Pasti dia lelah dan kurang tidur karena bekerja demi membiayai hidup mereka yang kekurangan.
Sekarang Ismi sudah bercerai dari suaminya. Menjadi janda dan bekerja demi menghidupi anak semata wayangnya.
__ADS_1
"Ti, kamu mending istirahat, ya. Nanti Mbak akan pertimbangkan untuk pindah dari sini. Tapi, cobalah belajar untuk ikhlas, Ti. Hidup yang kita jalani ini adalah takdir dari Allah. Allah telah menegur kita agar jangan bersikap sombong. Kamu paham, kan, Ti," ucap Ismi sambil tersenyum lembut.
Siti hanya mengangguk pelan, lalu masuk ke dalam kamarnya dan menangis tersedu-sedu.
*****
Keesokan harinya, dengan mata sembab dan wajah kusam, Bu Lena pun mendatangi kediaman Salsa dan menangis meminta maaf. Rupanya tadi malam dia tak bisa tidur lantaran memikirkan nasib anaknya yang dia kira sudah dipecat.
"Sa, maafkan saya, ya. Saya selama ini jahat sama kamu. Sering ngatain kamu padahal kamu udah berubah. Jangan pecat Panji, ya, Sa, kasihan dia," ucapnya yang masih berderai air mata.
"Iya, Bu, Insyaallah, saya udah memaafkan Ibu. Semoga saja permintaan maaf ini tulus dari hati Ibu, bukan karena Panji." Salsa tersenyum pada Bu Lena.
"Oke, jadi sekarang anaknya mau dipecat atau naik jabatan?" tanya Reza yang langsung membuat Bu Lena terkejut. Ternyata tawaran itu masih ada.
"Naik jabatan, Za. Eh, tapi kalau saya terlihat serakah, balikin jadi karyawan kamu juga nggak papa, Za, yang penting jangan dipecat."
Ucapan Bu Lena membuat mereka terkekeh geli.
__ADS_1
"Dia akan saya naikkan jabatan sebagai manager umum. Bukan karena Bu Lena, tapi karena selama ini dia bekerja dengan jujur. Waktu ada anak dari warga sini yang melihat saya di perusahaan, waktu itu saya sedang melakukan tes kepada beberapa karyawan yang saya pilih. Dan hanya ada anak ibu dan temannya yang lolos. Makanya, dia akan saya naikkan jabatan."
"Beneran, Za? Alhamdulillah, terima kasih, ya," ucap Bu Lena sambil tersenyum senang di tengah air matanya yang hampir mengering di pipi.
"Ya udah, sekarang Ibu pulang, mandi, dandan yang cantik. Hari ini ibu-ibu dan anak-anak di komplek mau saja ajak jalan-jalan ke pantai. Suami juga boleh ikut. Udah saya reservasi, jadi kita bebas di sana. Makan, berenang, foto, souvernir, semua gratis."
Mendengar ucapan Reza, mereka semua pun bersorak sorai. Segera pulang ke rumah masing-masing dan bersiap pergi. Sepuluh menit kemudian, datanglah tiga bus pariwisata yang besar. Bus itu mengangkut semua orang yang ikut. Hanya ada beberapa suami yang ikut karena istrinya hamil, dan anak yang masih kecil.
Siti dan Ismi tidak ikut karena mereka mengambil hari libur untuk lembur karena hari ini adalah tanggal merah. Dan alasan lain karena memang Siti yang malu pada mereka semua.
Sesampainya di pantai, mereka pun menikmati liburan di pantai yang indah dengan fasilitas gratis dari Reza.
Terlihat Salsa dan Reza saling bergandengan tangan sambil menatap para warga yang sedang menikmati indahnya pantai ini.
"Aku mencintaimu, Salsa," bisik Reza.
"Aku juga, Mas. Bahagiaku, karena dirimu."
__ADS_1
Mereka saling memandang dan melemparkan senyuman. Mempererat genggaman, lalu ikut berbaur dengan warga lain yang sedang duduk menikmati ombak laut yang indah.
TAMAT