Jangan Hina Aku

Jangan Hina Aku
Teman masa begitu?


__ADS_3

"Mas, kamu apa-apaan sih ngomong kayak gitu ke tetangga baru kita. Baru kali ini loh aku melihat kamu kasar kayak gitu sama orang."


Helena melupakan semua rasa kesalnya pada Gilang setelah mereka masuk ke dalam rumah. Bukannya dia kesal karena Gilang mereka, namun karena seharusnya yang bersikap sombong seperti itu adalah dirinya.


"Kenapa? Bukannya kamu senang kalau ada orang yang terhina kayak gitu. Ya biarin saja, siapa suruh jadi orang belagu." Gilang tak menghiraukan perkataan istrinya.


"Ya, tapi, gelagat kamu itu mencurigakan, Mas. Kamu seperti udah mengenal mereka. Dan tadi kamu sengaja menawarkan mereka berbagai pekerjaan padahal kamu lagi nggak butuh." Helena menatap curiga pada sang suami yang sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Udahlah, kamu itu berisik banget sih jadi orang. Kamu nggak perlu mencampuri urusanku. Kan kamu udah bahagia hidup sama aku yang mapan dan kaya. Tiap bulan kamu bisa pamer sama teman-teman kamu! Kurang baik apa aku sama kamu?"


"Kamu itu memang udah ngasih segalanya buat aku, Mas. Tapi satu hal yang gak bisa kamu kasih aku. Yaitu cinta!"

__ADS_1


Gilang pun terdiam mendengar ucapan Helena. Wanita ini benar, dia memang tidak bisa memberikan cintanya pada Helena. Bahkan malam-malam panas yang sering mereka lalui pun tak dilakukan karena cinta. Setiap Gilang mengingat wajah Salsa dan merindukannya, dia akan menemui Helena dan memintanya membantu menyalurkan hasratnya. Meski dia sedang bersama dengan Helena, namun yang ada di pikirannya saat itu adalah Salsa. Dia berfantasi seolah-olah sedang bersama dengan Salsa.


"Hei, Helena, bukankah kamu sendiri yang dulu datang padaku dan memohon untuk menerimamu menjadi kekasihku? Kamu bahkan merendahkan harga dirimu sampai berlutut di hadapanku. Dan sekarang, setelah aku sudah menjadi milikmu, lantas kamu ingin meminta lebih? Helena, harusnya kamu tahu batasanmu. Jika kamu masih mau terus bersama aku, maka jangan pernah mencampuri urusanku!"


Gilang pun pergi meninggalkan Helena yang saat ini sedang menitihkan air matanya. Dia tak menyangka jika sang suami ternyata memang tidak pernah mencintainya sedikitpun.


Sementara itu.


Siti terlihat sedang mengunggah foto terbarunya yang diambil tadi siang. Backgroundnya adalah taman belakang rumah majikannya.


[Wah, cantik banget, Kak. Backgroundnya juga cakep. Spill dong, Kak.]

__ADS_1


[Duh, nggak sempet, Beb. Soalnya saya sibuk.]


[Wah, makin cantik aja istri Pak Manager ini.] Tiba-tiba sebuah akun lain yang Salsa kenal pun juga ikut berkomentar. Rupanya itu adalah kakak kandung Siti yang tinggal bersama orang tua Siti. Namanya adalah Ismi, seorang pegawai toko baju. Sedangkan suaminya katanya merantau dan bekerja sebagai kontraktor. Tapi, Salsa suka heran, karena suami Ismi tak pernah mengirim uang. Alasannya karena uangnya ditabung suaminya untuk modal usaha dan membangun rumah baru. Entahlah, Salsa tak ingin memikirkannya.


[Makasih, Kakak sayang.]


[Mana nih suaminya kok nggak diajak foto.]


[Dia lagi sibuk, Kak. Maklum, manager kan banyak kerjaan.]


[Semoga kelak adek kita, si Nana juga mendapatkan jodoh seorang manager bukan tukang ojek, hahaha.]

__ADS_1


Salsa tertegun melihat komen kakaknya Siti. Apa maksudnya? Apakah dia sedang menyindir Salsa karena suaminya adalah seorang tukang ojek?


[Amin, Kak. Semoga aja, ya. Kan kasian kalau Nana dapat jodohnya tukang ojek. Percuma kan dia kuliah kalau jodohnya malah tukang ojek kayak si beliau. Padahal kakaknya dapat suami CEO, ayahnya PNS, ibunya punya toko besar dan terkenal. Ya kali, milih jodoh tukang ojek karena tampang ganteng doang. Janda sih janda, tapi masa milih suami nggak bisa, wkwkw.]


__ADS_2