Jangan Hina Aku

Jangan Hina Aku
Mulut manis


__ADS_3

"Besok kamu kan libur. Aku jemput, ya. Rumah berantakan banget. Kan kamu tahu sendiri aku nggak bisa ngerjain pekerjaan perempuan. Maaf, ya, Sayang. Setiap hari libur kamu selalu meluangkan waktu untuk membersihkan rumah."


"Nggak papa, Mas, aku cuma nggak mau kalau kamu capek. Malemnya aku tidur di rumah, ya. Udah lama kita nggak berduaan, hihi." Siti semakin tersipu malu.


"Iya, Sayang. Mas juga kangen sama kamu." Agus mencolek dagu Siti hingga membuatnya semakin tersipu malu.


"Udah ah, Mas, entar ada yang lihat. Aku balik kerja dulu, ya." Siti yang sudah kehabisan waktu pun segera pergi meninggalkan sang suami yang melambaikan tangan padanya.


Dia berjalan ke rumah majikannya dengan senyuman sumringah. Persis seperti bocah puber yang habis bertemu dengan kekasih.


"Bucin sih bucin, tapi masa sampai segitunya," gumam Salsa ketika Siti sudah pergi menjauh.


"Huss, nggak boleh ngomong gitu, Sayang. Mending sekarang kita lanjut jalan ke gang depan. Kalau kamu capek, sini Mas gendong." Reza mencoba untuk menggoda Salsa. Membuat wanita itu tertawa cekikikan melihat kejahilan sang suami.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan langkah untuk mencapai gang depan di mana mereka akan dijemput oleh taksi yang mereka pesan.


Namun, saat itu, mereka melihat Agus sedang mengobrol bersama temannya hingga membuat Salsa dan Reza kembali bersembunyi.


"Darimana loe, Gus?"


"Habis nemuin bini gue. Minta duit buat jajan!" Agus membebaskan uangnya di depan temannya.


"Widih, enak bener yang punya istri bucin. Loe nggak kasian morotin dia terus. Harusnya kan loe yang kerja, kok malah bini loe?"


"Makanya jadi laki itu pinter dikit. Gue ganteng, pinter ngegombal, ya jelas bini gue klepek-klepek." Agus tersenyum penuh kebanggaan.


"Ya tapi kan kasian juga si Siti loe suruh kerja, sementara loe make uangnya buat jalan sama cewe lain. Pasti habis ini loe ke OYA, kan?"

__ADS_1


"Hehe, loe tau aja. Ya gue mah males sama dia. Udah kucel, jelek, dekil, pembantu lagi. Ya mending gue jajan sama cewe machet dong."


"Yaelah, Gus, dia kan kayak gitu karena kerja buat loe. Kalau loe mau bini cakep kayak si Salsa, loe harus kerja kayak Reza. Giat bener tuh anak."


"Ya gengsi lah gue kerja jadi kang ojol. Walaupun gue tamat SMA, tapi cita-cita gue pengen kerja kantoran dan punya gaji banyak."


"Dih, mimpi, loe, Gus! Gue aja yang sarjana susah cari kerja yang bagus. Jadi karyawan tetap aja gue bersyukur banget."


"Loe sih, nggak ngerti gimana caranya memanfaatkan istri. Ngapain capek-capek kerja kalau ada istri bucin yang mau melakukan segalanya buat loe. Loe juga ganteng, tapi malah capek-capek kerja."


"Gus, ganteng itu bonus. Kerja itu harus."


"Dah, ah, loe jangan sok ngajarin gue. Bilang aja loe iri, kan? Makanya, punya otak dipake kayak gue. Dah ah, gue mau ketemuan sama cewek machet gue."

__ADS_1


Agus pun pergi meninggalkan temannya yang kini menggelengkan kepala melihat tingkah lakunya.


"Kasian banget si Siti, ya, Mas. Ternyata dia cuma dipermainkan sama suaminya. Dijadiin sapi perah, terus diselingkuhi. Tapi biarlah, toh dia yang bucin sama kegantengan suaminya. Buat apa mikirin dia yang nyatanya membenci aku. Untung aja suami aku nggak kayak gitu." Salsa merangkul pinggang Reza dengan mesra.


__ADS_2