
"Mas, aku pergi arisan dulu ya." Helena mencium panggung suaminya sebelum dirinya berangkat ke arisan temannya.
"Iya, hati-hati, ya," ujar Gilang sambil melambaikan tangannya pada sang istri yang sudah masuk ke dalam mobil. Dengan diantar sopir, dia pun segera pergi ke acara arisan teman yang berjarak setengah jam dari rumahnya.
Setelah Helena pergi, Gilang pun melirik rumah Salsa yang tampak sepi. Pintu dan jendela sudah tertutup rapat. Dia menyunggingkan senyumnya karena rencananya berhasil. Dialah orang yang telah membuat Reza kehilangan ban sepeda motornya. Bermodalkan orang suruhannya, dia berhasil membuat Reza tak bisa pulang ke rumah tepat waktu.
Tadinya dia hanya berniat akan bertamu ke rumah Salsa layaknya seorang tetangga. Namun, ketika hujan turun dan mati listrik, niat itu pun seketika berubah. Dia ingin sekali memiliki Salsa barang satu malam. Tidak enak rasanya jika hanya membuatnya menjadi fantasi liar saja. Lebih baik menjadikannya objek secara langsung.
Karenanya, saat hujan melanda, Gilang pun mengeluarkan sepeda motornya dan mengendarainya ke rumah Salsa agar wanita itu beranggapan bahwa yang pulang adalah Reza.
__ADS_1
"Mau apa kamu, Mas!" Salsa memundurkan langkahnya ketika Gilang melangkah maju untuk mendekatinya. Tepat setelah seluruh tubuhnya masuk ke dalam, dia pun langsung mengunci pintu.
"Jangan macem-macem, kamu, Mas!" Salsa semakin panik dengan tindakan Gilang barusan. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dari tatapan maupun gerak-gerik Gilang, dia tahu bahwa pria itu sedang menginginkannya.
"Tenang saja, Salsa. Aku di sini hanya untuk menemanimu dalam kegelapan. Menghangatkanmu dalam kedinginan. Aku akan melakukannya lebih baik dari suamimu. Percayalah, kamu akan mencari ku terus setelah ini," ucap Gilang dengan seringai mautnya.
"Mas, jangan gegabah, istighfar, Mas. Kita itu ditakdirkan nggak berjodoh. Aku menolak lamaran kamu bukan untuk menghina kamu. Oke, aku minta maaf. Tapi tolong, jangan lakuin ini, Mas. Aku sangat mencintai suamiku dan nggak akan menodai pernikahan kami! Kamu juga harus menghormati istri kamu!" Salsa mencoba mengingatkan Gilang. Mungkin saja ketika dirinya membicarakan tentang istri, Gilang akan mengurungkan niat jahatnya.
"Tapi, semua udah berakhir, Mas! Kamu nggak bisa memaksakan semuanya. Tolong, Mas, jangan ganggu aku!"
__ADS_1
"Udahlah, Sa, mau seperti apapun kamu memohon, aku akan tetap melanjutkan ini! Aku sangat mencintai kamu, Sa! Kamu harus menjadi milik aku! Setelah aku melakukan semua ini padamu, pasti Reza nggak akan mau lagi sama kamu! Setelah itu aku akan menceraikan Helena dan kita akan menikah!" Gilang terlihat semakin menggila.
"Ayo, sini, Sayang. Mendekat lah, izinkan aku merasakan hangatnya tubuhmu. Jangan berpura-pura menolak. Aku akan berikan berapapun yang kamu mau. Daripada kamu hidup susah, mending sama aku aja! Untuk apa bersama laki-laki miskin itu?"
"Mas, sadar, Mas! Bukan ini yang aku mau! Aku menikah dengan Mas Reza karena aku sangat mencintainya! Harta nggak penting bagiku!"
"Jangan munafik, Sa, semua wanita itu suka uang. Buktinya Helena. Dia mati-matian mengejarku ini bisa menjadi istriku agar hidup bergelimang harta."
"Tapi aku bukan dia, Mas!"
__ADS_1
"Terserahlah, aku nggak peduli! Yang aku mau malam ini aku harus mendapatkan kamu!"
"Jangan, Mas! Toloooong! Toloooong!" Salsa berteriak meminta tolong di tengah hujan deras yang takkan membuat suaranya didengar orang. Suara berisik akibat hujan yang berjatuhan ke genteng, akan membuat suaranya seperti diredam. Apalagi jarak dari rumah ke rumah tidak menempel. Dibatasi pasar tembok yang tinggi. Dan rumah penghuninya menjorok ke tengah. Salsa pasti takkan bisa berbuat apapun.