Jangan Hina Aku

Jangan Hina Aku
Bukan orang biasa


__ADS_3

"Za, kenapa Sala kok gitu?" tanya Dewi sambil menghadang langkah Reza agar tak ikut masuk ke dalam rumah.


"Aku jelasin di dalam aja, ya, Buk," ucap Reza.


"Nggak, kamu jelasin sekarang kenapa Salsa bisa kayak gitu?" Terlihat Dewi yang sangat marah pada menantunya yang satu ini.


"Aduh, gimana, ya, jelasinnya." Reza terlihat bingung, apalagi banyak warga yang mendekat dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka.


"Ya jelasin aja, Za. Pasti Salsa marah karena kalian kesulitan ekonomi, kan? Nggak usah malu, orang yang baru menikah memang sering diterpar masalah kayak gitu. Apalagi kamu itu cuma tukang ojek, gaji kamu berapa sih sehari. Untuk makan aja susah, kan?" cibir Bu Lena yang tiba-tiba datang dan memarahi Reza.


"Nggak, Bu, bukan itu. Anu, Salsa marah karena saya bohongin dia."


"Bohongin gimana? Kamu selingkuh dari Salsa?" tanya Dewi yang emosinya hampir mencapai ubun-ubun.

__ADS_1


"Eh, enggak, Bu. Demi Allah aku mencintai Salsa sepenuh hatiku." Reza dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Jadi karena apa, dong? Kamu bohongin dia gimana? Atau, kamu ini punya hutang dimana-mana, ya? Terus Salsa tahu?" Lagi-lagi Bu Lena menuduh seenaknya.


"Enggak, Bu. Saya nggak punya hutang sedikitpun. Saya bohongin dia karena selama ini saya nyamar jadi tukang ojek. Sebenarnya saya ini pimpinan perusahaan FA," sahut Reza hingga membuat semua orang yang ada di sana.


Namun, mereka semua malah tertawa terbahak-bahak.


"Saya jujur, Bu. Saya nggak bohong. Sekarang kalian tanya aja siapa nama pemimpin PT FA. Pasti namanya Fahreza. Dan itu nama lengkap saya." Reza mencoba menjelaskan.


"Aduh, Dewi, kayaknya menantumu ini udah gil*. Dia sedang berkhayal seakan-akan dirinya pemimpin perusahaan itu."


"Tapi emang bener, kok. Ini, barusan saya lihat di internet." Bu Asih pun datang dan menunjukkan ponselnya yang berisikan pencarian atas nama Fahreza pemilik PT FA. Ternyata benar, wajah Reza yang sedang memakai jas pun terpampang nyata di sana. Reza tahu ini pasti perbuatan sekretarisnya karena dia yang memerintahkannya tadi.

__ADS_1


Karena dia tahu kedatangan mereka di komplek perumahan ini akan menimbulkan tanda tanya yang besar. Orang-orang juga tidak akan mempercayai bahwa dia adalah pimpinan PT FA jika tidak ada bukti.


"Udahlah, paling ini cuma editan doang karena kan Bu Asih ini paling dekat sama Salsa." Bu Lena mencoba memprovokasi warga lain.


"Bu, anak Ibu yang kedua kerja di PT FA, kan? Siapa namanya? Panji? Ibu maunya Panji naik jabatan atau dipecat?"


"Heh, kamu kira saya percaya dengan akal-akalan kamu ini? Ya udah, coba pecat si Panji, ngayal deh kamu pas mecat dia, haha." Bu Lena kembali tertawa lebar.


Reza pun segera mengetikkan sebuah pesan pada sekretarisnya. "Kita tunggu beberapa menit lagi, ya, Bu," ucapnya setelah mematikan panggilan telepon itu.


Dan tak berselang lama, Panji, anak kedua Bu Lena pun datang dengan keadaan panik.


"Buk! Buk! Aku dipecat, Buk! Katanya aku harus nanya Ibu kenapa aku dipecat. Kenapa, Buk? Aku nggak mau kehilangan pekerjaanku, Buk. Gimana dong!" Panji terlihat mengguncang tubuh Bu Lena yang mematung. Ternyata benar, Reza telah menepati janjinya.

__ADS_1


__ADS_2