Jangan Hina Aku

Jangan Hina Aku
Menyakitkan


__ADS_3

Lagi-lagi Gilang meninggi dan membanding-bandingkan dirinya dengan Reza yang bisa mencukupi kebutuhan istrinya. Apa maksudnya? Apakah dia ingin menunjukkan pada Salsa bahwa jika dulu Salsa mau menikah dengannya, tentu dia tidak perlu tinggal di rumah sempit dan ekonomi menengah ke bawah.


"Iya, benar, Mas. Insyaallah saya bisa memenuhi kebutuhan istri saya meskipun tidak mewah. Yang perlu dilakukan adalah menyeimbangkan antara kebutuhan lahir dan batin. Jangan sampai kita bisa memenuhi kebutuhan istri, tapi istri nggak bahagia karena batinnya tersiksa."


Mendengar hal itu, tentu saja Gilang terkejut karena seolah Reza sedang menyindir dirinya.


"Jelas saja istri saya bahagia. Saya tentu nggak akan melupakan kebutuhan lainnya."


"Alhamdulillah kalau gitu, Mas."


"Oh ya, kebetulan di restoran saya ada lowongan pekerjaan sebagai cleaning servis. Kerjanya hanya membersihkan restoran sebelum buka dan setelah tutup. Gajinya lumayan besar, karena restoran saya ini sangat terkenal dan ramai. Apakah Mas bersedia?"


"Wah, terima kasih, Mas. Tapi saya sudah nyaman dengan pekerjaan saya sebagai tukang ojek."

__ADS_1


"Jangan egois, Mas. Di restoran saya kamu dapat BPJS, bonus tiap tahun, dan juga makanan yang enak."


"Saya nggak egois, Mas. Hanya saja, saya sudah nyaman dengan pekerjaan saya yang sekarang. Biarpun hanya pekerjaan kecil, tapi saya akan berusaha kerja lebih giat demi istri saya." Reza tetap menolak dengan sopan. Membuat Salsa kagum padanya yang tak mudah terpancing emosi. Karena saat dia melihat Gilang, pria itu terlihat sedang menahan emosi.


"Ya sudah, nggak apa-apa. Tapi, kalau sewaktu-waktu kamu memerlukan pekerjaan, silakan datang ke restoran saya. Banyak lowongan untuk Mas. Ada cleaning servis dan tukang cuci piring."


"Iya, terima kasih atas tawarannya, ya, Mas."


"Oh ya, buat istri Mas, kalau dia mau, dia bisa kok kerja di rumah saya sebagai asisten rumah tangga. Meskipun kami sudah punya dua asisten rumah tangga, tapi saya masih bisa memperkejakan satu lagi."


"Maaf, Mas, tapi saya nggak akan pernah membiarkan istri saya bekerja, apalagi menjadi asisten rumah tangga."


"Aduh, jangan gengsi, Mas. Banyak kok istri yang membantu suaminya bekerja. Jangan hanya karena gengsi, Mas membiarkan hidup kalian berdua susah."

__ADS_1


"Tapi kami nggak pernah ngerasa hidup susah, Mas. Terima kasih atas tawarannya. Istri teman sesama ojek saya katanya juga sedang mencari pekerjaan. Biar saya tawarkan saja padanya."


"Ah, nggak, Mas. Saya mau mempekerjakan istri kamu karena kita adalah tetangga. Tapi kalau nggak mau, ya sudah. Nggak papa, namanya juga baru nikah, pasti masih senang-senangnya. Coba kalau nanti beras habis, banyak cicilan, pasti bakalan butuh kerjaan juga. Hubungi saya kalau istri Mas mau, ya."


"Iya, Mas, terima kasih atas tawarannya. Oh ya, kalau nggak keberatan, kami mau istirahat. Terima kasih atas makanan yang telah Mas bawa."


Gilang tersinggung dengan ucapan Reza yang seolah mengusirnya.


"Ya, baiklah, kami akan pergi. Silakan dicicipi, kalian kan jarang makan makanan seperti ini. Siapa tahu nanti setelah memakan makanan ini kamu mau bekerja di restoran saya."


"Iya, Mas, sekali lagi terima kasih, ya."


Gilang dan Helena pun segera pergi dari rumah mereka. Setelah pintu ditutup, Reza langsung menghampiri Salsa dan memeluknya dengan erat. Wanita itu langsung menumpahkan kesedihannya dipelukan sang suami. Betapa sakit hatinya karena diperlakukan seperti tadi. Hinaan yang diucapkan Gilang memang sangat menyakitkan baginya.

__ADS_1


"Udah, Sayang, jangan nangis. Mas nggak akan biarkan dia menyakiti kamu lagi. Mas tahu kok, dulu, dia itu pernah melamar kamu dan ditolak."


Salsa sedikit terkejut karena Reza mengetahuinya. Pasti karena Reza sangat mencintaimu sehingga dia selalu memerhatikan kehidupan sang pujaan hati.


__ADS_2