
Betapa terkejutnya Salsa ketika melihat Reza yang masih sehat walafiat. Bahkan Anisa dan Adit masih bergandengan tangan seperti tak terjadi apa-apa.
"Lho, Mas Reza nggak papa?" tanyanya bingung.
"Kenapa? Khawatir, ya? Makanya jangan suka ngambek!" Anisa pun mendekati Salsa dan mencubit hidungnya.
"Aduh, sakit, Kak." Salsa mengusap hidungnya yang kemerahan karena Anisa.
"Kamu itu, udah dikasih suami super baik yang ada nilai plusnya malah ngambek. Ya bukan salah dia kalau dia pura-pura miskin karena kamu nyari suami yang nggak kaya! Kamu itu egois banget, sih!" Anisa mencubit pipi Salsa dengan gemas.
"Aduh, Mbak, sakit. Iya, iya, aku minta maaf karena salah. Habisnya aku kesal kalau dibohongin kayak gitu. Kenapa nggak dari awal aja jujurnya."
"Masih aja ngeyel nih anak. Aku jitak lama-lama kamu, ya." Anisa bersiap menjitak kepala Salsa. Namun, dengan cepat dia menghindar. Berlindung di belakang Reza yang tertawa melihatnya.
__ADS_1
"Jadi, sekarang kamu nggak marah lagi, kan?" tanya Reza dengan tatapan penuh harap.
"Ya, Mas, aku nggak marah lagi. Tapi, lain kali kamu nggak boleh bohong sama aku."
"Iya, aku janji. Aku sayang sama kamu, jadi aku nggak akan pernah bohong sama kamu. Oh ya, kita nggak usah tinggal di kota itu lagi, ya. Kita tinggal di kota ini aja. Di rumahku. Dan bulan depan, kita adakan resepsi pernikahan kita secara besar-besaran. Aku nggak suka ada yang menghina kamu, apalagi gara-gara aku." Reza mengusap pipi Salsa dengan lembut.
"Aku nggak pernah merasa terhina dengan adanya kamu, kok, Mas. Aku nggak papa meski setiap hari mereka menghina aku. Kan emang aku yang salah karena memiliki masa lalu yang kurang baik."
"Hah? Bu Lena? Kenapa?"
"Ya karena dia nerima tantangan aku. Aku bilang sama dia kalau mau pembuktian bahwa aku adalah pemimpin PT FA, dia mau aku pecat anaknya atau naikin jabatannya? Terus dia milih dipecat. Ya udah, aku pecat, tapi sebenarnya bukan dipecat asli. Dia hanya aku suruh bekerja dari rumah dan boleh kembali masuk ke kantor setelah ibunya minta maaf sama kamu."
"Kamu nggak boleh kayak gitu, dong, Mas. Kasian Panji, dia anaknya baik, lho."
__ADS_1
"Nggak papa, kan udah aku bilang kalau dia nggak dipecat beneran. Bisa-bisa aku kena pelanggaran hak pekerja lagi. Udahlah, ngapain juga kamu mikirin Bu Lena. Mending kita makan malam bareng, yuk." Reza pun mengajak semua anggota keluarga menuju ke ruang makan. Karena sebelumnya dia sudah memesan makanan dari restoran untuk mereka nikmati bersama di rumah itu.
Sedangkan di sekitar rumah itu, terlihat banyak tetangga yang sedang bercerita mengenai Reza.
"Wih, untung aja saya selama ini nggak pernah julid sama Salsa," ucap salah seorang tetangga pada teman-temannya.
"Iya, ternyata si Reza itu orang kaya. Bu Lena nih ketar-ketir anaknya dipecat. Pake gengsi segala lagi."
"Makanya punya mulut itu jangan terlalu ember. Mending diem-diem aja. Kita juga nggak tahu gimana nasib orang yang kita hina."
"Halah, ngapain sih ibu-ibu bilang kalau Salsa itu beruntung. Palingan nanti dia bernasib kayak dulu lagi karena suaminya orang kaya."
Tiba-tiba saja Siti datang. Matanya masih menatap sinis pada rumah Salsa. Menunjukkan betapa tak sukanya dia ada wanita itu.
__ADS_1