
Bu Rina pun terdiam mendengar ucapan Dewi. Dirinya memang tidak pernah tahu seperti apa kehidupan menantunya di perantauan.
"Iya, entar saya kesana. Tapi kan pakai ongkos. Entar deh, saya ke rumah Siti dulu minta duit. Mungkin hai saya ke sana suaminya mau ngasih. Soalnya kata Siti suaminya itu nurut banget sama dia. Katanya berkali-kali dia mau ngasih saya. Tapi Siti tahan karena masih banyak biaya yang dibutuhkan."
"Hah? Ibu mau kesana?" tanya Salsa tak percaya.
"Iya. Kenapa? Mau ikut? Yuk, biar Ibu tunjukin rumahnya Siti yang besar itu."
"Eh, enggak, Bu. Mending ibu ngabarin dia dulu deh sebelum datang ke sana. Takutnya kan kalau nanti ibu datang dia nggak di rumah, bakalan repot."
"Enggaklah, cuma jarak satu jam doang, kok. Sore ini kami bisa kesana."
"Ja-jangan, Bu. Kan udah sore. Mending besok saja."
"Eh, kok jadi kamu yang ngatur. Ya suka-suka saya lah mau dateng jam berapa aja."
__ADS_1
Bu Rina pun segera pergi meninggalkan mereka. Mengajak Ismi untuk pergi ke rumah Siti tanpa memberitahunya karena ingin memberi surprise.
Sedangkan Salsa yang panik pun berpura-pura ke kamar mandi untuk mengirimkan pesan pada Siti. Untung saja di ponselnya masih tersimpan nomor HP Siti sehingga dia bisa langsung mengirimkan pesan padanya.
"Siti! Ibu kamu katanya mau ke rumah kamu. Barusan bilang sama kami di sini." Itulah pesan Salsa padanya.
Tingg, terdengar bunyi balasan pesan dari Siti.
[Nggak usah bohong kamu! Kalau ibu aku mau kesini, pasti dia bilang. Lagian aku udah bilang sama mereka supaya nggak ke sini. Nggak usah sok nakut-nakutin aku. Nggak mempan!]
Bukannya berterima kasih karena sudah diberitahu. Siti malah seakan menuduh Salsa sengaja menakut-nakutinya. Dia yakin jika ibunya tak mengabari dulu, maka mereka tak mungkin datang ke sana.
[Heh! Orang aneh! Nggak usah fitnah kamu! Mana mungkin suami aku kayak gitu. Dia bukan tipe lelaki hidung belang. Dia itu setia sama aku. Dan aku juga nggak merasa dimanfaatkan oleh dia. Aku melakukan semua ini karena kemauanku sendiri, bukan karena dipaksa. Udah deh, nggak usah ikut campur kamu! Dasar perempuan penggoda!]
Salsa hanya menghela nafas panjang. Apalagi ketika dia melihat foto profil Siti sudah tidak ada lagi yang artinya wanita itu telah memblokir nomornya.
__ADS_1
Setelah dia keluar dari kamar mandi, Dewi yang sudah ditinggalkan para tamunya pun menghampirinya dengan wajah khawatir.
"Sa, kenapa, Nak?"
"Buk, Bu Rina jadi pergi?" tanya Salsa masih khawatir.
"Iya, Nak. Baru aja Ibu lihat Bu Rina pergi sama Ismi naik taksi. Kenapa?"
"Duh, gimana, Buk? Siti pasti bakalan ketahuan." Salsa mendudukkan dirinya ke sofa dengan wajah cemas.
"Hah? Ketahuan gimana?" Dewi semakin heran dan penasaran dengan ucapan Salsa.
"Buk, selama ini Siti itu bohong. Suaminya bukan manager. Cuma pengangguran. Siti lah yang kerja sebagai asisten rumah tangga di rumah yang selalu diakui sebagai rumahnya."
"Hah? Yang bener kamu, Sa? Masa sih? Ibuk nggak percaya ah."
__ADS_1
Salsa sudah menduga ini. Mana mungkin ibunya percaya pada perkataannya sebelum adanya bukti yang jelas?
"Ya udah terserah. Kita lihat aja nanti malem gimana pas mereka pulang dari rumah Siti." Salsa pun meninggalkan ibunya yang masih penasaran. Sulit untuk mempercayai apa yang dikatakan Salsa.