Jangan Hina Aku

Jangan Hina Aku
Ngambek


__ADS_3

Para warga pun bubar dengan cerita masing-masing. Ada yang menganggap Salsa beruntung memiliki suami seperti Reza, ada juga yang menganggap bahwa Salsa berpura-pura marah padahal senang.


Reza dan keluarganya pun masuk ke dalam rumah. Dewi mengetuk pintu kamar Salsa, mencoba untuk membujuknya keluar.


"Sa, buka pintunya, Nak."


"Iya, Sa, buka pintunya. Aku minta maaf sama kamu. Aku terpaksa bohong karena aku tahu kamu nggak akan mau nerima aku kalau aku bukan orang miskin." Begitulah ucapan Reza. Membuat kedua mertuanya menatap iba padanya. Kasihan Reza yang rela hidup susah padahal dirinya bisa hidup enak. Tapi demi Salsa dia rela melakukannya selama bertahun-tahun.


Tak berselang lama, terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah.


"Itu Anisa, pas banget. Kalo Anisa pasti Salsa nurut." Dewi langsung pergi ke depan dan membuka pintu. Benar saja, Aisyah datang bersama Adit.


"Assalamualaikum, Buk, Yah," ucapnya sambil menyalim tangan kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Adit.


"Waalaikumsalam, masuk, Nak." Dewi pun mengajak Anisa dan Adit masuk ke dalam rumah. Anak mereka pun digendong oleh Ramli. Dia mengajaknya ke ruangan lain untuk bermain. Karena keberadaannya yang tak bisa bicara hanya akan membuat repot mereka. Dia berpikir mending sama cucunya saja.


"Lho, ada Reza di sini? Berarti ada Salsa, dong. Mana dia, Buk? Aku kangen banget sama dia."

__ADS_1


"Duh, gimana, ya, Nis. Salsa lagi ngambek. Dia ngurung dirinya di dalam kamar."


"Hah? Ngambek kenapa, Buk? Nggak pernah-pernah lho dia ngambek kayak gini."


"Gara-gara aku, Mbak," ucap Reza sebelum sang mertua menjelaskan.


"Kamu apain Salsa? Kenapa bisa ngambek? Katanya kamu akan menyayangi dia. Kok malah dibuat ngambek, gimana sih. Tau gini kan aku nggak bakalan...."


"Nisa, dengerin dulu dong penjelasan Reza. Dia nggak menyakiti Salsa." Dewi berusaha menenangkan emosi anak sulungnya itu.


"Iya, kita belum denger penjelasan dari Reza," sambung Adit.


"Sebenarnya Salsa marah karena Reza itu bukan tukang ojek beneran."


"Bukan tukang ojek beneran? Jadi apa, Buk? Kamu kerja yang nggak bener, ya?" Anisa kembali menuduh Reza dengan tatapan yang masih kesal. Apapun yang membuat adiknya sedih, pasti dia tidak akan memaafkannya.


"Aduh, bukan, Nis. Dia ini sebenarnya pengusaha. PT FA itu, ternyata punya dia. Tapi dia tahunya beberapa tahun lalu. Dan karena dia suka sama Salsa, dia tetap jadi kang ojek karena kalau Salsa tahu dia pengusaha, pasti Salsa nolak."

__ADS_1


"Hah? Kamu pemimpin perusahaan itu? Aku dengar profi pemimpin perusahaan itu sudah terbit hari ini." Adit pun mengambil ponselnya dan melihat grup bisnisnya. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat bahwa wajah pimpinan itu adalah wajah Reza.


"Kamu Fahreza?"


"Iya, Mas, saya Fahreza." Reza mengangguk.


Anisa pun juga terkejut. Ternyata yang dipermasalahkan Salsa adalah status Reza yang orang kaya.


'Ada-ada saja, dikasih suami kaya malah ngambek. Aku kerjain, ah,' batin Anisa sambil tersenyum pada Adit.


"Mas, pukul aja si Reza, Mas! Dia udah berani buat adek aku sedih! Hajar aja biar dia tahu rasa!" Begitulah ucapan Anisa yang lumayan kuat agar Salsa mendengarnya.


"Iya, sini kamu! Berani banget kamu bikin Salsa nangis!"


Buggghh! Terdengar suara orang jatuh ke lantai. Padahal itu bukan Reza, melainkan hentakan kaki yang sama-sama mereka hentakkan ke lantai tanpa sendal.


"Aduh, ampun Mas, Mbak, ampun." Itulah ucapan Reza yang pada akhirnya, membuat Salsa keluar dengan wajah panik.

__ADS_1


"Mas Reza!"


__ADS_2