Jangan Hina Aku

Jangan Hina Aku
Berbohong


__ADS_3

"Manager apa, Bu? Si Agus itu pengangguran. Dan selama ini anak kalian lah yang mencari nafkah untuk suaminya yang nggak berguna itu!"


Bu Reni dan Ismi semakin terkejut mendengar ucapan Bu Anna.


"Bu, jangan bohong, ya. Mana mungkin Siti kayak gitu. Dulu aja waktu nikah mereka pakai pesta pernikahan yang mewah dan semua uangnya dari Agus." Bu Reni masih tak percaya dengan ucapan Bu Anna.


"Itu hasil ngutang. Si Agus hutang sama suami saya. Terus habis nikah, mereka ngontrak di sini. Siti yang membayar hutang Agus dengan bekerja gratis selama setahun. Barulah setelah itu saya gaji dia. Tapi setiap bulan, gaji dia selalu dikasih Agus. Bilangin tuh anak kalian supaya jangan terlalu bucin!"


"Eh, Bu! Jangan sembarangan ngomong, ya. Saya bisa tuntut Ibu karena telah memfitnah menantu saya." Bu Reni malah mengancam Bu Anna karena tak terima dengan apa yang didengarnya tentang Siti dan suaminya.


"Ya udah, kalau gitu mari ikut saya. Setelah ini, kalian bisa memutuskan mau menuntut saya atau tidak." Bu Anna pun berjalan dari samping rumahnya menuju ke belakang. Tempat Siti yang masih mengangkat jemuran. Siti memang lama ketika mengangkat jemuran karena sebelumnya dimasukkan ke keranjang, pakaian akan dilipatnya terlebih dahulu. Namun tak berlaku ketika hujan turun.


Bu Reni dan Ismi pun mengikuti Bu Anna. Mereka pun tiba di belakang rumah itu dan melihat seseorang wanita mirip Siti yang sedang mengangkat jemuran. Wajah Siti memang tidak kelihatan karena sedang membelakangi mereka. Tapi, mereka jelas tahu perawakan tubuh Siti meskipun dilihat dari belakang.

__ADS_1


"Siti, setelah ini belanja ke warung, ya. Beliin saya snack," ucap Bu Anna.


"Iya, Bu," sahut Siti menoleh ke samping untuk sekedar menghormati majikannya. Namun dia tak melihat ada berapa banyak orang di belakangnya.


"Gaji kamu bukan depan mau ditabung, nggak?"


"Jangan, Bu. Katanya Mas Agus pengen beli jaket baru."


"Ngapain sih kamu terlalu memanjakan suami kamu yang pengangguran itu!"


"Tapi kan nggak perlu sampai sebegitunya. Kamu yang menafkahi dia. Terbalik, Siti. Harusnya dia yang bekerja dan menafkahi kamu."


"Nggak papa, Bu. Saya sayang sama Mas Agus. Saya nggak mau lihat dia capek. Kan kasihan."

__ADS_1


"Kamu kasihan sama dia. Tapi kamu nggak kasihan sama diri kamu sendiri. Kenapa orang tua kamu diam aja tahu menantunya pengangguran kayak gitu?"


"Udahlah, Bu. Keluarga saya nggak boleh tahu. Nanti mereka ngamuk kalau tau saya kerja dan Mas Agus di rumah."


"Dasar bucin kamu, Siti!"


Siti malah tertawa kecil seolah tak mempedulikan ucapan sang majikan. Melihat kenyataan yang ada di depan matanya, Bu Reni dan Ismi pun syok. Mereka menatap Siti dengan tatapan penuh kekecewaan. Ternyata selama ini mereka dibohongi.


"Siti!"


Mendengar suara lain yang memanggil namanya, Siti pun terkejut dan langsung berbalik. Betapa terkejutnya dia ketika melihat ibu dan kakaknya ada di belakangnya sedari tadi.


"Oh, jadi ini yang membuat kamu nggak memperbolehkan kami datang?" Ismi pun menghampiri Siti dan menatapnya dengan tajam. Bulir air mata pun membasahi pipinya melihat kenyataan yang tak seindah ekspektasi mereka selama ini. Siti yang mereka kira adalah nyonya rumah yang hidup bahagia serta berkecukupan ternyata hanyalah seorang pembantu rumah tangga yang menafkahi suaminya.

__ADS_1


"Ibu, Mbak?" ucapnya dengan tatapan syok. Tak menyangka jika ucapan Salsa melalui pesan singkat itu ternyata benar.


__ADS_2