
Tokkk tokk tokk.
Terdengar suara pintu diketuk. Salsa dan Reza yang sedang bersantai di ruang tamu pun tertegun dan saling melempar pandangan.
"Mas, kamu ngundang orang ke sini, ya?" tanya Salsa pemasaran.
"Enggak, barangkali kamu, Sayang."
"Enggak juga, Mas. Tapi coba kita buka dulu." Salsa dan Reza pun sama-sama berjalan ke pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat sepasang suami istri dengan raut wajah berbeda datang sambil membawa banyak paper bag yang diduga berisi makanan. Mereka adalah Gilang dan Helena, tetangga yang berada tepat di depan rumah mereka.
Gilang menampilkan senyum ramahnya, sedangkan, Helena masih menampilkan ekspresi datarnya.
__ADS_1
"Permisi, maaf mengganggu malam-malam begini. Kami ingin bertamu di rumah kalian," ucap Helena yang langsung berubah ekspresi. Yang tadinya datar, kini sedikit senyumannya pun terbit.
"Oh, silakan masuk," ujar Reza sambil membuka lebar pintu mereka dan persilahkan tamu mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
Sofa kecil di ruang tamu itu pun menjadi tempat mereka duduk dan berbicara.
"Ini, kami membawakan kalian makanan dari restoran saya. Silakan dicicipi," ujar Helena sambil menyerahkan beberapa paper bag itu pada mereka.
"Te-terima kasih," sahut Salsa dengan gugup. Bukan tanpa alasan. Dia gugup karena sejak tadi Gilang menatapnya dengan tatapan berbeda. Entah apa yang sedang direncanakannya saat ini.
"Tidak perlu, kami hanya sebentar datang ke sini. Lagipula, kami biasa meminum minuman yang sehat dan mahal," sahut Gilang yang langsung membuat Helena terkejut. Dia sangat tahu jika suaminya tidak pernah bersikap sombong pada orang lain. Dialah yang biasanya bersikap sombong. Namun mengapa sekarang seolah Gilang yang mengambil alih sikap sombongnya itu?
__ADS_1
Mendengar hal itu, Salsa dan Reza hanya bisa tersenyum kecil. Reza pernah mengatakan, menghadapi sikap orang sombong adalah dengan tersenyum dan mengiyakan apa saja yang dikatakannya. Namun, ucapan Gilang jelas menyakiti perasaan Salsa.
"Maaf jika kami tidak bisa menyuguhkan minuman yang sesuai untuk kalian." Reza menjawab dengan tenang.
"Tidak apa-apa, kami maklum. Oh ya, Mas ini kerjanya apa?" tanya Gilang yang sepertinya sengaja menanyakan pekerjaan Reza.
"Saya hanya tukang ojek, Mas," sahut Reza.
"Zaman sekarang memang susah cari kerja kalau tidak punya pendidikan tinggi. Tapi, apa nggak sebaiknya bekerja di perusahaan yang bisa memberikan gaji tetap setiap bulan? Karena kalau menurut saya, tukang ojek itu pendapatannya tak menentu. Bahkan kadang nggak membawa uang sama sekali. Kan kasihan kalau kalian berdua nggak bisa makan."
Lagi-lagi ucapan Gilang membuat Salsa sakit hati. Mengapa dia harus mengatakan semua ini? Sengaja kah? Ingin membuat Salsa merasa terhina?
__ADS_1
"Terima kasih atas masukannya, Mas. Tapi, biarpun saya seorang tukang ojek yang pendapatannya nggak menentu, tapi Insyaallah, saya bisa memenuhi tanggung jawab saya sebagai seorang suami. Mana mungkin saya membiarkan istri saya kelaparan. Dan kita tentu juga tahu apa gunanya menabung, iya, kan, Mas." Tak seperti Salsa yang terlanjur kesal, Reza malah menanggapinya dengan sabar.
"Ya, benar juga. Tapi, sampai mana sih uang tabungan dari hasil mengojek. Kebutuhan hidup kan sangat tinggi. Setiap bulan saja, saya selalu memberi uang belanja istri saya sekitar dua puluh juta. Belum lagi untuk perawatannya, shoppingnya, dan uang untuk arisan sosialitanya. Ya, bersyukur saya bisa mencukupi semuanya, jadi istri saya nggak akan pernah kekurangan. Bahkan pakaian yang dikenakan istri saya sekarang itu harganya setara dengan Hp baru."