
"Mas, ayo, sarapan dulu," panggil Salsa saat sudah sampai di ruang tamu.
Reza pun langsung menghentikan pekerjaannya setelah diminta oleh bapak-bapak yang lain. Dia pun mendatangi Salsa dan ikut sarapan bersama.
Ternyata masakan Bu Asih sangat enak. Tak disangka orang yang jarang masak seperti itu ternyata memiliki cita rasa masakan yang sangat lezat.
"Sa, nanti kalau kerjaan rumah udah selesai kita pergi, yuk," ajak Reza tiba-tiba.
"Kemana, Mas?"
"Ke pasar, beli perlengkapan dapur. Soalnya perlengkapan dapur di kontrakan Mas belum lengkap. Nanti kita beli dulu ke tokonya, dianternya besok aja sekalian pindahan."
Salsa yang mendengar ucapan Reza terlihat menundukkan kepalanya. Hal itu tentu saja membuat Reza merasa heran.
"Kenapa, Sa?"
__ADS_1
"Aku nggak mau tinggal di daerah ini, Mas? Boleh nggak kalau kita pindah aja," ucapnya hingga membuat Reza terkejut.
"Pindah? Kenapa, Sa? Bukankah ini daerah kelahiran kamu?" Reza mengernyitkan dahinya melihat sang istri yang tiba-tiba mengajukan permintaan yang cukup aneh.
"Ke luar daerah aja, Mas. Aku nggak mau tinggal di sini lebih lama lagi. Di mata semua orang namaku udah jelek. Jadi, aku ingin pindah ke tempat yang baru dan memulai hidup baru."
"Ya, Mas oke oke aja, Sa. Tapi gimana sama kedua orang tua kamu? Gimana sama Mbak Anisa? Pasti mereka protes jika kita pindah ke tempat yang jauh." Reza mencoba mengingatkan Salsa agar kembali memikirkan tentang niatnya ini.
"Aku udah ngomong sama Kak Anisa sebelum ini. Meskipun awalnya dia nggak setuju, tapi aku udah berhasil meyakinkan dia. Sekarang tinggal Ibuk dan Ayah. Nanti malem kita sama-sama ngomong ke mereka, ya, Mas."
"Ya udah, iya. Kalau gitu, belanja perlengkapan dapurnya nanti aja kalau kita sudah jadi pindah. Tapi, aku berharap kamu mau memikirkan ini lagi. Jauh dari keluarga bukanlah hal yang enak, Sa._
Reza hanya bisa menghela nafas panjang. Sebenarnya dia tidak masalah jika mereka harus pindah. Toh, dia adalah seorang tukang ojek yang bisa bekerja di daerah manapun. Tapi, bagaimana dengan ayah dan ibu Salsa? Pasti mereka kecewa dan malah menuduh Reza yang ingin membawa Salsa pergi dari mereka.
Malam harinya, mereka pun memberanikan diri untuk berbicara dengan orang tua Salsa. Dan sesuai dugaan mereka, orang tua Salsa marah dan menangis mendengar Salsa yang ingin pindah.
__ADS_1
"Sa, kalau harus memikirkan ini kembali? Jangan hanya karena para tetangga yang julid, kamu harus meninggalkan tempat ini," ucap Dewi sambil menangis sesungguhkan.
"Maafin aku, Buk. Aku bukan ingin menjauhi kalian semua. Aku hanya ingin memulai hidup yang baru bersama Mas Reza." Salsa mencoba memberi pengertian pada sang ibu. Sedangkan sang ayah masih betah menatapnya dengan tatapan kecewa.
"Tapi nggak gini juga caranya. Kamu masih marah sama Ibuk yang dulu sering bersikap nggak adil sama kamu? Ya udah, Ibuk minta maaf, Sa. Tapi tolong, jangan tinggalkan kami."
"Buk, tolong jangan kayak gini. Aku juga butuh ketenangan. Sejujurnya aku belum pulih dari trauma masa lalu. Dan mungkin inilah kesempatanku untuk memulihkan diriku lagi. Nggak enak hidup dengan bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan, Buk." Salsa juga akhirnya meneteskan air mata. Bukan hal yang mudah mengungkapkan isi hatinya pada orang tuanya.
"Aku janji akan sering-sering datang ke sini untuk menjenguk kalian. Jaraknya cuma satu jam aja, kok, Buk. Nggak terlalu jauh, kan?"
"Tapi Ibuk pengen lihat kamu tiap hari, Sa. Kalau kamu pindah, Ibuk nggak bisa melihat kamu setiap hari."
"Buk, percaya sama aku. Ini adalah keputusan yang tepat buat aku. Nanti setiap bulan kita bisa mengadakan piknik bersama. Kita bisa kumpul bareng sama Kak Anisa." Sebisa mungkin Salsa meyakinkan ibunya agar menyetujui keputusannya.
Hingga akhirnya, sang Ibu pun setuju dan merestui keputusannya untuk pergi mengontrak ke daerah lain. Mereka pun mulai mempersiapkan semuanya. Dari mencari kontrakan, membeli alat-alat yang belum ada, hingga membereskan semua barang-barang mereka.
__ADS_1
Dalam beberapa hari, mereka akan pindah dengan diantar orang tua Salsa dan juga Anisa. Mungkin tak ada yang tahu jika Salsa memutuskan untuk pindah bukan hanya ingin mengobati rasa traumanya. Melainkan ingin menghindari segala bantuan yang mungkin akan diberikan oleh orang tua dan juga kakaknya yang hidup berkecukupan. Dia ingin menikmati rumah tangga yang hanya ada dia dan suaminya saja. Tidak perlu ada campur tangan atau bantuan dari keluarga yang malah akan membuat mereka tak bisa hidup mandiri.
Karena dia yakin, Adit dan ibunya pasti akan mengupayakan bagaimana caranya agar Salsa bisa hidup enak. Dan Salsa hal yang tidak suka jika dikasihani. Menikmati kehidupan sederhana dengan orang yang mencintainya sudah lebih dari cukup untuknya.