
Bersamaan dengan itu, mobil ayah dan ibunya pun datang. Mereka memeluk Salsa dan melepas rindu. Ramli yang tadi belum sempat berganti baju pun langsung pamit pergi ke kamar. Sementara Dewi ikut bergabung bersama mereka. Dia juga meminta Devi, asisten rumah tangga yang kembali dipekerjakannya karena dia tak sempat mengurus rumah sejak Salsa menikah pun membuatkan mereka minuman serta cemilan.
"Lagi ngomongin apa sih, kayaknya seru," ucap Dewi sambil mendudukkan dirinya di dekat Salsa. Sesekali dia mengusap kepala putrinya karena memang sangat merindukannya. Ingin rasanya mereka masuk ke dalam rumah dan mengobrol sampai puas. Namun, tak enak rasanya jika dia harus mengusir para tetangga yang baru bergabung.
Bu Asih juga ikut datang sambil membawakan banyak buah-buahan yang sudah dipotong dan siap untuk dikonsumsi.
"Tadi saya lagi nyeritain anak saya si Siti. Suaminya kan manager, udah gitu ganteng. Padahal Siti tamatan SMA, lho. Tapi bisa dapat suami yang berpangkat. Berbeda dengan Salsa, udah dikuliahin tinggi-tinggi, eh malah nikah sama kang ojek. Hahaha, maaf, ya, Sa. Keceplosan." Bu Rina tertawa lebar. Bukti bahwa dia sangat puas menertawakan Salsa. Dulunya, dia memang tidak suka jika Siti berteman dengan Salsa karena masa lalunya. Namun, Siti tetap kekeuh berteman dengan Salsa hingga akhirnya terbongkar bahwa dia berteman dengan Salsa karena ingin memanfaatkannya saja.
__ADS_1
"Oh, soal itu. Nggak perlu lah diungkit-ungkit, Bu. Yang namanya jodoh kan sudah diatur. Ya berarti jodoh Siti memang manager. Kalau kami sih oke oke aja selagi suami Salsa sayang dan bertanggung jawab terhadapnya." Dewi tersenyum sambil mengusap punggung sang anak. Bermaksud memberi kode bahwasanya tidak boleh terprovokasi oleh ucapan Bu Rina. Dia takut sang anak malah merasa menyesal menikah dengan Reza. Padahal tidak, Salsa malah bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Walaupun hidup sederhana, namun penuh dengan kehangatan dan cinta.
"Ya kan kayak jatuh banget, lho, Bu. Suaminya Anisa aja CEO. Masa suami salsa kang ojek. Kamu terlalu bucin, ya, Sa. Aduh, realistis dong, jangan liat suami dari gantengnya aja."
Salsa yang mendengarnya hanya tersenyum kecil. Padahal kalimat itu sangat cocok diucapkan Bu Rina pada anaknya, si Siti. Siti lah yang jelas-jelas sedang bucin parah sehingga mau menafkahi suaminya yang pengangguran dan membohongi semua orang.
"Oh, itu. Eh, anu, saya nggak pernah mau minta uang sama dia. Lagian katanya mereka lagi berencana mau renovasi rumah. Makanya kita nggak dibolehin dateng sama dia. Kamu tau kan rumahnya, Sa? Yang besar dan bermobil."
__ADS_1
"Eh, nggak tau, Bu. Sa-saya nggak pernah ketemu sama Siti." Lagi-lagi Salsa berbohong. Tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga mereka.
"Yaaah, sayang banget dong punya menantu manager nggak bisa nyicipin duitnya. Katanya kaya." Lagi-lagi Dewi menyikut Bu Rina hingga membuatnya semakin gugup. Bukan tak pernah meminta. Namun, setiap kali dia meminta uang pada Siti, pasti anaknya itu akan mengatakan bahwa uang suaminya tidak bisa diganggu gugat karena benar-benar ingin ditabung untuk renovasi rumah dan membeli barang lain.
"Oh gitu? Terus si Ismi. Suaminya kan merantau, kerjaannya juga udah oke. Tiap bulan ngirim berapa tuh?"
"Eh, kalo suami Ismi katanya lagi nabung buat bangun rumah sehingga uangnya disimpan suaminya."
__ADS_1
"Wah, hebat, dong, Bu. Keren banget, ya. Anak-anaknya punya suami yang kerjaannya mapan tapi nggak bisa bantuin orang tuanya untuk sekedar bayar hutang di warung. Padahal kan Bu Rina yang menanggung biaya hidup anak dan cucu. Aneh aja kalau setiap bulan suaminya Ismi nggak memikirkan keluarganya sendiri. Coba deh Bu, cari tahu sesekali suaminya Ismi itu kerja apa dan gimana keadaan di sana. Kalo bisa si Ismi itu jangan jauh-jauh dari suami. Suami bukan malaikat, Bu yang nggak punya hawa nafsu."