
"Apa? Gimana bisa? Jadi kamu memang pemimpin PT FA?" tanya Bu Lena saking terkejutnya. Dia bahkan mencubit tangannya berkali-kali untuk membuktikan bahwa ini bukanlah mimpi.
"P-Pak Fahreza, ya?" ucap Panji terbata-bata sangking takutnya.
"Kok tau?"
"T-tau, Pak. Tadi atasan saya barusan ngirim profil pemimpin perusahaan FA. Saya nggak tahu kalau selama ini Pak Reza adalah pemimpin perusahaan tempat saya bekerja." Sedikit gemetar, namun Panji tetap berusaha berbicara.
"Eh, jadi benar kalau si Reza itu nggak halu?"
"Nggak nyangka banget ya ternyata Reza CEO. Beruntung banget kedua anaknya Bu Dewi, dua dua dapat CEO. Kalau gitu saya terima ajalah lamaran tukang jualan mainan yang melamar anak saya. Siapa tau dia CEO."
"Astaga, lihat tuh Bu Lena kemakan omongannya sendiri. Sekarang anaknya dipecat."
__ADS_1
Begitulah ucapan orang-orang yang ada di sekitar mereka.
"P-Pak, kenapa saya tiba-tiba dipecat?" tanya Panji memberanikan diri.
"Ya kamu tanya sama Ibu kamu. Tadi saya udah ngasih pilihan kamu itu harusnya naik jabatan atau dipecat? Tapi ternyata ibu kamu milih kamu dipecat. Ya udah, bukan salah saya, dong," ujar Reza dengan tampang tak bersalahnya.
"Buk, gimana dong Buk. Aku nggak mau dipecat. Posisiku sangat bagus di perusahaan." Panji kini merengek pada ibunya agar bertanggung jawab atas nasibnya saat ini.
"Gimana, Bu Lena, udah percaya belum? Mau bilang kalau menantu saya itu halu?" Kini Dewi ikut menyerang Bu Lena. Dia sama sekali tak memiliki rasa empati pada bulenan karena selama ini selalu menghina Salsa. Mungkin saat dulu dia tidak keberatan karena Salsa memang salah. Tapi sekarang, di saat Salsa sudah berubah, dia masih tetap ada pendiriannya untuk menghina anak bungsunya itu.
"Sekarang kalau Ibu mau posisi Panji tetap aman, Ibu harus minta maaf sama Salsa. Kalau nggak mau, maka Panji akan saya turunkan ke posisi terendah di kantor saya," ucap Reza.
Padahal, itu takkan dia lakukan karena kinerja Panji sangat bagus di perusahaannya. Namun, untuk membuat efek jera pada Bu Lena, maka Reza terpaksa melakukannya agar istrinya tidak menjadi bahan hinaan lagi untuk mereka.
__ADS_1
"Hah? Minta maaf? Ya enggaklah! Gengsi saya minta maaf sama kalian. Lebih baik saya kelaparan daripada minta maaf sama dia!" Begitulah ucapan Bu Lena. Membuat semua orang menatapnya dengan sinis.
"Egois banget, sih, Bu. Rela anaknya nggak kerja dan kelaparan daripada minta maaf. Lagian selama ini memang Bu Lena yang salah. Dimana pun itu, ibu selalu aja nyeritain si Salsa."
"Iya nih, Bu Lena. Jangan egois, dong. Pikirin nasib istri sama anaknya si Panji. Jangan karena gara-gara Ibu mereka jadi sengsara."
"Enggak, pokoknya enggak!" Bu Lena pun pergi dari kerumunan itu dan kembali ke rumahnya.
"Pak, saya gimana dong Pak. Saya minta maaf sama bapak kalau gitu. Tolong maafin sikap ibu saya." Panji memasang wajah memelas pada Reza.
"Kalau ibu kamu udah minta maaf sama istri saya, maka kamu bisa kembali bekerja di perusahaan saya. Mending kamu pulang dan bujuk untuk kamu supaya minta maaf sama istri saya." Reza menepuk punggung Panji, lalu tangan yang satunya memasukkan sesuatu di saku celananya.
Panji pun segera pulang. Di dalam kamarnya, dia melihat sebuah kertas dengan tulisan yang berisi 'Mulai besok kamu kerja dari rumah aja. Jangan tahu ibu kamu. Dia harus segera minta maaf sama istri saya atau selamanya kamu akan kerja dari rumah. Kamu tahu sendiri kan gimana pusingnya kalau kerja dari rumah.'
__ADS_1
Begitulah pesan yang ditulis Reza untuk Panji. Membuat pria itu bisa bernafas lega. Namun, dia memang harus memikirkan cara agar ibunya mau minta maaf pada Salsa. Karena benar kata Reza, bekerja dari rumah memang sangat sulit dan hanya membuat pusing. Apalagi dirinya ada di bagian yang mengharuskannya hadir di kantor.