Jangan Hina Aku

Jangan Hina Aku
Kecewa


__ADS_3

"Apa? Kamu selama ini menyamar?" Salsa terkejut mendengar ucapan Reza dan seketika berdiri dengan raut wajah seakan tak percaya.


"Bu-Bukan, bukan gitu maksud aku, Sayang. Aku bisa jelasin." Reza yang baru saja keceplosan ngomong langsung gelagapan.


"Ya udah, jelasin!"


"Aku....aku minta maaf, Sayang. Tapi, aku melakukan ini karena kamu. Kalau aku jujur tentang siapa aku, tentu kamu nggak akan mau nerima aku. Memang, awalnya aku jadi ojek di tempat kamu karena itu memang pekerjaanku. Aku anak yang dibesarkan di panti asuhan. Tapi, beberapa tahun lalu, aku didatangi seseorang untuk melakukan tes DNA. Ternyata aku cucu dari seorang pemilik perusahaan dan kakekku sudah meninggal. Makanya seluruh hartanya pun jatuh ke tanganku termasuk perusahaan yang aku pegang.


Aku selama ini juga kuliah sehingga aku jarang terlihat. Tapi, beberapa bulan lalu, aku udah lulus dan udah bisa memimpin perusahaan. Namun, karena aku sangat mencintai kamu, aku memutuskan untuk tetap jadi tukang ojek karena kamu pasti nggak akan menerima lamaranku jika aku adalah orang kaya. Tapi, aku sungguh-sungguh mencintai kamu, Sa. Kalau aku disuruh milih, aku rela meninggalkan semuanya agar bisa hidup bersama kamu."


Reza memegang tangan Salsa sambil menatap serius. Terlihat dari sorot matanya sebuah ketakutan akan kehilangan orang yang saat ini berada di depannya.


"Tapi tetap aja kamu bohong! Kamu itu cuma mau nipu aku! Kamu jahat, Mas! Aku nggak terima diperlakukan kayak gini!"

__ADS_1


Salsa yang marah pun langsung mengambil tasnya dan pergi dari rumahnya. Reza mengejarnya dan berusaha menjelaskan padanya. Namun, rupanya Salsa benar-benar kecewa padanya. Dia pun menyetop taksi dan segera pergi dari tempat itu.


Reza pun langsung menelepon sopirnya untuk segera datang. Dia pun mengejar mobil taksi yang ditumpangi Salsa.


Hingga saat mereka sampai di komplek perumahan orang tua Salsa. Mereka terlihat mencolok karena Reza terus berbicara sedangkan Salsa hanya diam dengan wajah datarnya.


"Sa, maafin aku, Sa. Aku nggak bermaksud buat bohongin kamu."


Salsa hanya menatapnya sebentar, lalu kembali menatap lurus ke depan.


"Cie, cie, udah ngerasain gimana rasanya beras habis, token habis, dan nggak punya uang buat makan, ya? Cieee, jodohnya tukang ojek." Siti kembali mencibir hingga membuat beberapa tetangga juga ikut menoleh ke arah mereka.


"Daripada kamu jodohnya pengangguran ngaku manager!" sentilan balik Salsa pun langsung membuat Siti bungkam. Dia tak lagi mencemooh Salsa dan memilih masuk ke dalam rumah dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"Eh, kenapa, Sa? Berantem, ya? Yaelah, nikah juga baru, udah berantem aja. Pasti lagi kesulitan ekonomi. Makanya jadi orang jangan sombong! Suami tukang ojek aja bangga." Satu lagi, Bu Lena juga ikut mencibir. Sepertinya dirinya juga merasa senang jika Salsa tertimpa masalah.


Salsa tak menggubris ucapan Bu Lena. Dia terus berjalan, hingga akhirnya sampai di rumah orang tuanya. Orang tuanya yang melihat kedatangannya dengan mata sembab pun langsung terkejut.


Padahal mereka pulang dalam keadaan baik-baik saja. Tapi mengapa sekarang seperti ini?


"Sa, kamu kenapa, Nak?" tanya Dewi bingung.


"Tau tuh, Buk! Tanya aja sama si pembohong itu!"


Salsa pun masuk ke dalam rumah, sementara Reza dihadang oleh orang tuanya demi meminta penjelasan.


Sementara para warga lain terlihat berbisik satu sama lain dan mengira bahwa Salsa minggat karena mengalami kesulitan ekonomi.

__ADS_1


__ADS_2