Jangan Hina Aku

Jangan Hina Aku
Ternyata begitu


__ADS_3

Salsa langsung buru-buru masuk ke dalam rumah. Ada segelintir rasa takut yang kini mengganggu pikirannya. Bagaimana kalau Gilang balas dendam padanya atas penolakannya yang dulu? Dia dan Gilang memang pernah saling mengenal karena Salsa pernah makan di restorannya bersama Adit dan Anisa. Namun, dia tak menyangka jika pria itu malah datang dan melamar. Saat ditolak, pria itu malah marah dan mengeluarkan sumpah serapah serta ancamannya.


Dia pun memutuskan untuk duduk bersantai sambil memainkan ponselnya. Sudah tidak ada pekerjaan rumah yang dilakukannya. Memasak makan siang bisa dilakukan menjelang makan siang. Masih terlalu pagi untuk memasak makan siang.


Karena terlalu bosan, Salsa pun pergi ke rumah tetangganya yang lain sambil membawa makanan untuk mereka. Kebetulan stok kue di kulkas masih banyak.


Dia pun berkunjung ke rumah-rumah yang belum didatanginya malam tadi. Namun, ternyata respon mereka semua sangat buruk padanya. Apalagi setelah mendengar suaminya adalah tukang ojek.


Ada yang menawarkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga padanya. Ada juga yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan sanggup tinggal di daerah elit seperti ini. Bahkan sangking sombongnya, ada pula yang menolak makanannya dan mengatakan bahwa mereka tak terbiasa dengan makanan berbahan murah seperti kue Salsa.


Dengan perasaan sedih, Salsa pun kembali pulang ke rumahnya. Akan tetapi, saat akan melewati rumah Bu Anna, dia melihat Siti yang baru saja keluar dari gerbang rumah itu dengan mengendap-endap. Sepertinya dia akan pergi keluar, namun tak ingin dirinya ketahuan oleh Salsa. Terbukti dari gayanya ketika sudah melewati rumah kontrakan Salsa. Dia langsung mempercepat langkahnya sambil menutupi wajahnya dengan tas dompet yang dibawanya.


Karena merasa penasaran, Salsa pun diam-diam mengikutinya dari belakang. Di sebuah persimpangan, Siti pun menemui seorang pria yang sepertinya memang sedang menunggunya.


Salsa tahu pria itu. Dia adalah suaminya Siti, yaitu Agus. Terlihat Siti memberikan sejumlah uang yang langsung dicium oleh Agus. Tak hanya itu, Agus juga mencium kening Siti dan memeluknya dengan erat.


"Aneh, katanya manajer. Tapi kenapa jam segini masih ada di sini? Dan lagi? Kenapa dia nggak pakai pakaian kerja. Cuma kaos oblong dan celana jeans robek kayak preman gitu. Terus? Ngapain Siti ngasih dia duit?" gumamnya sambil terus memperhatikan Siti dan suaminya.


Salsa pun langsung bersembunyi ketika Siti kembali ke rumah majikannya. Dia tersenyum sepanjang jalan, entah memikirkan apa, Salsa pun tak tahu.


Sepanjang jalan, Siti terus bersenandung seperti orang yang sedang jatuh cinta. Ah, sayangnya dia tak memiliki teman di sini yang bisa untuk ditanya. Kan tidak mungkin Salsa bertanya pada majikan Siti?


Siti sudah masuk ke dalam pekarangan rumah majikannya. Dia terlihat mengembangkan senyuman hingga akhirnya, sebuah teriakan marah dari Bu Anna pun membuat senyumannya hilang.

__ADS_1


"Heh! Siti, kamu darimana sih? Saya cariin dari tadi, tau nggak!" Bu Anna terlihat berkacak pinggang sambil menatap Siti dengan kesal.


"Maaf, Bu, tadi saya habis keluar," sahut Siti sambil menunduk. Sementara Salsa hanya mengintip dari tembok pagar rumah itu.


"Kamu itu kebiasaan deh kalau habis gajian pasti ngilang! Emangnya mau kemana? Ngirim ke orang tua kamu? Kan bisa melalui saya, ngapain kamu pake keluar segala!"


"Eh, itu, emmm maaf, Bu." Siti seperti orang yang bingung harus berkata apa. Padahal kan dia hanya tinggal menyebutkan bahwa dirinya baru saja menemui suaminya. Apa susahnya?


"Oh, jangan-jangan kamu habis nemuin suamimu, ya? Ya ampun, Siti! Mata kamu itu buat atau gimana sih! Laki-laki nggak berguna kayak gitu masih aja kamu nafkahin! Saya kasih kamu kerja di rumah saya supaya kamu nggak menderita lagi dibuat suami kamu! Bodoh banget, sih, kamu, Siti! Mau-mau aja ngasih duit sama laki-laki yang udah jelas menghianati kamu berkali-kali!" Terlihat Bu Anna yang sangat murka pada Siti.


Salsa yang mendengar kenyataan itu pun terkejut setengah mati. Dia tak menyangka jika suami Siti ternyata doyan selingkuh dan Siti malah menafkahinya. Benar-benar gila, begitu pikir Salsa.


"Maaf, Bu, saya cuma kasian sama Mas Agus. Kalau saya tinggalin, nanti dia makan apa."


"Kasian atau cinta? Kamu itu kok bikin kesel ya. Memang susah deh kalo ada orang bucin kayak gini. Mau sampai mulut saya berbusa pun kamu nggak bakalan dengerin saya!"


"Ya kalau gitu suruh dong dia kerja, jangan taunya nongkrong gak jelas di warung! Saya kasih kerjaan jadi tukang kebun di sini gak mau! Maunya apa sih? Lama-lama saya labrak nanti dia!"


"Maaf, Bu. Mas Agus nggak bisa kerja kasar. Dia maunya kerja kantoran. Ada nggak kerjaan kantoran buat dia?"


"Heh! Suruh dia itu mikir Siti! Dia itu lulusan SMA! Ngaca dong, malah minta kerjaan kantor. Kalau mau ya bagian cleaning service di kantor suami saya!"


"Dia nggak mau, Bu. Katanya gengsi, soalnya dia ganteng. Gak pantes kerja kantoran. Menurut saya sih bener, Bu. Mas Agus yang gantengnya kayak gitu memang nggak pantas kerja jadi cleaning service atau tukang kebun."

__ADS_1


"Astaga, Siti!!! Lama-lama saya bisa hipertensi gara-gara ngurusin hidup kamu aja! Terserahlah! Saya pusing!"


Salsa yang dari tadi mendengarkan juga merasa heran dengan jalan pikiran Siti. Ternyata wanita itu memang bucin parah pada suaminya hingga tak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang pura-pura tulus.


Terlihat Bu Anna yang masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Siti yang terlihat menundukkan kepalanya.


Siapa saja pasti akan emosi melihat kelakuan suami Siti yang ternyata hanya seorang pengangguran bermodalkan tampang. Tapi, kalau sudah namanya cinta, tidak akan ada yang bisa menyadarkan Siti kecuali dirinya sendiri.


Salsa hanya melihat Siti yang masuk ke rumah dengan tampang sedih.


*****


"Saya duluan, ya, Za, nanti habis ini kalau ada penumpang, kamu bawa, ya," ucap Hendra, tukang ojek yang umurnya setara dengan Reza.


"Iya, Mas." Reza menganggukkan kepalanya dan melepas kepergian Hendra bersama penumpangnya.


"Mas, ojek baru, ya. Anterin saya dong," ucap salah seorang pria yang baru saja mendatangi Reza.


"Oh, ayo, Mas. Mau kemana?"


"Ke tempat karaoke, ya."


Reza tertegun sejenak melihat pria yang baru saja meminta untuk diantarkan ke tempat karaoke. Dia seperti mengenali pria itu, tapi entah di mana, dia pun tak tahu.

__ADS_1


Dia segera membonceng pria itu menuju ke kota, tepatnya di sebuah tempat karaoke yang sudah banyak wanita cantik dan seksi yang sedang menunggu.


Beberapa wanita sempat melambaikan tangan padanya dan mengajaknya untuk masuk. Namun, Reza masih kuat iman. Dia pun segera pergi meninggalkan tempat itu setelah penumpangnya membayar.


__ADS_2