
Yasa dan Tara sampai di rumah Raffan bersamaan dengan Kaluna yang juga baru sampai. Yasa memicingkan matanya saat Kaluna menenteng sebuah paper bag yang berisi sebuah kado. Pikirannya melayang kemana-mana. Tapi sesegera mungkin dia mengusirnya.
" Ini buat bunda, happy birthday bunda. I wish you always happy ever after."
" Thank you baby. Bunda akan selalu bahagia selama Tara juga bahagia."
Kaluna berjongkok di depan Tara untuk memeluk dan mencium pipi kedua putranya. Ia lalu menggandeng Tara untuk masuk ke rumah.
Sebuah salam Kaluna ucapkan dan dijawab oleh orang seisi rumah. Kaluna sedikit terkejut melihat dalam rumah sudah disambut oleh kedua orang tuanya orang tua Yasa. Bukan hanya Kaluna yang terkejut, Yasa pun sama. Sedangkan Tara, bocah itu sudah berlari untuk memeluk opa, oma, kakek dan neneknya. Tara tentu senang bisa bertemu dengan para orang tua tersebut.
" Selamat ulang tahun sayang, maafkan mama dan papa selama ini. Semoga hidupmu semakin berkah. Kamu cantik dengan hijab mu nak," ucap Vanka sambil memeluk sang putri dengan erat. Begitu juga Raffan ia mengusap kepala Kaluna dan mencium pucuk kepala putrinya itu.
" Selamat bertambah usia nak."
Kali ini ucapan selamat Kaluna dapatkan dari Hasna. Ia lalu meraih tangan Hasna dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Hasna memeluk Kaluna erat. Kaluna bisa merasakan aliran kasih sayang dari Hasna. Radi pun mengucapkan doa untuk Kaluna yang diamini oleh wanita tersebut.
" Woooh semua fokus ke bunda, sepertinya menjadi lupa dengan aku."
Sontak semua orang tertawa dengan selorohan bocah kecil itu. Yasa kemudian mengangkat tubuh putranya dan membawanya ke gendongan sembari berkata," Kalau begitu, Tara bersama ayah saja."
Acara syukuran berlanjut hingga ke meja makan. Vanka sudah menyiapkan beberapa makanan yang siap untuk dinikmati. Serta makanan khusu untuk Tara tentunya. Meski sudah dinyatakan tidak ada lagi sel kanker di tubuh bocah itu, tetap ia harus menjaga pola makannya. Tara tentu tidak diperbolehkan memakan makanan cepat saji dan beberapa hal lainnya yang sudah disampaikan Nataya.
" Maaf semuanya, saya membawa Tara dulu ke kamar. Sepertinya dia sudah mulai lelah dan mengantuk."
Tara tetaplah anak kecil yang merasa lelah setelah perjalanan dari perkebunan ke kota lalu ke beberapa tempat. Mau secerdas apapun otaknya tetap bocah itu harus bisa mengistirahatkan tubuhnya jika sudah merasa lelah. Apalagi dia memiliki riwayat penyakit yang sempat mengancam nyawanya.
Rupanya kepergian Kaluna mengantar Tara ke kamar diikuti oleh Yasa. Pria itu tidak mau kehilangan kesempatannya untuk melamar Kaluna kembali.
Pintu kamar Tara di buka. Bocah itu sedikit lebih cepat berjalan masuk lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun oleh Kaluna kembali di bangunkan. Tara pun protes terhadap bundanya.
__ADS_1
" Bund, Tara udah ngantuk banget ini."
" Bunda tahu, tapi Tara harus ganti baju dulu. Banyak kuman yang menempel di tubuh Tara. Ingat kata Om Nataya bahwa Tara juga harus menjaga kebersihan?"
Tara akhirnya bangkit, ia hendak melepaskan bajunya saat itu juga tapi oleh Yasa langsung digendong menuju ke kamar mandi. Yasa lah yang akan menggantikan baju Tara dengan baju tidur yang sudah diambilkan Kaluna. Yasa juga membasuh tangan dan kaki Tara serta wajah bocah itu.
" Baiklah, ready to sleep?"
" Sangat siap, hoaaaam."
Setelah melafalkan doa tak berselang lama Tara langsung lelap. Tampaknya ia benar-benar lelah dan mengantuk. Kaluna menepuk pelan punggung putranya. Sebuah bulir air mata keluar dari pelupuk matanya. Bukan sedih tapi bahagia saat bisa melihat sang putra kembali ceria dan bersemangat. Ia masih bisa merasakan bagaimana takutnya dirinya saat Tara berada di ruang ICU dengan banyak alat itu.
" Terimakasih ya Allaah, Engkau masih memberiku kesempatan untuk merawatnya lebih lama lagi," ucap Kaluna dalam hati. Sungguh ia sangat bersyukur. Di usapnya ubun-ubun kepala Tara lalu ia meniupkan sebuah doa agar Tara menjadi anak yang sholih dan bahagia dunia dan akhirat. Ia pun mencium kening sang putra sedikit lebih lama.
Yasa terpaku melihat setiap apa yang dilakukan oleh Kaluna. Manusia memang banyak melakukan salah tapi Tuhan tidak pernah menutup pintu taubatnya.
Keduanya berjalan sedikit agak juah dari ranjang Tara. Yasa mengambil nafasnya dalam-dalam sebagai ancang-ancang untuk mengatakan apa yang dari tadi ada dipikiran dan hatinya. Entah mengapa kali ini ia begitu deg-deg an. Ada sebuah rasa yang tidak bisa ia jelaskan.
" Kal, ini mungkin sudah kesekian kalinya aku mengatakannya. Kaluna Trisha Danendra, hari ini aku kembali memintamu untuk menjadi istriku. Mari kita perbaiki kesalahan masa lalu kita dan menjalin sebuah hubungan dengan mencari ridho Allaah. Aku tahu kamu belum mencintaiku, jadi mari kita bersama-sama mencari cinta-Nya agar bisa tumbuh cinta diantara kita. Aku ingin kamu menjadi satu-satunya pelindung syahwat ku dan mari meraih surga bersama."
Yasa mengeluarkan kotak mungil dari sakunya lalu membukanya tepat di depan Kaluna. Hati wanita itu bergetar mendengar setiap kata dari pak mantan dosennya itu yang merupakan ayah dari putranya. Tanpa terasa air mata Kaluna merembes keluar. Ia memejamkan matanya sejenak lalu mengangguk dengan mantab dan yakin.
" Bismillaah, mari mencari ridho Allaah bersama-sama. Aku terima pinangan mas dengan bismillaah."
Seperti mendapatkan durian runtuh, Yasa sungguh senang. Ingin rasanya ia berteriak namun tentu ia tidak bisa melakukannya. Yasa kemudian mengambil cincin itu dan hendak memakaikan ke jari manis Kaluna.
" Mas, biarkan aku memakainya sendiri."
Yasa mengangguk, ia tahu maksud Kaluna. Sungguh ia sangat bahagia kali ini, dan tidak dapat ia lukiskan.
__ADS_1
" Jadi kapan kamu siap untuk menikah?"
" Terserah mas."
" Baiklah sabtu depan. Seminggu ini aku akan menyiapkan semuanya."
" He?"
Kaluna terkaget-kaget. Bagaimana bisa jadi minggu depan. Tapi ya sudah mungkin memang lebih cepat akan lebih baik. Kaluna lalu mengatakan sebuah syarat, dia tidka ingin ada pesta. Cukup sah secara agama dan negara dan syukuran kecil-kecilan yang mengundang teman terdekat dan sanak saudara. ( Kalau dihitung, teman dan saudara aja udah banyak Kal.)
Yasa setuju, ia pun bergegas keluar dari kamar Tara untuk segera memberitahukan hal tersebut kepada kedua orang tuanya dan orang tua Kaluna tentunya.
" Ayah, ibu, papa dan mama, sabtu depan kita akan menikah."
" Apa?"
Keempat orang tua itu sungguh terkejut dengan ucapan Yasa. Merekayang sedang berbincang santai tiba-tiba nge-loading saat Yasa berkata hal tersebut.
" Jangan ngaco, emang Kaluna udah mau?" Tanya Hasna spontan.
" Ya kalau belum mua masa Yasa ngomong gini sih. Kita menikah sederhana, itu yang diinginkan Kaluna. Yang penting sah agama dan negara."
Terucap rasa syukur dari bibir Raffan dan Vanka. Keduanya sungguh senang Kaluna akhirnya mau membuka hatinya untuk Yasa.
" Kami berharap kamu bisa terus bahagia nak."
Raffan tentu setuju dengan ide Yasa. Semakin cepat semakin baik agar tidak timbul fitnah apalagi Raffan tahu beberapa kali Yasa datang dan menginap di villa di perkebunan. Ia takut warga sekita akan berpikiran buru mengenai Yasa dan Kaluna.
TBC
__ADS_1