
Hari berikutnya, Tara sudah dibawa kembali ke vila. Serentetan pesan disampaikan oleh Jason kepada bocah itu. Jason tentu tahu Tara bukan lah bocah biasa. Bocah itu adalah bocah yang cerdas.
Jason menekankan bahwa Tara tidak boleh terlalu lelah dan tidak boleh banyak berpikir. Hal tersebut akan memengaruhi kesehatannya yang sedang berusaha dipulihkan.
" Apa kau paham boy?"
" Yes grandpa, I know."
Semu orang terkekeh geli terlebih Brisia saat Tara memanggil Jason dengan sebutan grandpa. Pria paruh baya itu yang jarang sekali tersenyum akhirnya tersenyum juga saat berhadapan dengan Tara. Jason kemudian mengusap kepala Tara dengan lembut. Bocah itu memiliki aura yang menyenangkan dan selalu membuat orang-orang disekitarnya bahagia.
Sesampainya di vila Kaluna langsung membawa Tara ke kemar untuk beristirahat. Sesuai titah sang bunda Tara kini sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur. Namun, tentu saja dia tidak bisa tidur. Kemarin ditambah semalam kerjaannya sudah tidur melulu jadi matanya kini begitu terang.
Tara teringat pembicaraan ayah dan bundanya kemarin di ruang rawat. Ya, tanpa sepengetahuan dua orang dewasa itu, Tara mendengar semua pembicaraan mereka.
Jika melihat sifat sang bunda, Tara yakin bundanya akan melakukan apa yang sudah direncanakan. Kali ini Tara tentu setuju dengan sang bunda, karir ayahnya dipertaruhkan. Tapi satu hal yang akan jadi PR buat Tara yakni melindungi bunda nya dari kejaran media setelah pernyataan tersebut benar-benar disampaikan oleh Kaluna.
Bahkan Tara sepertinya akan menjauhkan segala hal tang berbau media sosial dari sekitar sang bunda. Namun, saat ini Tara hanya akan menunggu terlebih dulu sang bunda melakukan pergerakan.
" Aah ponsel dan tablet ku."
Tara seketika ingat dengan kedua benda berharganya itu. Ia pun langsung mengambilnya dan memeriksa apakah ada yang penting dari keduanya. Notifikasi pesan di surel nya ada beberapa dan sebuah rekaman hasil ia menyadap lukisan yang ada di rumah Caroline Van Leeuwen.
Yang Tara buka pertama adalah surel miliknya. Ada beberapa pesan yang masuk. Tapi yang menarik perhatian adalah dari Mr. Sun. Tara sedikit mengerutkan alisnya saat membaca pesan Mr. Sun yang menanyakan keadaan dirinya. Yang kedua lagi-lagi di si O' Connel. Pria asing itu masih terus meminta Tara membuatkan lukisan. Bocah itu sampai kesal, dan satu hal yang ia lakukan adalah memblok surel milik pria asing tersebut.
__ADS_1
" Haaah, lukisan. Sepertinya untuk sementara waktu ini aku harus membawa canvas itu ke kamar. Jika tidak maka semua orderan itu tidak akan selesai."
Rupanya bukan hanya Tara, tapi semua orang dewasa juga memasuki kamar mereka masing-masing. Dan saat ini Kaluna tengah tidur dengan dipeluk sang suami. Yasa mendekap erat istrinya yang terlelap. Semalam Kaluna tidak tidur menunggui Tara, padahal Dokter Jason sudah mengatakan bahwa Tara tidak apa-apa.
" Tidurlah sayang, sungguh aku tidak bisa melihatmu sedih seperti itu. Dan satu hal lagi jangan pernah kau melakukan ide gila mu itu. Biarlah aku yang menanggungnya."
Tes
Air mata Kaluna luruh. Dan tentu saja Yasa tidak tahu. Rupanya Kaluna hanya berpura-pura tidur. Ia sungguh tidak kuasa jika melihat Yasa yang benar-benar menanggung semuanya yang terjadi sendiri.
Lambat laun belitan tangan Yasa pada perut Kaluna semakin melemah. Sebuah dengkuran halus bisa Kaluna rasakan di tengkuknya. Hal tersebut sebagai tanda bahwa Yasa sudah tidur.
Kaluna lalu membalikkan tubuhnya hingga menghadap sang suami. Ia menatap wajah Yasa lekat. Tampan, itulah yang Kaluna tahu. Wajah tampan pujaan mahasiswi di kampus dulu itu kini menjadi miliknya dan bisa dia lihat sepanjang waktu. Kaluna bisa melihat gurat lelah di wajah Yasa. Wanita itu menghembuskan nafasnya pelan.
" Maafkan aku mas jika aku tidak menuruti mu. Biarlah aku melakukan dosa ini karena tidak menuruti perkataan suami. Tapi sungguh aku tidak ingin melihatmu hancur karena perbuatan masa laluku. Ini mungkin akan jadi pembayaran atas kesalahan yang ku perbuat."
Kaluna menyambar sebuah tas tangan, tak lupa ia memakai kaos kakinya sebelum keluar dari rumah. Kaluna membalikkan tubuhnya dan menghampiri Yasa kembali. Sebuah kata maaf Kaluna ucapkan sebelum benar-benar keluar dari kamar.
Kaluna melihat kunci mobil sang ayah di atas meja makan. Ia pun langsung menyambar kunci tersebut. Kaluna meletakkan jari telunjuknya di bibir saat Mbok Yem melihat nya pergi ke luar. Mbok Yem tentu paham apa maksud nona nya tersebut.
Bruummm
Kaluna mengemudikan mobilnya meninggalkan Vila. Dia tahu pasti bahwa dirinya bersalah karena pergi keluar tanpa izin sang suami. Tapi hal ini harus benar-benar dia lakukan. Berita diluar sana semakin ramai. Terakhir dia melihat portal berita online nama sang mama dibawa-bawa. Kehidupan pribadi kedua orang tuanya mulai di korek. Tentu Kaluna tidak ingin semuanya ini berlarut-larut apalagi jika nanti menyenggol nama sang putra, sungguh Kaluna tidak mau.
__ADS_1
Di ibu kota seorang wartawan tersenyum lebar saat ia mendapat pesan dari orang yang mengaku sebagai Kaluna. Tentu ini adalah sebuah jackpot. Jika yang lain akan sibuk mencari berita maka ini berita yang menghampirinya sendiri.
" Halo mbak, dimana kita akan bertemu?"
" Soul Restorant. Saya ingin bertemu ditempat yang ramai saja. Dan jika saya boleh meminta saya ingin Anda membawa rekan wanita. Saya tidak ingin timbul fitnah jika ada yang melihat kita."
" Baik mbak, saya akan membawa rekan saya."
Wartawan itu mengerutkan alisnya. Sebenarnya wanita seperti apa Kaluna itu. Mengapa sepertinya sebagai seorang wanita yang baik. Kabar yang gencar beredar Kaluna adalah wanita yang tidak baik. Bahkan sebuah sumber mengatakan bahwa Kaluna adalah wanita nakal.
" Ini sepertinya benar-benar menarik."
Wartawan tersebut langsung bergegas menuju tempat yang jadi tujuan bertemu dengan sumber beritanya. Dengan membawa rekan wanita seusai permintaan Kaluna, wartawan yang bernama Ari itu melajukan mobilnya dengan penuh senyuman.
Sedangkan di vila Yasa terkejut saat tidak menemukan Kaluna di sampingnya. Ia bergegas bangun memindai seluruh kamar tapi tidak juga menemukan sang istri. Yasa kemudian keluar kamar, dan menuju kamar sang putra, Kaluna juga tidak ada di sana.
" Ma, pa, apakah melihat Kaluna?" tanya Yasa kepada Raffan dan Vanka yang duduk di ruang makan.
" Tidak Yas, bukannya Kaluna ada di kamar bersama mu?"
Yasa menggeleng menjawab pertanyaan Raffan. Kini semua orang panik mencari Kaluna. Mbok Yem yang melihat kepanikan semua orang tentu tidak tahan juga untuk berbicara.
" Tuan, nyonya, den, Non Klauna tadi pergi pakai mobilnya Tuan."
__ADS_1
" Astgafirullaah Kal, apa yang mau kamu lakuin. Please, jangan lakukan ide gila mu itu."
TBC