Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 87. Ngidam?


__ADS_3

Dengan penuh semangat Zion membantu Zalfa memasukkan nasi liwet bersama semua lauk pauknya ke dalam mobil. Kedua orang tua Zalfa tampak senang melihat Zion yang datang ke rumahnya. Semua orang di desa itu tentu tahu reputasi Zion.


Zion yang dikenal dengan nama Surya terkenal sebagai pribadi yang baik dan rajin. Tidak pernah neko-neko.


Sebenarnya ada beberapa yang menginginkan Zion menjadi menantu mereka tapi melihat Zion yang pernah di datangi oleh seorang wanita membuat mereka mengurungkan niat. Dalam benak mereka mengatakan pria sebaik Zion tidak mungkin jika tidak memiliki tambatan hati.


" Apa mungkin putri pemilik perkebunan sedang mengidam Kang Mandor?"


Zion langsung terkejut mendengar pernyataan umi nya Zalfa. Dia tentu tidak berpikir begitu. Tapi mungkin bisa saja benar mengingat kakak iparnya itu tiba-tiba menginginkan sesuatu yang tidak pernah diminta sebelumnya.


" Waduh umi, kurang tahu. Bisa jadi kali ya. Soalnya tiba-tiba gitu."


Zalfa hanya tersenyum simpul. Setelah semua nya berhasil di masukkan ke mobil dan mengucapkan terimakasih, Zion langsung melajukan mobilnya menuju ke Vila. Ia sudah diberitahu oleh Yasa bahwa di vila Mbok Yem dan Mang Didi sudah siap. Jadi Zion tinggal datang dan untuk urusan di vila akan di siapkan oleh Mbok Yem,


Sepanjang perjalanan Kaluna tidak henti-henti nya bersenandung. Sambil melihat ke luar jendela dan sedikit membuka jendelanya Kaluna menikmati jalanan yang mulai memasuki kawasan daerah perkebunan. Ia membiarkan angin menerpa wajahnya. Senyuman mansi terukir di san.


Yasa yang melihat sang istri pun ikut tersenyum. Definisi kebahagiannya yang sekarang adalah melihat senyum anak dan istrinya. Badai besar sudah berhasil mereka lalui. Tapi dalam benak Yasa, itu hanya sebagian kecil. Namanya hidup pasti akan ada lagi permasalahan yang ada di depan mereka. Hanya sikap saling percaya dan bahu membahu satu sama lain yang mampu untuk mengahadapi.


" Apakah sesenang itu? bukannya sudah sering bolak balik ke daerah ini?"


" Iya, sungguh senang. Entahlah, tapi yang jelas aku sangat suka menghirup udara yang begitu segar."

__ADS_1


" Baiklah, lakukan sesuai yang dimau oleh ratu ku."


Kaluna menoleh ke arah sang suami. Dan dengan spontan mencium pipi suaminya. Yasa tentu terkejut, tidak biasanya Kaluna melakukan itu jika berada di luar kamar. Terlebih ini di mobil yang ada Tara di sana.


Tapi sepertinya bocah itu sama sekali tidak memperhatikan apa yang dilakukan bunda nya. Tara sibuk dengan ponsel dan tabletnya. Yasa dan Kaluna menarik dalam-dalam nafas mereka. Tampaknya mereka harus mengambil dua gawai milik sang putra. Kaluna jelas takut jika Tara mengalami kecanduan gawai seperti banyak berita yang beredar di luar sana.


Padahal Tara sendiri bukannya bermain. Saat ini ia sedang berkirim pesan dengan Mr. Sun. Ia menyampaikan analisanya mengenai lukisan yang baru saja ia selesaikan.


" Jadi menurutmu itu adalah sebuah kode gitu"


" Ya, coba mister mencari tahu tentang nama yang aku krim tadi. Aku merasa itu adalah sebuah kode bahwa di sana, di negara itu akau mungkin sekitarnya terjadi perbudakan yang ilegal. Dan mungkin mereka disiksa. Dalam foto asli yang diberikan, tidak ada gambar orang-orang seperti yang aku lukis. Tapi orang tersebut meminta gambar tersebut."


Awalnya Tara sendiri heran, jika biasanya orang menginginkan sebuah lukisan yang indah tapi orang ini tidak. Meskipun lukisan piramida dan gurun pasir yang ia buat memang indah dipandang, tapi bagi orang yang jeli maka pasti akan menemukan sesuatu keanehan di sana.


Tara menghembuskan nafas penuh kelegaan. Satu permasalahan berhasil diurus. Meskipun ia tidak tahu persis bagaiman Mr. Sun akan mengurusnya tapi paling tidak bagiannya sudah selesai. Ia tinggal mengirimkan lukisan itu dan menambahkan hal sesuai instruksi Mr. Sun.


Merasa semuanya sudah ia selesaikan, Tara meletakkan kembali Ponsel dan tabletnya. Rasa kantuk mulai menyerang. Tanpa ayah dna bundanya tahu, ia tadi dini hari sudah berada di studio nya. Dalam hitungan detik bocah itu terlelap. Kaluna yang mengetahui hal tersebut meminta Yasa unyuk menepikan mobilnya. Ia pun pindah ke belakang untuk memangku kepala Tara dan menjaganya agar tidak terjatuh nanti.


" Apa dia bergadang lagi sayang?"


" Entah mas, sepertinya kita harus memasang kamera pengawas di studio miliknya. Tapi harus tanpa sepengetahuan dia. Aku jadi penasaran apa saja yang dilakukan Tara di studio lukisnya itu."

__ADS_1


Yasa mengangguk setuju dnegan usulan sang istri. Ia pun merasa perlu melakukan itu. Tara sungguh masih sangat muda. Ia tahu putranya itu memiliki otak yang cerdas, tapi Yasa tidak ingin Tara kehilangan masa-masa kecilnya untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang dewasa.


Yasa ingin Tara itu bermain seperti anak-anak 5 tahun pada umumnya. Bukannya menghabiskan waktunya untuk berdiam diri di dalam studio lukis.


Di sebrang sana Mr. Sun terkejut saat mengetahui fakta bahwa apa yang dikatakan oleh Tara memang benar adanya. Dhiaurrahman Zahid Hamizan, adalah orang kaya namun bukan yang kaya sekali. Dia memang pernah meminta bantuan tapi tidak ada yang membantu karena organisasi yang dihadapi adalah organisasi besar. Maka dari itu dia mencari bantuan ke luar, siapa tahu ada yang mau membantu membebaskan orang-orang yang tidak bersalah tersebut. Dia sebenarnya penggiat kemanusiaan.


Mr. Sun kemudian menghubungi Q, tentu saja Queen langsung bergerak. Bagaimanapun itu menyangkut kemanusiaan dan tidak bersalah. ( Kisahnya tidak akan dibuat detail ya karena fokusnya adalah Tara yang berhasil mengungkapnya).


Setelah sekitar 4 jam berkendara, sedikit lebih lama memang karena week end, akhirnya Yasa beserta keluarga kecilnya samapi juga di vila. tapi ternyata Tara belum juga bangun. Yasa memilih menggendong sang putra dan membawanya ke kamar. Di dalam sudah ada Zion dan Zalfa. Kaluna langsung menghampiri Zalfa dan memeluk gadis itu.


" Terimakasih ya cantik, maaf merepotkan," ucap Kaluna begitu senang melihat makanan yang dia inginkan sudah tersaji.


" Sama-sama teh. Za seneng bisa bantu teteh kok. Tapi Za nggak tahu ya rasanya kayak gimana," jawab Zalfa dengan wajah yang sedikit merona. Ia merasa tidak percaya diri dengan masakannya. Mengingat Kaluna menginginkan makanan yang ia masak, gadis itu pun benar-benar membuat masakannya sendiri.


" Pasti enak, apapun yang kamu masak pasti enak."


Setelah merebahkan Tara di kamar, Yasa kembali ke dapur. ia kemudian juga mengucapkan terimakasih kepada Zalfa dan Zion karena sudah mau memenuhi keinginan sang istri.


" Tau tuh, aku juga bingung kenapa tiba-tiba minta makanan jauh ke sini." Kini Yasa sang bergantian bicara, sungguh sampai saat ini ia pun masih belum mengerti mengapa Kaluna tiba-tiba menginginkan nasi liwet buatan Zalfa.


" Kak Yas, kalau kata uminya Zalfa mungkin Kak Kaluna lagi ngidam?"

__ADS_1


" He ... ngidam?"


TBC


__ADS_2