
Hari selanjutnya, wawancara Yasa itu pun diterbitkan di portal berita surat kabar resmi. Bukan hanya itu, di laman sosial media pun video wawancara mulai tersebar. Berbagai tanggapan masyarakat beragam untuk apa yang Yasa sampaikan. Pro dan kontra tetap masih ada. Tapi sebagian besar mengatakan bahwa sebenarnya ini adalah masalah internal keluarga dan bukan konsumsi publik.
Semua orang dibuat penasaran mengenai siapa yang menjebak Kaluna. Ada satu hal yang membuat mereka merasa iri malahan saat Yasa terlihat begitu mencintai sang istri. Gimik kah? Strategi kah agar mendapat simpati masyarakat? Jawabannya ada pada hati masing-masing.
Orang jika melihat apa yang katakan dengan hati lapang tentu bisa merasakan ketulusan yang Yasa sampaikan dan cinta itu jelas terlihat dari sorot mata sang profesor muda.
Akan tetapi jika yang melihat dan mendengarkan dengan hati iri dan membenci pasti akan mengatakan bahwa semua hanya palsu dan kamuflase belaka. Orang yang iri hanya akan menilai sesuatu itu buruk meskipun itu adalah hal yang baik.
Tak ubahnya seperti salah seornag yang masih bernafas di bumi ini. Dia begitu marah ketika menyaksikan Yasa berbicara mengenai Kaluna. Kata-kata pujian untuk sang istri membuat orang itu benar-benar muka.
" Cih, sok cinta. Aku yakin itu hanya palsu. Mana ada cinta yang sebenarnya sekarang. Paling gimik buat narik simpati netizen, tahu sendiri netizen sekarang pada suka yang baper. Alaah palingan setelah ini tuh dia nggak akan kayak gitu. Dan apa tadi mau nyari buki? hahahah ketawa aja deh gue, nggak bakalan lo dapat bukti yang lo mau. Kejadian itu udah lama juga."
Klara membuat ekspresi ingin muntah setiap Yasa mengatakan sesuatu. Ia mencibir setiap netizen berkomentar baik dan dia akan menganggukkan kepala tanda ia setuju saat ada netizen berkomentar buruk. Intinya Klara adalah tim yang kontra dengan klarifikasi yang Yasa lakukan.
Ting tong
Bel apartemen Klara berbunyi. Wanita itu membuang nafasnya kasar. Ia tahu yang datang adalah orang yang begitu enggan ia temui. Lio, siapa lagi. Pria itu semakin menempel kepada Klara.
Lio sungguh gencar untuk bisa mendapatkan Klara dan Klara terus menerus menolak pria tersebut. Tidak ada yang kurang sebenarnya dari Lio. Dia adalah seorang pria yang tampan dan putra dari orang terpandang juga. Tapi entah mengapa Klara sama sekali tidak menyadari keberadaan Lio.
Ardelio Pramana, adalah seorang putra pemilik pengusaha restoran yang memiliki banyak cabang di penjuru negeri. Mungkin Klara belum tahu sepenuhnya pria yang saat ini mengejarnya itu. Jadi Klara masih terobsesi untuk masuk lingkup circle keluarga Linford.
Entah bodoh atau memang tidak tahu, sebenarnya apa ia lakukan adalah sedang menggali lubangnya sendiri. Ia menyenggol Yasa seorang Dwilaga sama saja ia berurusan dengan semua orang yang mendukungnya termasuk keluarga Zion. Haih, tampaknya Klara benar-benar bodoh karena berani membuat gonjang-ganjing di keluarga tersebut.
__ADS_1
" Mengapa lama sekali membukanya hmmm?"
Lio langsung merengkuh pinggang ramping Klara dan mencium pipi wanita tersebut. Klara berdecak kesal tapi bukannya ikut kesal, Lio malah merasa gemas. Mungkin ini yang dinamakan cinta itu buta. Sudah jelas sekali Klara menolaknya tapi pria tersebut benar -benar kukuh untuk mendapatkan sang wanita.
" lo ini, sudah gue bilang jagan seenaknya nyium gue."
" Ah elaah Ra, cium dikit dong. Biasanya tuh bibir dah gue isep lo santai bae."
Mata Klara membulat sempurna saat Lio mengatakan hal tersebut. Klara kehilangan kata-katanya setiap menghadapai Lio. Bahkan pria itu saat ini sudah duduk santai di atas ranjang milik Klara. Ya, Lio tanpa ragu masuk ke dalam kamar wanita itu. Dengan dalih ingin menonton televisi ia sudah duduk santai di sana.
" Jangan seenaknya sendiri masuk kamar gue. Apa lo lupa ini apartemen cewek."
" Pelit banget sih."
Tangan Klara masih memegang tangan Lio. Tidak ingin menyianyiakan kesempatan, Lio menarik Klara dan menjatuhkan wanita itu ke sofa. Sepersekian menit, Lio sudah mengungkung tubuh Klara. Mata mereka beradu. Lio tahu Klara saat ini tengah sendiri. meskipun wanita itu kukuh mengatakan bahwa dirinya belum putus dari sang kekasih namun Lo bisa melihat bahwa Klara sedang putus cinta.
" Aku yakin kamu membutuhkan ini."
Tanpa permisi, Lio langsung meraup bibir Klara. Ciuman itu Klara awalnya tidak menanggapi tapi Lio berhasil membuat Klara terbuai. Bukan hanya sekedar mencium bibir, Lio kali ini menyesap leher Klara. Leher jenjang nan mulus itu dari tadi sudah menggoda Lio.
Klara hanya memakai tank top dan celana pendek saat Lio masu tadi. terang saja membuat hasrat pria itu mencuat. Satu ******* keluar dari mulut Klara membuat Lio semakin menggebu. Lio adalah seorang player, ia tentu tahu bagaimana membuat partnernya terlena. Bahkan sekaran atasan yang Klara kenakan sudah berhasil Lio turunkan meskipun belu sepenuhnya.
Mata Lio berbinar saat sesuatu dari balik atasan itu menyembul keluar, putih nan mulus. Meskipun tidak tampak semua sungguh membuat Lio semakin menggebu. Ia pun menurunkan bibirnya di sana. Lio hendak menyingkap atasan milik Klara sepenuhnya namun tangan Klara berhasil menghalangi. Sepertinya wanita itu menemukan kembali kesadarannya. Ia langsung mendorong tubuh Lio dari atas tubuhnya. Klara berlari amsuk ke kamar.
__ADS_1
Brak
Pintu kamar ditutup dengan rapat oleh Klara. Bahkan bunyi ia mengunci pintu pun terdengar. Lio tersenyum penuh arti, ia tahu baha Klara juga menginginkannya. Wanita itu menikmati setiap sentuhan dan ciuman bibirnya.
" Aku akan mendapatkan mu, tunggu saja. Tidak akan lama." Lio melenggang pergi keluar dai apartemen. Kali ini ia akan melepaskan Klara.
Di dalam kamar, Klara memegang dadanya. Nafasnya tersengal. Ada gejolak dalam dirinya saat Lio menciumnya tadi. Sentuhan Lio membuatnya benar-benar terlena.
" Sialan, brengsek. Bisa-bisanya aku menikmati ciuman Lio. Argggg!!! Sial, sial, sial. Dasar Lio brengsek. Tidak, aku harus hati-hati dengan dia. Lio benar-benar memiliki pesona saat berada dalam jarak dekat."
Kring
Ponsel Klara berdering. Wanita itu langsung menjawab panggilan tersebut. Matanya seketika bersinar, senyum di bibirnya mengembang saat melihat satu nama muncul di layar ponselnya.
" Iya a, ada apa?"
" Aku sedang di kota sekarang. Apa bisa bertemu?"
" Ha? Serius aa di kota? Oke. Bisa aku bersiap dulu ya. Nanti aa share loc aja mau ketemu dimana."
Klara menutup panggilan tersebut. Ia kemudian lari ke arah cermin. Lagi, Klara mengumpat kesal saat beberapa tanda merah ada di lehernya. Ini akan membutuhkan waktu untuk menutupi.
" Sialan si Lio, haish kenapa pas banget sih Zion ke kota. Tapi dia mau apa ya. Aah bodo, yang penting ketemu dulu. Sukur-sukur dia langsung mau ngajak nikah kayak yang udah-udah."
__ADS_1
TBC