
Ketika sampai di rumah Yasa mobil-mobil tersebut tidak juga pergi. Mereka memarkirkan mobil mereka di luar rumah. Rupanya tidak hanya ada satu mobil di sana, melainkan 3 mobil.
Yasa kemudian membawa Tara masuk ke kamar. Ia meminta istrinya untuk pergi ke kamar lebih dulu dan nanti akan menyusul jika sudah mengantarkan Tara. Tapi mau tidak mau sepertinya ia harus membangunkan putranya itu karena mereka belum menjalankan kewajiban 4 rakaat. Mereka tadi berangkat dari vila memang setelah magrib.
" Nak bangun, isya dulu yuk nanti Tara boleh tidur lagi."
" Eughhhh, baik yah."
Dengan jalan yang masih sedikit sempoyongan Tara masuk ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Ia kemudian mengambil piyama dan menggantinya sekalian sebelum menjalankan kewajiban 4 rakaat.
" Mari jamaah bersama ayah."
Yasa memimpin ibadah mereka. Dengan khusyu Tara mengikuti setiap gerakan demi gerakan dari Yasa hingga salam tanda sholat berakhir. Sejenak memanjatkan doa lalu Tara meraih tangan Yasa dan menciumnya.
" Sebenarnya ada apa nak? Mengapa ada orang-orang itu yang melindungi kita?"
Tara terdiam mendapat pertanyaan dari ayahnya. Ia yakin ayahnya pasti sudah bisa tahu mengapa mereka perlu dikawal.
" Sebenarnya ada seseorang yang sedikit terobsesi dengan Raka Pittore. Orang itu menginginkan Pittore bekerja padanya untuk menduplikasi lukisan. Jelas Tara menolak keras, dan rupanya orang itu tetep gigih mau ngajak Tara. Dia bahkan ngancem Tara menggunakan keluarga Tara."
" Astgafirullaah."
Yasa sangat terkejut. Bagaimana bisa putra nya berurusan dengan orang gila macam itu. Ini tentu bukan masalah simple. Ini sudah menyangkut nyawa. Wajah Yasa langsung pucat, ia jelas khawatir terhadap keselamatan anak dan istrinya.
Yasa meminta Tara untuk segera tidur dan dia keluar dari kamar putranya lalu menuju ke ruang kerjanya. Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
" Bibi, apakah kami sedang dalam ancaman. Mengapa banyak orang-orang bibi disekitar kami. Apa benar yang Tara katakan mengenai orang asing itu?"
__ADS_1
" Haaah, kau sudah tahu rupanya siapa putramu? Ya seseorang yang di sebutkan putramu adalah ketua sindikat penduplikasian karya seni. Bukan hanya itu, dia juga merupakan pencuri kelas kakap yang susah sekali dibekuk oleh interpol."
Yasa semakin terkejut saja dengan penjelasan bibinya. Ia sungguh tidak menyangka sang putra menjadi objek obsesi seseorang. Hal tersebut jelas obsesi, kedatangan orang itu ke negara ini dna mencari Tara membuktikan hal tersebut.
Meskipun dalam pandangan Hanson O'Connell Tara adalah orang dewasa tapi tidak pada kenyataannya. Otak Yasa kini berputar mencoba mencari pemecahan akal hal ini. Mereka tidak bisa terus kucing-kucingan, suatu saat pasti orang itu akan menemukan juga keberadaan Tara.
" Apa dia tidak bisa dilacak balik bi?"
" Saat ini belum bisa Yas."
Yasa mengerti, ia kemudian mematikan sambungan teleponnya dengan Silvya. Yasa kembali menyandarkan punggungnya di kursi ruang kerjanya. Ia masih ingin memikirkan beberapa jalan keluar untuk permasalahan ini.
" Apa aku yang harus menjadi umpannya. Toh selama ini mereka semua tidak tahu wajah Raka Pittore seperti apa. Jika itu lebih mudah membuat orang itu keluar maka bukannya permasalahan ini akan segera selesai?"
Tampaknya Yasa tengah memutuskan hal tersebut. Akan tetapi dia tentu tidak bisa bertindak sendiri dan sembarangan. Ini harus dibicarakan dengan baik kepada bibi nya. Urusan ini bukan hanya sekedar berurusan dengan maling ayam yang ketika diketahui bisa langsung tertangkap. Urusan ini berhubungan dengan seorang profesional.
Pagi harinya Yasa membawa Kaluna menemui dokter Lisa sesuai rencana. Tara yang awalnya tidak mengerti mengapa mereka ke rumah sakit hanya menurut. Dalam pikiran Tara mungkin ini waktunya ia harus kontrol. Tapi sepertinya anggapan Tara salah, terlebih mereka memasuki ruangan yang bukan ruangan milik om nya.
" Obgyn itu bukannya bagian kehamilan? Apa bunda sedang hamil, Woaaah ini sungguh berita mengejutkan." Tara bermonolog dalam hati.
Dokter Lisa menyambut kedatangan Yasa, Kaluna, dan juga Tara dengan senyuman hangat. Sebuah sapaan dan pembuka awal yang biasa dokter katakan kepada pasiennya di dengarkan dengan baik oleh semuanya. Pertanyaan seputar terkahir kali datang bulan juga ditanyakan oleh Dokter Lisa. Pada akhirnya Kaluna diminta untuk naik ke brankar karen akan melakukan USG.
" Tara mau lihat calon adiknya nggak, sini sayang. Tuh lihat bulatan kecil itu adalah adik Tara nanti. Sayang ya sama adik pastinya," ucap Dokter Lisa lembut.
" Pasti dokter, kan adim Tara bakalan jadi partner Tara buat ngurus semua aset yang ditinggalkan oma buyut."
Dokter Lisa tidak bisa menahan tawanya saat bocah kecil itu mengatakan hal tersebut. Rupanya Tara tidak cemburu memiliki adik, dan sepertinya dia sudah siap karena untuk berbagi tugas.
__ADS_1
Sedangkan Yasa hanya menepuk pelan keningnya. Apa yang dikhawatirkan rupanya tidak terjadi. Tampaknya sang putra malah begitu antusias dengan kehamilan Kaluna. Satu sisi Yasa senang tapi di sisi lain ia merasa putranya itu sudah memiliki rencana masa depan yang nyata untuk adik-adiknya.
Kaluna pun ikut tenang. Tara menyambut baik adik yang masih berada dalam kandungannya. 6 minggu usia kandungan Kaluna, sebuah doa dipanjatkan dalam hati agar semua baik-baik saja. Dna satu hla yang pasti, sungguh Kaluna memohon agar kejadian Tara tidka terulang kembali.
Ada sedikit trauma dalam diri Kaluna ketika mengingat bagaimana vonis dokter dijatuhkan kepada Tara. Dunia nya sana runtuh, namun ia bersyukur semua itu sudah berakhir.
Ketiganya keluar dari ruangan Dokter Lisa dengan penuh senyuman. Berkali-kali Tara mengusap perut bundanya yang masih rata itu. " Tara pikir isinya akan dua atau 3 sekalian. Ternyata satu, tapi nggak apa dek. Nanti kita minta bunda buat adik lagi biar kita nggak repot ngurus ini itu sendirian."
Yasa benar-benar kehabisan kata untuk menanggapi ocehan sang putra. Bagaimana bisa, Tara sudah merencanakan semuanya bahkan saat adiknya masih di dalam perut sang ibu.
" Sayang, apa Tara suka punya adik?"
" Suka bund, sangat suka."
Kaluna tersenyum, ia yakin Tara akan jadi kakak yang luar biasa nanti nya. Sekarang saja Tara sudah sangat antusias.
Sedikit meninggalkan interaksi istri juga sang anak, pandangan Yasa memindai ke sekitar rumah sakit. Sedari tadi keluar dari ruangan Dokter Lisa ia merasa gerak-geriknya diawasi. Yasa jelas melihat beberapa orang yang ditempatkan bibi nya untuk mengawal mereka tapi yang Yasa rasakan lain. Tatapan itu begitu menusuk ke arah mereka.
Rupanya apa yang dirasakan Yasa dirasakan juga oleh Tara. Tara tiba-tiba meminta Yasa untuk menggendong dirinya. " Apa ayah merasa seperti kita sedang diawasi?" bisik Tara lirih tepat ditelinga Yasa.
" Ya, benar. Ayah merasa kita sedang di awasi. Apa kau menyalakan kembali ponsel dna tablet mu?"
Tara mengangguk, seperti yang dipikirkan Yasa semalam, Tara juga tidka ingin ini berlarut-larut. Lebih baik menghadapinya sekarang dna selesaikan segera.
" Baiklah, kita sudah memancing musuh maka kita harus bersiap untuk menghadapinya. Sebaiknya kita ungsikan bunda ke rumah oma dan opa, setuju."
" Setuju. Maru lakukan itu yah."
__ADS_1
TBC