Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 88. Identitas Lain


__ADS_3

Yasa tentu langsung mencari apotik atau toko obat setempat. Apa yang dikatakan Zion tentu membuatnya segera ingin tahu kebenarannya. Hamil? itu adalah hal yang Yasa inginkan. Dia bergegas mencari alat tes kehamilan.


" Semoga Kaluna benar hamil. Aamiin."


Saat suaminya tengah sibuk mencari alat tes kehamilan, Kaluna sibuk memakan nasi liwet yang dimasak oleh Zalfa. Semua yang ada di sana sedikit heran dnegan nafsuu makan Kaluna. Zion dan Zalfa saling pandang, tampaknya apa yang jafi praduga umi Zalfa itu ada benarnya.


" Ayo kalian makan juga, laah Mas Yasa kok lama sih."


Zalfa, Zion, Mbok Yem dan Mang Didi hanya mengangguk. Sebenarnya Kaluna sendiri tidak mengindahkan omongan tentang kehamilan tadi. Pasalnya dia tidak merasa begitu saat hamil Tara. Bisa dibilang hamil Tara seperti orang yang tidak hamil. Dia tidak menginginkan apapun bahkan tidak mengalami morning sickness juga.


Di dalam kamar, Tara menggeliat. Bocah itu sedikit terkejut mendapati dirinya yang terbangun di atas kasur . Matanya memindai ke sekeliling lalu ia menghela nafasnya dengan perlahan. " Kamar vila, ternyata aku ketiduran dan di gendong kesini."


Tara bangkit dari atas tempat tidur lalu menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka. Merasa lebih segar, ia lantas segera keluar kamar dan mencari keberadaan kedua orang tuanya. Mata Tara tertuju pada keramaian yang terjadi di ruang makan. Bocah itu berjalan sedikit lebih cepat untuk melihat ada apa di sana.


" Woaaah enak nih."


" Eh nak, udah bangun. Sini makan Bibi Za masak nasi liwet enak lho."


Zion menarik sebuah kursi dan meminta Tara untuk duduk. Tara tentu senang melihat bunda nya yang makan dengan begitu lahap. Sudah lama Tara tidak melihat sang bunda makan dengan begitu tenang dan bersemangat.


" Tara mau apa nak?"


" Buah aja kalau ada paman."


Zi mengangguk, ia tentu juga paham bahwa Tara masih belum bisa makan sembarangan dan agaknya Kaluna sedikit abai saat ini karena ia benar-benar menikmati makanan yang ia inginkan.


Semua menikmati makanan mereka masing-masing. Hingga Tara mengingat pesan yang ia kirimkan kepada Mr. Sun. Ia jelas ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah semua tebakannya itu benar atau salah. Jika salah maka Tara sungguh sangat bersyukur tapi jika benar, tentu harus memberitahu pihak yang berwajib.


Tara turun dari kursinya dan berjalan sedikit lebih cepat ke kamarnya. Tapi sebelumnya Tara meminta izin dulu ke semua yang ada di ruang makan untuk kembali ke kamar.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Tara mencari dimana ponsel dan tabletnya. Ia menepuk keningnya sendiri saat mengingat bahwa tadi ia tertidur. Jadi dipastikan kedua benda itu disimpan oleh sang bunda.


Bocah itu pun kembali berjalan ke luar kamar dna menuju ruang makan lagi. " Bund, bunda ada nyimpen ponsel dan tablet Tara?"


Kaluna yang sudah selesai makan nasi liwet dan sedang membereskan bekas makannya terhenti sejenak menatap sang putra. " Oh itu, ayah yang nyimpen. Sekarang ayah lagi ke luar. Paling bentar lagi pulang."


Tara merasa heran, tidak biasanya kedua barangnya itu diamankan oleh ayah dan bundanya. Pada akhirnya ia pun memilih untuk menunggu sang ayah di ruang keluarga sambil menonton televisi. Hal yang sudah lama tidak ia lakukan. Ia menyaksikan kartun bocah super dari negri tetangga. Terlihat wajah serius dan antusias di sana. Kaluna tersenyum, ia sedikit merasa lega karena putranya masib menyukai tontonan anak-anak.


" Baiklah teh, Zalfa pamit ya." Zalfa pamit kepada Kaluna untuk kembali pulang ke rumah. Sekali lagi Kaluna mengucapkan terimakasih karena sudah merepotkan Zalfa. Ibu satu anak itu memeluk Zalfa.


Dengan diantar oleh Zion, kedua orang itu masuk ke mobil. Saat Zion pergi dengan mobilnya, Yasa pun kembali. Kaluna tentu senang melihat kepulangan sang suami yang pergi sedikit lebih lama dari perkiraan.


" Kok lama mas?"


Yasa mengangkat beberapa barang yang ia beli. Tentu saja Kaluna terkejut, Yasa membeli beberapa susu ibu hamil. Padahal merek belum memastikan hal tersebut. Baru besok pagi rencananya Kaluna akan mengetes menggunakan testpack. Katanya keadaan bangun tidur di pagi hari merupakan waktu terbaik untuk menggunakan alat tes kehamilan karena kadar hormon hcg dalam urine yang tinggi.


" Laah tumben tuh nonton."


" Nyariin hp sama tab nya tadi. Aku bilang disimpen ayah."


Yasa mengangguk, sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk menanyai sang putra. Aluna menyimpan terlebih dulu alat tes kehamilan yang dibeli oleh Yasa di kamar. Dengan membawa ponsel dan tablet milik Tara yang memang disimpan di kamar, Kaluna kembali ke luar.


" Ini mas." Kaluna memberikan kedua benda itu kepada Yasa dan keduanya menghampiri Tara yang sedang serius menonton acara televisi.


" Apa mencari ini boy?"


" Aaah iya yah."


Tara hendak mengambil ponsel dan tabletnya tapi oleh Yasa di tahan. Tara pun menjadi bingung dengan sikap ayahnya tersebut. Setelah Tara telaah, tatapan mata sang ayah tidak seperti biasanya. Banyak sekali pertanyaan yang ada pada wajah ayah dna bundanya. Tara mulai memahami sesuatu. Tampaknya ia akan di sidang kali ini.

__ADS_1


Bocah itu mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia siap dengan banyak pertanyaan yang akan keluar dari bibir ayah dan bunda nya.


" Baiklah yah, bund, apa yang ayah dan bunda ingin tanyakan."


Yasa dan Kaluna saling pandang. Putra nya memang cerdas. Belum juga mereka berkata apapun Tara sudah tahu terlebih dulu maksud mereka.


" Pertama untuk apa dan siapa lukisan-lukisan Tara dibuat? Kedua mengapa kedua benda ini harus di password, ayah tidak menerima jawaban bahwa ini privasi. Usia Tara baru 5 tahun, hal privasi apa yang Tara tutupi hingga mengunci 2 benda ini. Ketiga, apa Tara selama ini bergadang karena melukis? Jika Tara tidak bisa memberikan jawaban yang tepat maka tablet dan ponsel selamanya tidak akan ayah kembalikan sampai Tara cukup usia."


Tara membulatkan matanya, tentu di tidak bisa tanpa kedua benda itu. Pekerjaan yang ia punya ada di sana semuanya. Orderan, informasi pelanggan, dan juga uangnya ada di sana.


Haish, sepertinya memnag waktunya mengakui perbuatan. Repot juga punya ayah profesor, bagaimanapun dia tetap tahu gerak-gerik mencurigakan dariku mau seperti apa aku menutupinya, gumam Tara dalam hati.


" Yah, coba ayah searching nama Raka Pittore."


Yasa dan Kaluna langsung mengetikkan nama yang diucapkan oleh Tara. Tidak terlihat apapun tapi ada alamat web yang tertulis biru di sana. Kedua orang tua itu langsung menekan tulisan bercetak biru. Sebuah web pemesanan lukisan lengkap dengan alamat surat elektronik. Yasa dan Kaluna belum mengerti hingga Tara meminta mereka menyalin alamat surel itu dan menuliskan pesan lalu dikirim.


Yasa mengikuti setiap instruksi dari Tara. Ia menulis pesan di surel miliknya dna mengirimkan ke alamat milik Raka Pittore.


Tring


Sebuah notifikasi pesan muncul di tablet milik Tara. Yasa langsung melihat tablet putranya, di layar tertuliskan alamat surel miliknya.


" Apa ini boy? Mengapa kamu yang menerima pesan yang ayah kirim ke Raka Pittore?"


" Karena Tara adalah Raka pittore itu yah, bun."


" Apa!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2