Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 71. Masa Lalu Yang Belum Selesai


__ADS_3

Di villa Kaluna sedikit terkejut saat mengetahui kabar terbaru yang beredar di media sosial dan portal berita online. Bagaimana tidak, ini seperti sebuah tanggapan dari videonya beberapa waktu lalu. Raffan dan Vanka pun juga melihat video dan isi wawancara yang Yasa lakukan.


" Mas, kenapa harus muncul. Bukti kita dijebak mana bisa diungkap. Ini sudah 6 tahun berlalu."


Kaluna tampak cemas saat mendengarkan wawancara Yasa dengan awak media. Rupanya Tara mengetahui hal tersebut. Bocah itu pun memiliki sebuah ide untuk menjahili bunda nya. Terlihat sang bunda yang begitu gelisah membuat Tara tidak tahan juga. Ia selalu tidak suka bunda nya banyak berpikir.


" Bund, bund, emang ayah sama bunda dijebak gimana? Apa aku ada karena hasil dari jebakan itu? Waah sepertinya aku harus mengucapkan terimakasih pada orang yang menjebak ayah dan bunda. Soalnya karen ulahnya aku jadi ada di dunia ini."


Pluk


Kaluna menepuk keningnya pelan. Dia lupa di sana ada anaknya yang selalu ingin tahu terhadap suatu hal. Kini wanita itu terlihat kesulitan menjawab apa yang ditanyakan Tara .


" Haish, anak bunda. Sudah jangan tanya aneh-aneh. Setiap Tara bertanya bunda langsung merinding. Tapi satu hal yang jelas bunda dan ayah sungguh bahagia memiliki Tara dalam hidup kami."


Kaluna membuat kode kepada Tara untuk putranya itu mendekat ke arahnya. Kaluna lalu memeluk Tara. Satu hal yang tidak ia sesali dalam kesalahan itu adalah hadirnya Tara. Buah hati yang jadi penyejuk hatinya itu benar-benar sebagai pelipur lara di 6 tahun hidupnya yang bisa dikatakan susah.


Tawa dan tangis Tara menjadi penyemangat saat ia merasa akan menyerah. Senyum Tara selalu membuat keinginan bertahan hidup semakin membara.


" Tara adalah permata hati bunda. Apapun yang terjadi di masa lalu itu adalah pelajaran hidup untuk bunda agar bunda bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan, Tara dihadirkan oleh Allaah agar bunda bersyukur karena dibalik sebuah peristiwa yang kurang baik ada sebuah hikmah yang bisa dipetik. Tara merupakan sebuah hikmah, rejeki dan sesuatu yang berharga dalam kehidupan bunda."


" Terimakasih bunda sudah melahirkan Tara di dunia ini. Tara sayang bunda."


Sebuah ciuman mendarat di pipi Kaluna. Bocah itu kembali memeluk Kaluna. Dalam hati ia berjanji bahkan sampai kapanpun ia tidak akan membuat bunda nya menangis.


Raffan dan Vanka saling pandang. Keduanya sungguh terharu melihat interaksi putri dan cucunya tersebut. Kesalahan, manusia tentu tidak luput dari salah. Akan tetapi kesalahan itu bisa dijadikan sebuah pembelajaran agar tidak lagi mengulang hal yang sama.


***


Tara kembali ke studio nya. Ia harus menyelesaikan beberapa orderan lukisan yang mulai ditanyakan. Sebuah helaan nafas di lakukan bocah itu.

__ADS_1


" Aissh, kan sudah kubilang, aku nggak mau diburu-buru. Kalau nggak mau ya sudah. Sekarepku ( terserah aku) yang mau ngerjain. Nggak kanti yo teko lungo ( tidak sabat, silahkan pergi)."


Tara ngedumel, bocah itu setelah kemarin masuk rumah sakit sedikit diawasi oleh sang bunda. Bahkan bundanya itu tidur di kamarnya. Alhasil Tara tidak bisa mengerjakan apapun. Saat-saat begini sungguh ia ingin ayahnya segera kembali ke vila. Jika ada sang ayah tentu akan sedikit mengalihkan sikap posesif sang bunda terhadap dirinya.


" Yaaah, please go back home. Aku nggak dapet apa-apa ini. Ini aja masuk studio setelah membujuk seharian penuh."


Tara bermonolog sambil menuangkan cat di sebuah papan.


Ketika Tara akan mulai menyapukan kuas di kanvas ia teringat wanita tua yang ia ketahui saudara kembar dari nenek buyutnya. Jika diambil kesimpulan sepertinya ada urusan masa lalu yang belum selesai. Tara menaruh kembali papan cat nya kemudian sedikit berjalan cepat keluar dari studionya. Matanya


ya memindai ke segala arah mencari keberadaan sang nenek.


Tara langsung berlari menghampiri Vanka yang tengah duduk sambil menikmati teh panasnya. Terlihat wanita paruh baya itu sedang mantap lurus ke depan. Entah apa yang sedang ia pikirkan.


" Nek, Tara mau tanya lagi. Apakah dulu nenek buyut pernah cerita mengenai keluarganya?"


" Tidak sekalipun nak. Yang nenek tahu, nenek buyutmu ya hanya keturunan bule tapi nenek buyutmu tidak pernah menceritakan keberadaan keluarganya."


***


Zion kembali ke kediaman Yasa. Ia kemudian memutar rekaman yang berhasil di dapat. Sebuah hembusan nafas penuh kelegaan dilakukan oleh Yasa, Radi dan Hasna. Mereka benar-benar lega. Akhirnya ada bukti atas perbuatan yang dilakukan wanita itu.


Sore ini juga Andra akan datang untuk membawakan rekaman kamera pengawas. Atas petunjuk dari Kaluna dan Brisia mengenai tempat dimana Klara meminta Kaluna untuk memberikan kue kepada Yasa.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk. Hasna langsung berlari ke arah pintu untuk membukakan dan melihat siapa yang datang. Senyum Hasna mengembang sempurna saat melihat sang adik ipar di depan pintu.


" Masuk An, sudah ditunggu," ucap Hasna.

__ADS_1


" Iya kak," jawab Andra singkat lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Terlihat semua irang sudah sangat menunggu kedatangan pimpinan Universitas Nusantara. Andra benar-benar mumpuni mengurus universitas tersebut. Mantan public figure benar-benar banting stir setelah mereka mereka diberi keturunan. Andra tentu tidka mau kehidupan pribadinya diusik oleh media.


" Ciee, nungguin ya. Cieee."


Pletak


Kepala Andra langsung di sentil oleh Radi. Sikapnya yang tengil dan rusuh itu masih tidak hilang dari dirinya meskipun usianya hampir mendekati 50 tahun.


" Kak apa an sih. Sakit tahu."


" Ish kamu kebiasaan. Orang lagi pada serius juga becanda mulu."


Yasa dan Zion hanya terkekeh geli melihat kelakuan om mereka itu. Andra selalu bisa membuat suasana tegang menjadi mencair dan santai.


" Iya iya sabar. Ini aku berhasil dapetinnya. Setelah ngubek-ngubek seharian full tanpa makan dan tanpa minum."


" Halah, mbelgedes. Hoax mu tidak bisa dipercaya. Zanita akan ngomel kalau kamu tidak makan siang. Jadi simpan saja tipu mu itu."


Anda memberengut, niatnya ingin dramatis dan sedikit lebay gatot alias gagal total. Ia kemudian mengeluarkan tabletnya dan mulai memutar rekaman yang ia dapatkan. Semua menonton rekaman tersebut.


Senyum mengembang di bibir Yasa. Ini cukup untuk membuat spekulasi publik berubah kepada sang istri.


Namun, seketika Yasa salah fokus saat melihat cantiknya Kaluna saat masih usia belia tersebut. Ia pun langsung meraih tablet sang om dan membawanya sedikit menjauh. Tatapan heran dilayangkan semua orang di sana tanpa terkecuali."


" Kenapa Yas?" tanya Hasna.


" Jangan melihat terlalu lama. Itu Kaluna masih belum berhijab."


" Posesip."

__ADS_1


Andra melengos mendengar tingkah sang keponakan. Padahal dirinya tak jauh beda dengan Yasa seperti ini. Dia tidak suka jika sang istri ditatap lama oleh pria. Terlebih jika para mahasiswa-mahasiswa yang menemui Zanita.


TBC


__ADS_2