
Pagi harinya, Kaluna dibantu dengan Yasa kembali membereskan barang-barang yang ingin dibawa. Sebenarnya tidak banyak yang akan dikemas mengingat sebelumnya juga tidak banyak yang dibawa ke Vila. Sebenarnya yang banyak adalah barang milik Tara. Beberapa kanvas dan peralatan melukis lainnya. Sepertinya Yasa harus memesan mobil pengangkut barang untuk membawanya.
" Tidak perlu yah, Tara sudah memanggilnya." Ucapan Tara tentu membuat Yasa dan Kaluna saling pandang hingga seseorang datang dan mengucapkan salam.
Kaluna merasa tidak asing dengan pemuda tersebut. Ia berusaha mengingat dan Kaluna yakin, pemuda itu adalah kurir paket yang biasa membawa paket-paket dari dan untuk Tara.
" Apakah mas ini yang kamu maksud nak?" tanya Kaluna kepada sang putra.
" Iya bund, Kang Kurir ini yang akan membawa kanvas-kanvas milik Tara. Yoi nggak kang, yuk kang langsung cuss."
Kedua orang dewasa itu hanya dibuat bengong dan melongo melihat keakraban putra mereka terhadap sang kurir paket. Kaluna tahu jika kurir itu sering sekali mengantarkan paket Tara, tapi ia tidak tahu kalau hubungan keduanya tampak sangat baik layaknya teman yang sudah lama berteman.
" Sayang, mereka terlihat begitu akrab."
" Iya mas. Tapi nggak apa, aku sering lihat kurir itu. Dan tampaknya dia cukup baik."
" Sayang, stop memuji pria lain di depanku. Aku nggak suka."
Kaluna menggelengkan kepalanya pelan. Sejak kapan dosen yang terkenal susah disentuh hatinya itu meskipun ramah jadi seperti ini. Yasa sungguh tampak berbeda.
Kaluna pun melenggang menuju dapur mengabaikan sang suami yang sepertinya masih cemberut karena ia mengatakan bahwa kurir paket itu baik. Yasa kemudian menyusul dan memeluk istrinya dari belakang.
" Mas, jangan begini. Nanti dilihat orang lain," protes Kaluna.
" Haish, biarin saja paling yang lihat ,Mbok Yem, Mang Didi, Tara dan si kurir itu. Siapa lagi yang ada di vila ini. Papa dan mama udah balik kan kemarin."
Lagi, Kaluna hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah sang suami. Asli, Yasa semakin menempel padanya setiap kali ada kesempatan. Seperti sekarang ini, Kalua benar-benar tidka berkutik hingga sebuah bisikan di telinganya membuat wanita itu membulatkan matanya.
__ADS_1
" Mas yang benar saja, katanya kita harus segera balik ke kota. Lagian kan tadi udah dua kali. Nanti deh kalau udah sampai rumah."
" Bisa tiga kali?"
Plak
Kaluna menepuk keningnya sendiri, rupanya ia terjebak dengan ucapannya. Kaluna hanya mengangguk pasrah. Yasa pun bersorak senang.
" Baiklah istriku, silahkan memasak. Aku akan mengeluarkan barang-barang yang akan dibawa dan memasukkannya ke dalam mobil. I can't wait for tonight."
Kaluna hanya bisa nyengir dan memperlihatkan barisan gigi-giginya dengan sedikit terpaksa. Sepertinya malam ini dia tidaka akan bisa lepas dari cengkeraman sang suami. Kaluna mengusap pinggangnya pelan, " Kuat-kuat deh ya. Dua kali aja nih pinggang agak melihat gimana kalau tiga kali, atau mungkin empat kali?" Kaluna meringis membayangkan apa yang akan terjadi.
πππ
Di dalam apartemennya, sedari tadi malam Klara merasa begitu gelisah. Hatinya tidak tenang, seolah-olah akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Wanita itu bahkan sedari tadi pagi menggigiti kuku-kukunya. Ia terlihat sangat cemas. Bahkan kedatangan Lio pun tidak ia sadari.
Ya, Lio memiliki akses untuk masuk apartemen Klara. Pria itu berhasil mendapatkan kunci kata sandi unit Klara dengan melihat Klara saat Klara menekannya untuk membuka pintu.
" Apa yang mengganggu pikiranmu hmmm?"
" Kau, sejak kapan kau di sini dan bagaimana bisa kamu masuk ke unit ku?"
Lio terkekeh geli. Bukannya menjawab kini Lio sudah duduk di sebelah Klara. Klara tentu heran, seingatnya ia tidak pernah memberikan kata sandi unit apartemennya.
" Apa sih yang nggak ku tahu tentang mu Ra."
Klara membuang wajahnya kesamping. Ia memutar bola matanya jengah dnegan ucapan gombal Lio. Ardelio Pramana, pria itu sebenarnya memiliki pesona yang tidak bisa diabaikan oleh para wanita. Wajah tampan, tubuh tinggi, dan kaya. Tidak ada yang kurang, tapi anehnya Lio sungguh menginginkan Klara.
__ADS_1
Lio merapatkan tubuhnya kepada Klara dan secara langsung menghimpit tubuh wanita disebelahnya itu. Setiap melihat Klara Lio sungguh tidak tahan untuk menciumnya. Lihatlah, kali ini Kalara hanya memakai dress sepaha dnegan tali spaghetti di bahunya. Sungguh membuat Lio kehabisan akal dan tidak sabar untuk menyentuhnya.
Detik berikutnya Lio sudah berhasil meraih tubuh Klara dan membawa di pangkuannya. Entah mengapa kali ini Klara menurut dan tidak protes. Pria itu membelai wajah Klara dan mendekatkan bibirnya ke bibir Klara. Ciuman pelan, lembut tapi dalam itu dilakukan oleh Lio. Klara mengikuti permainan Lio. Tangan Klara sudah mengalung di leher Lio.
Ciuman tersebut rupanya membuat kecemasan dan kegundahan hati Klara sejenak menguap. Sedangkan tangan Lio sudah berhasil membuka tali dress mili Klara, membuatnya merosot dan menampilkan dada Klara yang sintal. Rupanya Klara tidak mengenakan apapun dibalik dress nya.
Lio tentu langsung menyerang itu, menyesapnya dan menikmati milik Klara yang ia yakini belum tersentuh. Sebuah desahhan keluar dari bibir Klara membuat benda milik Lio dibawah sana mulai menegang. Tapi Klara kembali mendorong tubuh Lio. Wanita itu mengangkat dress nya dan menutupi dadanya. Klara beranjak dari pangkuan Lio lalu menuju ke kamar.
Brak
Klara menutup pintu kamar dengan begitu keras. " Sial!!" umpat Lio. Pria itu mengacak rambutnya kasar. " Kenapa sudah sekali sih. Tidak aku tidak boleh gagal kali ini."
Lio bangkit dari duduknya dan menyusul ke kamar Klara. Apakah ini jackpot? Sepertinya iya. Klara rupanya tidak mengunci pintu kamarnya. Mata Lio membelalak saat melihat Klara tidak mengenakan apapun.
" Kau apa yang akan kau lakukan!" Klara sungguh terkejut melihat Lio. Ia meraih handuk yang ia persiapkan karena memang mau mandi. Klara tentu tidak menyangka Lio akan masuk. Biasanya pria itu langsung pergi setiap mereka berhenti berciuman.
" Aku sungguh menginginkanmu Ra."
Lio semakin mengikis jarak, pelan tapi pasti pria itu berhasil mengungkung Klara dan menguncinya di dinding. Satu tangan Lio menempel di dinding dan satunya lagi meraih dagu Klara dan bersiap untuk mencium bibir itu kembali.
" Lio, kita tidak ada hubungan lebih. Ingat we are friend. Kita hanya teman."
" Itu kamu yang beranggapan begitu, tapi aku tidak. Aku sungguh ingin memilikimu Ra. Mari kita menikah."
Klara menggeleng cepat dnegan lamaran dadakan Lio tersebut. Menikah? Dia sungguh belum berpikir untuk kesana. Apalagi sekarang Zion tidak lagi bisa ia dapatkan.
" Tidak, aku masih belum ingin menikah."
__ADS_1
" Jadi apakah kamu mau melakukannya sekarang?"
TBC