
Klara berhenti di sebuah kafe dimana ia ada janji temu dengan salah seorang awak media kenalannya. Sebuah rencana tersusun rapi di kepala wanita itu. Tampaknya ia benar-benar sudah tidak berpikir dengan jernih lagi. Padahal semua media saat ini tengah menyorot perilakunya.
Wanita itu tersenyum saat seseorang melambaikan tangannya ke arah dirinya. Dengan tenang, Klara berjalan mendekat. Ia pun duduk, namun sesuatu hal tidak terduga terjadi. Beberapa orang mendatanginya. Setidaknya ada sekitar 10 orang dan masing-masing dari mereka membawa kamera.
Bisa Klara sadari kamera-kamera tersebut dalam posisi on alias menyala. Rupanya ia mulai di rekam.
" Apa-apa an ini?" ucap Klara dengan nada sedikit lebih keras. Ia menyembunyikan keterkejutannya.
" Katanya Anda mau memberi saya berita. Saya hanya tidak ingin mendengar sendiri. Bukankah berita akan lebih bagus jika disiarkan oleh banyak orang." Salah seorang di sana angkat bicara. Klara menatap orang itu dengan tajam, rupanya itu adalah orang kenalannya.
Tangan Klara mengepal erat. Ia tahu bahwa dirinya dijebak saat ini. Mau bicara hal lain Klara sudah tidak bisa karena serentetan pertanyaan mulai ditujukan kepada dirinya. Klara masih terdiam ditempat. Bingung? Pasti, siapa yang tidak bingung jika dihadapkan pada situasi tidak terduga seperti ini.
" Baiklah dengarkan, tidak ada hal yang harus aku sampaikan. Dan aku juga tidak perlu minta maaf. Kan kalian tidak ada bukti bahwa aku lah yang melakukan itu semua bukan?"
" Tapi kamu yang waktu itu menginginkan aku menaikkan berita mengenai Kaluna dan Yasa. Dan katamu apa yang terjadi dengan mereka saat ini adalah keberhasilan mu di masa lalu."
Duaaar
Klara tentu terkejut. Ia tidak menyangka wartawan kenalannya itu akan membuka apa yang ia katakan. Kini semua wartawan satu per satu mendesak Klara. Rupanya salah satu dari wartawan itu melakukan siaran langsung, tentu saja semua hujatan langsung tertuju kepada Klara. Bahkan kata-kata buruk menyasar padanya.
Merasa tidak tahan Klara pun berusaha untuk lari. Telinganya sangat panas. Karena memang tidak ada yang bisa menahannya, Klara berhasil sampai di mobil.
Brummmm
Mobil Klara melaju dengan begitu cepat meninggalkan area kafe. Wanita itu tersenyum penuh kemenangan karena berhasil lolos dari orang-orang tersebut. Tapi ia berubah geram saat beberapa notifikasi ponselnya berbunyi.
__ADS_1
" Sialan memang, mereka benar-benar tidak bisa membuatku tenang!"
Klara mengacuhkan ponselnya dan memilih kembali fokus dengan kemudinya. Kali ini dia berpikir hendak pergi kemana. Apartemen sudah jelas tidak bisa ia sambangi. Lalu rumah? Klara sangat enggan kembali ke rumah. Ia merasa orang rumahnya tidak ada yang berpihak padanya jadi percuma saja ia pulang.
" Ah, Lio bukankah katanya ia ingin menikahi ku. Aku yakin dia masih belum berubah pikiran."
Klara kemudian menelpon Lio dan menanyakan tentang permintaannya kemarin. Namun rupanya jawaban Lio tidak seperti apa yang ia harapkan.
" Maaf, aku tidak bisa menikahi mu. Kamu sudah menolak ku waktu itu. Kita tidak cocok jadi pasangan dan hanya bisa jadi teman, itu yang kamu katakan. Dan setelah ku pikir-pikir itu semua benar."
" Brengsek!" Klara memukul setir kemudinya. Ia juga semakin dalam menekan pedal gas mobilnya. Mobil begitu kencang melaju, satu hal yang tidak Klara lihat bahwa di depannya ada lubang. Mobil Klara oleng karena melewati lubang tersebut dan crash ... braaakkk. Mobil Klara berguling dan menghantam pembatas jalan.
Nguuuung
Telinga Klara berdengung. Matanya kabur dan detik selanjutnya Klara tidak sadarkan diri.
Di seberang Lio yang baru saja menutup panggilan dari Klara langsung kembali duduk di kursi. Tampak seseorang melihatnya dengan penuh tanya.
" Maaf tadi temenku menelpon," ucap Lio sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah dia merasa salah tingkah saat ini. Biasanya ia tidak pernah merasa begitu.
" Ooh oke, lalu apa yang mau dibicarakan. Mengapa tiba-tiba meminta bertemu. Apalagi kita belum mengenal satu sama lain."
" Aaah begitu. Baiklah mari berkenalan dulu. Nama ku Ardelio Permana. Terserah kamu mau manggil apa . Ardel, Ar, atau Lio. Dan yang kedua, aku mau minta maaf atas kejadian tempo hari. Karena aku tidak fokus mengemudi aku hampir membuat mu celaka. Dan ketiga, maaf lagi karena telah memanggilmu ibu waktu itu. Sungguh aku minta maaf."
Brisa tersenyum simpul. Setelah selesai melakukan konferensi pers kemarin ia dihentikan oleh seseorang sebelum keluar dari resto. Dan, siapa sangka orang yang memanggilnya itu adalah orang yang hampir saja menabrak mobilnya.
__ADS_1
Sekarang Brisia tengah duduk berhadapan dengan Lio. Ia memenuhi undangan Lio untuk datang ke resto itu kembali.
" Sudah tidak perlu di bahas. Lagi pula aku tidak apa-apa. Oh lupa namaku Brisia Alin Winker. Panggil saja Brisia. Senang bisa berkenalan dengan Anda Bang Ardel."
Lio tersenyum dipanggil bang oleh Brisa. Entah mengapa ia merasa senang berbicara dengan gadis yang ada di depannya itu. Meskipun baru mengenal tapi Lio benar-benar merasakan kenyamanan.
Namun keakraban tersebut membuat seseorang tidak suka. Siapa lagi kalau bukan Frans. Frans yang baru datang ke Soul Restauran tentu sedikit terkejut saat melihat Brisia berada di sana dengan seorang pria. Ia yang memang ada janji temu dengan klien pun sedikit dibuat diam tidak bergerak hingga panggilan dari kliennya membuatnya kembali berjalan menuju meja sang klien.
" Siapa pria itu? Apa hubungannya dengan Brisia? mengapa mereka begitu akrab?"
Banyak pertanyaan yang hadir di kepala Frans. Tapi untuk saat ini ia akan meredamnya dulu. Ia harus kembali fokus dengan kliennya. Frans akan meminta bantuan Yasa untuk menanyakan kepada Kaluna mengenai status Brisia. Masih single ataukan memang sudah punya kekasih. Jika masih single maka Frans harus segera mengejarnya, tapi jika sudah punya kekasih maka Frans akan mundur secara teratur.
Kembali ke meja Lio dan Brisia. Mereka terlihat cepat sekali akrab. Baik Lio maupun Brisia rupanya mudah beradaptasi dengan orang baru. Disaat sedang asik mengobrol tiba-tiba berita di televisi menayangkan sebuah berita. berita tersebut berisi mengenai kecelakaan tunggal yang terjadi sekitar 10 menit yang lalu. Sebuah nama disebut membuat Brisia maupun Lio sama-sama terkejut.
" Klara?" ucap Lio dan Brisia secara bersamaan.
" Apa kamu mengenal dia?" Lagi, mereka menanyakan hal serupa bersamaan. Tapi selanjutnya Brisia berbicara lebih dulu menjelaskan siapa Klara.
" Dia adalah teman saat di universitas dulu. Tapi juga tidak bisa dikatakan teman sih. Lalu kamu?'
" Sama, dia adalah temanku juga."
Semuanya kembali terdiam. Masing-masing siibuk dengan pikirannya sendiri hingga sura ponsel Lio berdering.
" Ya hallo, baik saya akan segera kesana?"
__ADS_1
Lio beranjak dari tempat duduknya. Tapi entah apa yang ia pikirkan, tapi tangannya sudah meraih tangan brisia dan menariknya sambil berkata, " Ikutlah denganku?"
TBC