
" Setelah apa yang terjadi semalam apakah masih malu hmm?"
Haish, tampaknya Yasa semakin menempel kepada Kaluna setelah mereka melakukan penyatuan tadi malam. Kaluna yang saat ini berdiri di depan cermin sambil mengenakan jilbab instannya sudah di peluk dari belakang oleh Yasa. Pria itu terus saja menciumi punggung Kaluna. Aroma tubuh Kaluna sudah jadi candu untuk Yasa saat ini.
" Mas, aku harus ke dapur. Mending mas bangunin Tara deh untuk sholat subuh dulu."
" Haish, kalau kayak gini aku jadi males mau balik ke kota."
Yasa melenggang ke luar kamar setelah berhasil mendapatkan ciumannya terhadap bibir sang istri. Mata Kaluna membulat sempurna saat Yasa melakukan itu secara tiba-tiba. Bahagiakan dia? Mungkin memang iya. Dari sikap Yasa, Kaluna tahu pria itu sungguh mencintainya.
" Ya Rabb,semoga pernikahan kami selalu mendapat berkah dari mu. Aamiin."
Kaluna ikut melenggang ke luar kamar. Waktunya dia untuk berkutat di dapur. Meskipun ada Mbok Yem tapi Kaluna memang lebih suka memasak sendiri. Tapi pagi ini tampaknya berbeda. Mama nya sudah lebih dulu berada di sana.
" Udah, mama istirahat saja. Biara Kaluna yang masak."
Vanka tersenyum, melihat wajah sang putri yang sekarang lebih bersinar dan jelas rona kebahagiaan terpancar di sana. Dalam setipa sujudnya Vanka tidak pernah purus mendoakan kebahagiaan putri dan cucunya. Dan sekarang bertambah menantunya juga yang menjadi list di dalam doanya.
" Mama juga ingin ikut bantu memasak."
Kaluna tersenyum. Dua wanita berhijab beda generasi itu kini sudah tampak sibuk berkutat di dapur. Menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga. Dan tentunya makanan khusus untuk Tara. Pagi ini Tara akan sarapan sereal oatmeal plus yoghurt dan buah-buahan.
Di dalam kamar bocah itu tengah asik bermain dengan sang ayah. Setelah mandi dan menjalankan kewajiban dua rakaat, Yasa dan Tara senang membuat gambar bersama.
" Aih, Tara kan biasanya melukis. Kenapa ini gambarnya begini."
" Sekali-kali cosplay jadi amatiran yah."
Pict by pint
__ADS_1
Yasa tergelak mendengar ucapan sang putra. Sebagai seorang profesor yang banyak menjumpai mahasiswa dan banyak bertemu orang-orang cerdas, Yasa tentu tahu bahwa putranya ini jenius. Tapi Tara sungguh pintar menyembunyikan kecerdasannya dan seolah-olah dia hanya bocah usia 5 on the way 6 tahun.
" Apa Tara tidak ingin pergi ke sekolah."
" Ehmmm, Tara sepertinya prefer di rumah deh. Di Taman Kanak-Kanak kan cuma main yah. Di rumah aku juga bisa main."
" Tapi kalau di sekolah kan Tara banyak temannya."
Bocah itu terdiam sejenak. Yasa sungguh menunggu apa yang akan menjadi jawaban Tara selanjutnya.
" Di TK itu nggak efektif yah. Paling belajar gambar, lah Tara udah bisa. Belajar baca, Tara juga udah bisa. Belajar angka, ehmm Tara udah bisa hitungan bahkan perkalian. Jadi bagi Tara kurang efektif kasian bu gurunya jatuhnya mubazir ngajarin Tara. Biar bu gurunya ngajarin yang lain aja dan Tara duduk manis di rumah."
Plak
Yasa menepuk keningnya sendiri mendengar jawaban sang putra. Sungguh dia tidak menyangka bahwa putranya itu akan menjawab begitu. Mubazir? Apa ada ilmu yang diajarkan itu menjadi mubazir?
Yasa hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sungguh, menghadapi anak yang cerdas rupanya benar-benar tidak mudah. Tara selalu memiliki argumennya sendiri dengan setiap apa yang Yasa katakan dan tanyakan. Dimana hal tersebut terkadang sungguh di luar nalar. Dalam artian Yasa tidak akan menyangka putranya mengatakan hal tersebut.
" Aish, kamu ini bisa-bisanya. Aah ayok kita ruang makan. Pasti bunda sudah selesai masaknya. Oh iya nenek dan kakek datang lho semalam."
Tara berjalan cepat ke luar kamar. Ia langsung menuju ke dapur, menemui tempat dimana neneknya berada. Ia tentu tahu sang nenek pasti akan ada di dapur saat pagi begini.
" Assalamualaikum nek."
" Waalaikum salam. Cucu nenek yang ganteng, sholih. Apa Tara sehat?"
" Alhamdulillaah sehat nek."
Vanka memeluk Tara dengan erat. Diusia yang sudah tidak muda ini, melihat tawa dari sang cucu membuatnya semakin bahagia. Sungguh ternyata bahagia memanglah sederhana. Tak berselang lama Raffan juga ikut bergabung di sana. Mereka siap untuk sarapan bersama.
Tara sepertinya harus menahan ras ingin tahunya untuk sementara hingga selesai acara sarapan pagi ini. Semuanya makan dengan hikmat tanpa suara. Tapi sebuah kerusuhan diciptakan Tara saat dia menjadi seseorang yang selesai pertama kali.
__ADS_1
" Bunda semalam teriak kenapa?"
Uhuk
Kaluna yang baru meminum air putih seketika terbatuk mendengar ucapan Tara. Yasa langsung menepuk punggung Kaluna pelan. Wajah Kakuna jelas memerah karena malu.
" Itu nak, bunda lihat kecoak jadi bunda berteriak."
" Ooh gitu. Tara agak kaget aja bunda malam-malam teriak. Tara pikir kenapa, soalnya Tara pas banget kebangun mau ke dapur ambil minum."
Yasa menghembuskan nafasnya lega. Sedangkan Raffan dan Vanka hanya terkekeh geli. Tentu mereka paham dengan apa yang terjadi. Sungguh rasanya Kaluna ingin menenggelamkan dirinya ke dasar laut terdalam. Merekapun di sana hanya ada kedua orang tuanya tetap saja ia malu luar biasa.
Haish, sepertinya aku harus membuta kamar yang di rumah kedap suara. Biar suara seksi Kaluna tidak terdengar keluar.
Yasa menggerutu dalam hati. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Tara akan mendengar hal itu.
" Lain kali kalian harus lebih smooth saat berkegiatan."
Selorohan Raffan membuat Yasa dan Kaluna semakin menunduk. Tara hanya menatap heran kepada ayah dan bunda nya. Secerdas apapun dia, Tara tetaplah anak kecil yang ada kalanya tidak paham juga dengan apa yang orang dewasa bicarakan.
" Nek, nanti bolehkah Tara mendengarkan cerita nenek yang kemarin itu?"
" Tentu sayang."
Suasana pagi di vila itu sungguh hangat ditengah-tengah udara yang dingin. Hawa dingin di daerah dataran tinggi selalu menjadi tempat nyaman bagi para penduduk kota metropolitan. Terbukti banyaknya orang yang berbondong-bondong mengunjungi puncak saat weekend tiba.
Tapi kehangatan dan suasana penuh senyum itu akankah bisa bertahan jika sebuah badai menghadang mereka. Di depan sana terlihat gemuruh badai yang siap menghantam. Badai yang lebih besar dari pada sebelumnya.
Klara benar-benar menghubungi semua orang yang dikenalnya di dunia entertainment. Bahkan ia meminta orang untuk mencari asal usul keluarga Kaluna yang belakang ini baru Klara ketahui bahwa Yovanka Restayu pernah menjadi artis dengan nama panggung Yovanka Whietney.
Klara semakin tersenyum lebar saat mengetahui beberapa fakta mengejutkan tersebut. Ini adalah jalannya untuk menghancurkan Kaluna.
__ADS_1
" Kita lihat saja, akankah mereka masih bertahan dengan berita yang akan keluar besok."
TBC