
Dalam vila milik Dika, semua tampak sudah bersiap sekarang. Ruang tengah yang memang luas itu di pajang 2 lukisan milik Tara yang sudah selesai dan satu yang belum. Dimana nanti Yasa akan menjadi Pittore sesuai rencana yang sudah mereka susun.
Ya, salah satu trik ini yang akan digunakan yakni memakai Yasa sebagai Pittore. Tidak ada yang mengenal identitas asli Tara, dan tidak mungkin juga Tara berada di situasi seperti itu. Tentu itu adalah hal yang sangat membahayakan.
" Apakah kamu siap Yas? Aku perkirakan dia akan sampai sekitar 30 menit lagi." Pertanyaan Silvya dan Arduino begitu jelas. Yasa paham dengan semua yang telah disampaikan sebelumnya. Meskipun nanti tidak akan tahu akan terjadi kekacauan seperti apa tapi paling tidak tubuh Yasa sudah dilengkapi dengan rompi anti peluru.
Selama ini Yasa hanya memegang benda berbahaya itu untuk sekedar latihan bersama para sepupunya. Jadi untuk menghadapi situasi seperti ini sungguh ia belum pernah merasakannya.
" Bagaimana jika ayah dan ibu tahu mengenai Uncle Ar dan Bibi Silvya?"
" Heleeh, nggak akan. Kalau kamu nggak ember. Pokoknya yang tahu di keluarga Dwilaga itu khususon paman mu, dan sepupu-sepupu mu. Untuk para orang tua tidak perlu tahu. Takutnya pada kena syok."
Yasa terkekeh geli mendengar ucapan Silvya. Semua itu memang benar, tidak ada yang tahu mengenai identitas Arduino dan Silvya kecuali Dika, Bisma dan Gauri.
Setelah memberi sedikit arahan kepada Yasa, Silvya dan Ar menarik diri mencari tempat persembunyian yang sempurna. Sempurna untuk memantau dan sempurna untuk bergerak. Sedangkan di bagian luar, para anak buah Silvya dan Ar sudah bersiap. Mereka belum tahu berapa orang yang akan menjadi tamu, tapi paling tidak mereka mengantisipasi nya terlebih dulu.
Yasa yang berada di tengah ruangan membuat senatural mungkin akting melukisnya. Sebenarnya ia sendiri minder dengan hasil lukisan sang putra. Yasa memang suka melukis tapi lukisannya sangat jauh dibanding dengan Tara. Jika ia hanya sekedar hobi, maka Tara sudah bergerak dengan profesional.
" Huuuhft, maafkan ayah ya nak yang sudah mengacak-acak lukisan mu yang baru setengah jalan ini." Niat awal hanya sekedar corat-coret Yasa malah menjadi fokus melanjutkan lukisan milik sang putra.
Terdengar iring-iringan suara mobil. Semua tersenyum pun dengan Yasa. " Tamu sudah datang, dan mari kita sambut dnegan hangat," ucap Silvya melalui Earphone yang ditanggapi senyuman semua orang.
Braaak
Yasa tentu saja terkejut saat pintu vila di dibuka paksa, tapi ia langsung mengatur nafasnya agar terlihat tenang. Yasa tidak menoleh sedikit pun ke arah orang yang datang. Ia terus melanjutkan kegiatannya.
" Wohooo, Pittore. Apa ini memang kau. Woaaah si jenius yang banyak di puji bahkan eh pelukis terkenal dunia. Apakah ini wujud aslimu?"
Yasa memutar tubuhnya, dari menghadap lukisan menjadi menghadap dan menatap lurus ke arah pria bule yang mungkin adalah Hanson O' Connell. Dia tidak habis pikir, jika Tara lah yang benar-benar berhadapan dengan pria tersebut. Dari segi wajah sebenarnya terlihat biasa saja tapi dari sorot mata, sungguh terlihat sebuah kekejaman di sana.
" Alhamdulillaah Rabb, engkau masih melindungi putraku dengan memperlihatkan fakta itu kepadaku." Yasa bersyukur, sungguh ia takut jika putranya kenapa-napa.
__ADS_1
O'Connell berjalan mendekat, menghampiri salah satu lukisan milik Tara. Tentu dia juga bukan orang yang bodoh dengan begitu saja percaya bahwa orang yang sekarang ada di hadapannya adalah Raka Pittore. Akan tetapi setelah melihat 2 lukisan yang sudah jadi dan satu yang sedang on proses membuat O'Connell yakin bahwa yang sekarang ia lihat adalah Pittore.
" Bagaimana, apa kau menerima tawaranku?"
" Maaf jika mengecewakanmu tuan, tentu aku tidak bisa. Aku adalah orang yang berprinsip. Prinsipku jelas bahwa aku tidak akan mau menduplikasi karya apapun dan dari siapapun."
Prang
" Bedebah kau. Sepertinya aku harus menggunakan cara kasar untuk membuatmu setuju dengan keinginanku."
O'Connell memerintahkan beberapa orang itu menahan Yasa. Yasa tentu masih bisa melawan mereka. Adu pukul pun terjadi. Satu lawan 4 dan kedudukan masih imbang. Rupanya kemampuan Yasa bertarung cukup mumpuni.
Bugh
Bugh
Klontang
Pyaaaar
Di tempat persembunyiannya, Silvya dan Ar masih menahan diri untuk segera menolong keponakan merek yang terlihat mulai tersudut dna kelelahan. Tapi satu hal yang tidak disadari oleh O'Connell, semua orangnya yang masih berada di luar berhasil dilumpuhkan.
Mengapa tidak terdengar adu tembak atau adu jotos nya? Karena lagi-lagi Ar dan Silvya menggunakan senjata milik Janson yakni senjata beracun dnegan level rendah. Senjata tersebut tidak untuk mematikan lawan tapi untuk melumpuhkan. Tentu saja Jason setuju dengan permintaan Ar dan Silvya soal pengadaan senjata, karena dia pasti mendapatkan tikus percobaan lagi.
Di dalam suasana semakin memanas saat Yasa sudah mulai kelelahan. Pada akhirnya ia menarik sebauh pistol dan melepaskan tembakan ke arah musuh.
Dor
Dor
Dor
__ADS_1
Dua tembakan meleset dan satu tembakannya mengenai salah seorang dari anak buah O'Connell. Pria bule itu tampak marah, ia ternyata salha menilai Pittore. Dalam bayangannya Pittore adalah pria yang lemah dan siapa sangka pria itu memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni.
" Ben, bidik Pittore, tembak kaki dan tangannya. Waktu bermain sudah habis dan saatnya untuk bergerak serius."
" Siap tuan!"
Benoit mengangguk, ia mengikuti perintah tuannya. Benoit mengambil senjata api nya dan mengarahkannya tepat di bagian tubuh Yasa sesuai keinginan O'connell.
" Setelah ini, aku akan membawamu ke negaraku. Dan kau akan jadi budakku untuk selamanya."
Dor
Dor
Dor
O'Connell tertawa terbahak-bahak saat suara tembakan itu membahana di dalam vila. Namun tawanya berhenti ketika ia melihat Yasa yang masih berdiri tegak tanpa luka sama sekali.
" Ba-bagaimana bisa kamu masih berdiri. Bukannya Benoit sudah menembak mu?"
" Anda terlalu percaya diri bung. Lihatlah orang yang kau perintahkan itu."
Mata O'Connell membulat sempurna saat melihat Benoit yang terkapar do lantai. Ia kemudian mendekat ke arah Benoit dan mencoba memeriksa keadaan tangan kanannya itu. Sebuah tarikan nafas penuh kelegaan dilakukan oleh O'Connell saat mendapati Benoit masih bernafas.
" Sialan, bedebah kau Pittore. Aku akan membawamu ke negaraku bagaimanpun caranya."
O' Connell meringsek mahu dan menyerang Yasa. Yasa yaang sebenarnya sudah kelelahan masih bisa menangkis pukulan dari pria bule itu.
O' Connell sangat kesal karena tak kunjung bisa melukai Yas. Ia oun mengeluarkan belati dan menyerang secara sembarangan. Posisi Yasa terpojok saat O'Connel berhasil menjatuhkan Yasa. Pria bule itu berada tepat diatas tubuh Yasa dan ingin menghujamkan belati ke mata Yasa.
Dor
__ADS_1
Klontang
TBC