Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 83. Meringkus


__ADS_3

Yasa dan Zion dibuat terkejut dengan cerita yang mengalir dari bibir Carolina. Terlebih Vanka, ia sungguh tidak menyangka diusia nya yang lebih dari setengah abad ini berhasil menemukan keluarga dari sang ibu.


" Bolehkah aku memanggil Anda dengan sebutan ibu?" ucap Vanka lirih. Terlihat jelas rasa rindu dan sedih di wajah nenek dari Tara tersebut.


" Boleh nak, sangat boleh sekali. Ya Tuhan, ini adalah berkat yang Tuhan berikan kepadaku di ujung usiaku yang mungkin tidak lama lagi." Carolina memberikan kode kepada Vanka untuk mendekat dan keduanya pun berpelukan. Masing-masing memiliki rasa yang tidak bisa mereka ungkapkan. Pun dengan Kaluna dan Raffan, ayah dan anak itu ikut senang dengan pertemuan bibi dan keponakannya. Raffan bisa melihat bahwa Carolina memanglah sangat mirip dengan ibu mertuanya. Raffan bisa melihat wajah ibu mertuanya yang telah tiada itu di wajah Bibi Carolina.


Sedangkan Yasa dan Zion serta Tara lebih berfokus kepada dua nama orang yang menjadi art Carolina tapi dengan tega menganiaya sang majikan. JIka selama ini kasus yang beredar adalah majikan menganiaya art, ini malah terbalik. Tara semakin terkejut saat melihat rekaman cctv yang ada di ponsel Carolina. Bocah itu kemudian menunjukkannya kepada Yasa dan Zion.


"Astagfirullaah, ini benar-benar kurang ajar," ucap Yasa marah.


" Kak, sepertinya kita harus bertindak. Ini sudah keterlaluan," imbuh Zion.


" Jika Tara tidak salah, mereka pasti akan kembali ke rumah nenek buyut untu melanjutkan pencarian surat berharga seperti apa yang dikatakan oleh nenek buyut."


Pandangan semua orang langsung tertuju kepada Tara. Dan Yasa sudah tidak tahan juga mengeluarkan pertanyaannya kepada sang putra.


" Kenapa Tara jadi serba tahu begitu. Kenapa Tara bersikap seakan-akan sudah tahu mengenai kejadian sekarang ini?'


Kena deh, Tara menepuk mulutnya sendiri. Ia terlalu bersemangat sehingga melupakan fakta bahwa dirinya adalah bocah berusia 5 tahun yang sebentar lagi akan 6 tahun.


" Yah, Tara hanya melihat cctv nya tadi dan sedikit berpendapat," kelit Tara.


Yasa mengangguk kecil, memang benar, tidak ada salahnya berpendapat dan menyimpulkan sesuatu. Yasa kemudian mengajak Zion bergerak cepat. Dengan membawa beberapa orang milik uncle nya, Yasa dan Zion langsung menuju rumah milik CArolina.


" Kalian langsung menuju tempat ini. Aku ingin lebih cepat. Ada dua target yang harus kita ringkus. Ingat, aku tidak ingin ada kata gagal."


Zion sungguh berbeda jika dalam mode serius seperti itu. Aura Arduino melekat di sana dan Yasa tentu paham mengenai hal ita tahu uncle Ar dan Bibi Silvya itu bukanlah orang biasa. Keluarga Linford memiliki sesuatu yang besar dibelakang yang tidak diketahui oleh orang awam termasuk keluarga Dwilaga.


Akan tetapi Yasa dan Yara tahu akan hal itu karena keduanya sedari kecil sering berlatih olah fisik besama Zion, Nataya, dan Dita.


Tim Zion, Yasa dan tim anak buah Zion berangkat dari arah yang berbeda. Diluar tampak gelap, waktu menunjukkan pukul 20.00 malam. Jalanan yang sedikit ramai tidak membuat Zion kehabisan cara untuk sampai di lokasi lebih cepat. Yasa menggantikan Zion untuk berkomunikasi dengan anak buah Zion. Mereka rupanya sudah sampai lebih dulu.

__ADS_1


" Tuan muda, kami sudah sampai."


" Baik, awasi keadaan sekitar. Jangan bergerak dulu. Tunggu sampai target benar-benar terlihat."


" Siap laksanakan."


Zion mengangguk ke arah kakak sepupunya. Ia kemudian menekan pedal gas nya dalam-dalam saat dirasa jalanan lumayan lenggang.


Dikediaman Carolina sepasang suami istri itu berjalan dengan begitu santai. Melihat lampu rumah yang tidak menyala bisa diketahui bahwa rumah tersebut tidak ada penghuninya.


" Sepertinya kita benar-benar akan panen besar mas," ucap Kani riang kepada Sarno.


" Betul, setelah kita mendapatkannya mafi kita pergi ke tempat yang jauh. Bila perlu ke luar negri."


Kani dan Sarno sepertinya tidak terlalu pintar. Mereka berpikir jika ke luar negri hanya sebatas bisa membeli tiket pesawat saja.


Kedua orang itu membuka pintu dengan perlahan. Senyum mengembang sempurna saat melihat rumah itu benar-benar sepi. Keduanya kemudian bergerak cepat mengumpulkan barang-barang yang menurut mereka laku untuk dijual. Dirasa cukup kini baik Sarno maupun Kani berbagi tugas unyuk mencari sertifikat rumah dan tanah perkebunan yang dimiliki Carolina.


" Baik mas, aku mengerti."


Dibalik kesibukan keduanya menjarah rumah milik orang lain itu, di luar rumah Zion dan Yasa yang baru saja sampai langsung memberi aba-aba untuk bergerak masuk meringkus kedua orang yang Tara pastika akan datang. Yasa dan Zion takjub, prediksi Tara benar. Pasalnya anak buah Zion saat keduanya datang langsung mengatakan bahwa ada dua orang, pria dan wanita yang masuk ke dalma rumah yang tengah mereka awasi itu.


Brak ... Krompaaang ... Gludaak


Suara-suara di dalam rumah tersebut terdengar seperti benda-benda yang dilempar dan dijatuhkan dengan sengaja. Jika Zion tidak salah mengira, dua orang yang kata Nenek Carolina itu adalah art itu saat ini sedang mengobrak-abrik rumah mencari sesuatu yang mereka inginkan.


" Mungkin ini tidak terlalu sulit tapi tetap harus hati-hati. Bahkan seekor tikus bisa memberontak meskipun sudah dalam belitan ular."


Semua mengangguk patuh atas perintah Zion. Mereka mulai menyebar tapi seketika Yasa meminta semuanya untuk mundur, " Zi, sepertinya kita berdua saja yang maju. Ini nanti kan kita harus langsung melaporkan ke polisi bukan. Jike beramai-ramai polisi malah akan curiga."


" Aah, benar juga kak. Ya udah. Kalian tetap berada dibelakang kami. Kami berdua bisa mengatasi ini. Posisi Kani dan Sarno sudah sangat jelas diketahui. Dengan dalih Zion yang belum menikah, Yasa meminta adik sepupunya itu yang meringkus Kani. Yasa tidak mau menyentuh wanita lain selain istrinya.

__ADS_1


" Heleh, bisa-bisanya kamu aja kak," ucap Zion lirih.


Keduanya berjalan mengendap dan menuju ke masing-masing tempat. Baik Yasa maupun Zion sungguh geram melihat perbuatan dua orang yang sebenarnya sudah diberi pekerjaan oleh Nenek Carolina.


Greb, tanpa perlawanan Zion berhasil menangkap Kani tapi tidak dengan Yasa.


Bugh


Bugh


Bugh


Yasa sedikit terlibat adu jotos saat menghadapi Sarno. " Brengsek, siapa kau!" teriak Sarno. Pria itu sedikit terkejut saat ada orang yang tidak dikenal meraih tangannya. Reflek, ia melayangkan pukulan namun tentu saja bisa ditangkis oleh Yasa.


" Menyerah lah, kau mengambil sesuatu yang bukan hak mu. Itu namanya mencuri dan melanggar hukum."


" Cih, tidak ada angin tidak ada hujan kau orang asing bicara begitu. Memangnya siapa kau?"


" Aku keluarga Nenek Carolina. Aku adalah cucunya."


Sarno sedikit terkejut, pasalnya yang dia tahu, majikannya itu tidak memiliki anak, lalu bagaimana bisa memiliki cucu. Melihat Sarno sedikit lengah, dengan cepat Yasa mendekat dna mengunci tubuh Sarno dengan cara memiting kedua tangan Sarno tepat dibelakang tubuh pria itu.


" Pertanggungjawabankan lah perbuatanmu di tempat yang semestinya. Dengar sirine mobil polisi sudah terdengar, tanda mereka akan akan membawamu."


Sarno menelan saliva nya dengan susah payah. Ia jelas tidak menyangka hal yang ia susun rapi menjadi gagal total. Wajah Sarno pias saat melihat istrinya sudah duduk di sebuah mobil polisi.


Rupanya Zion langsung memerintahkan anak buahnya menghubungi polisi saat ia berhasil mengamankan Kani.


" Mohon diproses secara hukum sesuai perbuatan mereka pak. Satu hal yang sangat keji mereka lakukan adalah menganiaya wanita renta yang sebenarnya sudah menolong mereka dengan memberikan pekerjaan di rumah ini," jelas Yasa kepada petugas polisi.


" Baik, terimakasih untuk semuanya. Anda berdua bisa ikut kami untuk membuat laporan."

__ADS_1


TBC


__ADS_2