
Kaluna dan Raffan sungguh terkejut melihat apa yang terjadi di perkebunan mereka. Meskipun oleh Surya sudah diberitahu tapi Raffan tidak menyangka bahwa semua benar kacau seperti ini. Raffan bahkan sampai terduduk lemas melihat betapa hancurnya kebun miliknya itu.
" Pa." Kaluna memanggil Raffan dengan suara yang lirih. Wanita itu tahu ayahnya saat ini sedang sangat syok melihat betapa hancurnya kebun-kebun sayur milik mereka.
" Papa nggak apa-apa. Wajar kan kalau kaget. Sudah, mungkin ini bagian dari balasan Allaah mengenai dosa-dosa papa di masa lalu. Ayo kita kembali ke rumah. Tidak sepatutnya kamu berkeliaran menuju hari pernikahanmu."
Kaluna hanya mengangguk. Setelah berbicara sejenak dengan Surya, Kaluna menyusul Raffan ke mobil. Mereka hanya benar-benar memeriksa kebun dan lalu kembali lagi. Persiapan pernikahan yang akan di gelar lusa sudah selesai. Karena tidK mengundang tamu dan hanya sanak saudara saja maka acara pun akan dibuat sederhana dan intimate.
" Pa, apa sebaiknya Kaluna tunda dulu pernikahan Kaluna hingga urusan kebun beres?"
" Nak, pernikahanmu harus segera dilakukan agar tidak timbul fitnah. Papa khawatir orang-orang akan menggunjing mu."
Kaluna mengangguk pelan. Apa yang dikatakan oleh papa nya itu 100% benar. Fitnah itu jika tidak segera dibantah maka akan semakin besar. Sebenarnya Kaluna tadi mendengar para warga yang berbicara buruk padanya. Namu dia memilih diam dan tidak memberitahu sang papa. Kaluna tidak ingin papa nya tahu.
Sedangkan di hati Raffan dia juga sebenarnya dengar gunjingan orang-orang mengenai putrinya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak. Saat ini tidak ada bukti untuk menyangkalnya. Satu-satu nya bukti ya surat nikah yang akan Kaluna dapatkan sabtu besok itu setelah sah menikah dengan Yasa.
Rupanya ayah dan anak itu sedang saling menjaga hati satu sama lain. Kaluna sedang berusaha untuk tidak membuat papa nya sedih dan Raffan sedang berusaha membuat Kaluna tidak memiliki beban pikiran.
Ayah dan anak itu berada di dalam mobil dengan penuh kesunyian. Tidak ada yang berbicara hingga Kaluna mengucapkan sebuah pertanyaan yang membuat Raffan terkejut.
" Pa, apa papa kecewa dengan Kaluna? Papa pasti kecewa punya putri seperti Kaluna."
Raffan mengalihkan sedikit pandangannya kepada sang putri yang duduk di sampingnya itu. Ia tahu apa yang ada dalam pikiran Kaluna. Raffan lalu kembali fokus melihat kedepan. Pria paruh baya itu tersenyum kecil.
__ADS_1
" Kal, kalau kamu tahu apa yang sudah kami perbuat di masa lalu kamu akan lebih kecewa kepada kami. Bahkan terkadang papa berpikir bahwa apa yang menimpamu bagian dari balasan yang Allaah berikan kepada papa dan mama. Tapi Kal yang jelas adalah bagaimana kita bisa berubah menjadi lebih baik. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Papa, mama, dan kamu. Kita pernah bersalah. Kita bukan manusia sempurna yang luput dari salah. Tapi satu hal yang utama dan sangat penting adalah kita bisa berubah, bertaubat dan tidak lagi mengulang kesalahan itu."
Kaluna mendengarkan dengan seksama setiap apa yang papa nya katakan. Ternyata hal tersebut begitu menyentuh hati Kaluna. Ia pun semakin mantap dan yakin untuk menikah dengan Yasa dan membina sebuah hubungan yang berlandaskan cinta terhadap Rabb mereka.
" Ya Rabb, semoga Kaluna tidak seperti kami. Kami dulu memulai dengan cara yang salah dan banyak hal terjadi dalam hidup kami sebagai bagian dari hasil atas perbuatan buruk kami di masa lalu. Semoga Kaluna tidak mengalami apa yang kami alami. Semoga pernikahan mereka menjadi berkah tersendiri bagi keduanya dan cucu kami."
πππ
Hari sabtu pagi, semua mulai berkumpul di halaman belakang rumah Raffan. Keluarga besar Dwilaga sudah ada di sana diikuti dengan keluarga besar Joyodiningrat dan juga keluarga besar Dewantara. Bagai sebuah reuni Sukhdev dan Charles pun ada di sana. Jangan Lupa keluarga Jason juga ada di sana.
Raffan jelas tampak gugup melihat keluarga terpandang itu menyatroni rumah mereka. Bahkan Septian, Laila dan Ciara yang sedari malam sudah ada di kediaman Raffan pun sedikit terkejut dengan kedatangan mereka semua.
" Mas, gilaa. Itu mereka yang selama ini kita lihat di media sosial kan. Aku baru ngeh mereka saling berkaitan satu sama lain."
" Aku juga baru tahu Sep. Dulu aku mengenal istri Andra karena memang Za adalah mantan ku. Kau tahu itu, tapi yang lain, sungguh aku baru melihat mereka versi realnya sekarang."
" Eeeeh ini kalau dilihat mereka se circle deh. Banyak juga ya, mana bukan orang sembarangan lagi."
Tara bermonolog dalam hati. Ia juga melihat om dokternya dan langsung menghampiri. Disana rupanya ada Nala dan Naya, yakni putra dan putri dari Nataya. Tapi sebelumnya dengan sikapnya yang menggemaskan Tara memperkenalkan dirinya kepada semua ornag tersebut.
" Assalamulaikum semuanya, haduh Tara nggak tahu bagaimana cara memanggil Anda semua. Kakek, nenek, eyang kakung, eyang putri, mbahkung, mbah uti, om, paman, uncle, aunty, tante, om, aah apalah itu tapi selamat datang. Perkenalkan nama saya Taraka Abyaz putra dari Kaluna Trisha Danendra dan Yasa Narataman Dwilaga. Terimakasih sudah datang memberi restu kepada pernikahan ayah dan bunda Tara."
Semua tampak takjub dengan setiap kata yang terucap dari bibir anak berusia 5 tahun itu. Namun tidak dengan Kai, dia hanya tersenyum simpul. Pria itu tahu identitas lain dari sang bocah.
__ADS_1
Di dalam kamar Kaluna berkali-kali menarik nafasnya. Gugup? pasti, siapa yang tidak gugup menuju gerbang kehidupan yang baru. Terlebih Yasa langsung meminta Kaluna untuk tinggal bersamanya. Sebuah rumah minimalis yang tidak terlalu besar sudah disiapkan Yasa untuk memboyong Kaluna dan Tara.
Tapi karena Kaluna tengah mengelola perkebunan maka mereka akan wira-wiri juga nantinya dan tentu saja Yasa tidak akan keberatan akan hal itu.
Kaluna melirik sekilas wajah sang adik sepupu. Meskipun berkali-kali Ciara mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa tapi Kaluna tetap merasa tidak enak.
" Jangan berpikir aneh-aneh mbak. Aku lillaho ta'ala ikhlas dengan takdir yang Allaah sedang berikan kepadaku. Mbak, Tara, dan Kak yasa berhak bahagia. Dan kebahagiaan kalian adalah hidup bersama."
" Terimakas Ci, aku doakan kamu segera menyusul ku. Aku sungguh menantikan itu."
Ciara tersenyum dan mengaminkan doa Kaluna, hampir saja Kaluna menangis tapi di larang oleh Ciara dengan dalih nanti make up nya luntur.
Di halaman belakang Yasa sudah duduk di meja akad berhadapan dengan penghulu dan Raffan. Sedari tadi, ia begitu gugup. tak henti-hentinya Yasa menggerakkan kakinya. Dengan menggunakan tuxedo warna nude, senada denagn gaun yang dipakai oleh Kaluna, Yasa benar-benar terlihat tampan dan gagah.
" Nagaimana nak Yasa, sudah siap?"
" Siap pak."
" Silahkan pak Raffan menjabat tangannya nakmas Yasa."
Ternyata bukan hanya Yasa saja yang gugup, tetapi Raffan pun juga gugup. Yasa kemudian meraih tangan Raffan dan mereka saling berjabat tanagn.
" Sebelum aku menyerahkan putriku kepadamu, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu ..."
__ADS_1
" Tunggu!!!"
TBC