Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 81. Maafkan Kami


__ADS_3

Mobil ambulan melaju dengan cepat menerobos keramaian kendaraan di jalan raya saat ini. Mobil ber sirine itu diapit dua mobil di depan dan belakangnya. Di dalamnya terbaring seorang wanita yang berusia senja dengan luka di bagian kepala. Darah yang keluar menjadikan pakaian yang awalnya berwarna putih menjadi merah. Bau anyir jelas tercium karena darah juga keluar dari beberapa sisi tubuhnya.


" Kenapa orang itu tega sekali," ucap Tara sendu sambil menyaksikan Carolina yang terbaring tak sadarkan diri. Bukannya takut melihat banyaknya darah yang berada di sana, Tara malah mengambil tisu untuk mengusap darah yang terlihat di bagian tangan dan kaki Carolina.


Vanka terpaku melihat wajah Carolina, ingatannya tentu langsung tertuju kepada ibunya yang telah tiada. Wajah mereka berdua benar-benar mirip. Hanya sebuah hal yang membedakan yakni di wajah sang ibu terdapat tahi lalat tapi tidak di wajah Carolina.


Air mata Vanka mengalir deras. Ibunya tiada setelah banyak hal yang menimpanya waktu itu. Bisa dibilang Cecilia meninggal karena terkejut dengan apa yang terjadi dengan Vanka. Rasa bersalah menyeruak dalam hati wanita patuh baya tersebut.


"Nek," panggil Tara seraya menggenggam tangan Vanka yang bergetar. Meskipun bocah itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sang nenek, tapi paling tidak Tara mengerti bahwa sang nenek pasti sedang merindukan nenek buyutnya.


" Ya nak, maafin nenek ya. Nenek hanya ... ."


" Tidak apa-apa nek. Jika memang nenek memang rindu pada nenek buyut Tara bisa mengerti kok. Sepertinya nenek Carolina ini memang saudara kembar nenek buyut. Dengan begitu beliau adalah bagian dari keluarga kita juga."


Vanka takjub dengan setiap apa yang dikatakan oleh sang cucu. Tapi sebuah pertanyaan terbit, dari mana Tara bisa tahu bahwa ibu dari Vanka memiliki saudara kembar. Dan dari mana juga Tara bisa tahu ada peristiwa ini di rumah tersebut?


Tara kembali membuka tabletnya, tadi dia melihat ada beberapa kamera pengawas di sana. Satu hal yang membuat Tara merasa ini akan ada jalan keluarnya lebih cepat yakni ponsel milik Carolina berhasil ia dapatkan. Meskipun rusak tapi ia yakin memory nya bisa dipulihkan. Tapi ia akan melakukannya nanti. Saat ini kondisi Carolina adalah yang utama.


Ciiit


Mobil Ambulan berhenti tepat di depan pintu IGD. Tara keluar bersama dengan Vanka dan beberapa petugas medis menarik tandu Carolina dna memindahkannya ke brankar. Semua nampak berjalan mengikuti brankar dari belakang hingga masuk ke dalam ruangan penanganan.

__ADS_1


Setelah berada di sana beberapa saat, seseorang menyapa Tara. " Lho, kok ada di sini. Tara kenapa di sini nak?"


Tara sedikit terkejut mendengar suara yang tentu sangat ia kenal. Ya, itu adalah suara bunda nya. Tara juga tidak menyangka mereka akan bertemu. Yasa melihat ke arah Zion, meminta penjelasan dengan apa yang baru saja terjadi.


Tapi sebelum semuanya dijelaskan, dua orang dokter keluar dari ruang IGD. Masing-masing dokter menjelaskan kondisi pasien yang mereka tangani.


Tara dna Vanka bernafas lega mendengar tidak ada yang serius dengan Carolina. Tapi dokter mengatakan akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hal tersebut berbanding terbalik dangan pasien yang satunya lagi. Di sana Kaluna, Yasa, Brisia dan Lio sedikit terkejut mendengar penjelasan dokter mengenai pasien yang mengalami kecelakaan. Dimana bisa dipastikan pasien itu adalah Klara. Petugas medis memberikan ponsel dan identitas Klara kepada Brisia karena Brisia mengatakan bahwa ia mengenalnya.


" Jadi maksud dokter bagaimana?" tanya Brisia kembali.


" Teman Anda terbentur di bagian kanan. Saat tim medis sampai di lokasi memang mobil sebelah kanan yang ringsek. Mata kanan pasien terkena pecahan kaca dan telinga sebelah kanan mengeluarkan darah. Saat ini diagnosa sementara yang bisa kami katakan adalah pasien mengalami kebutaan di mata kanannya dan gendang telinga kanan pecah jadi pasien akan mengalami tuli juga."


" Astagfirullah."


Brisia dan Kaluna langsung syok mendengar penjelasan dari dokter tersebut. Ini merupakan sebuah kabar yang buruk. Di ujung pintu sepasang suami istri juga ikut terkejut. Tubuh wanita paruh baya tersebut terhuyung dan hampir jatuh. Beruntung suaminya masih bisa menahannya.


Keduanya berjalan mendekat ke arah Kaluna dan Yasa. Terlihat raut wajah sedih, terkejut, dan rasa bersalah di sana.


" Nak, kami sungguh minta maaf atas nama Klara. Kami sungguh orang tua yang buruk. Maafkan kami nak." Rudi Wibowo dan istri hampir merendahkan tubuh mereka di depan Yasa dan Kaluna. Oleh keduanya langsung ditahan. Kaluna memeluk mama nya Klara dan Yasa juga melakukan hal yang sama, ia memeluk Rudi. Yasa dan Kaluna mengusap punggung dua orang tua itu.


" Kami sudah memaafkan Klara jauh hari pak, bu. Kami sudah ikhlas. Doa dari kami semoga Klara bisa kembali pulih." Kaluna berucap lirih, dan mama dari Klara hanya bisa mengangguk pelan sembari terisak.

__ADS_1


" Maafkan Klara nak, mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan untuk anak kami. Semoga setelah ini dia bisa menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada kalian berdua secara langsung."


Sungguh hati Rudi sangat sakit melihat bagaimana Klara menyakiti dan mungkin bisa dikatakan menghancurkan hidup orang-orang baik di depannya tersebut. Dia sungguh iklhas dengan apa yang menimpa putrinya itu. Mungkin benar apa yang terjadi pada Klara adalah hukuman yang Tuhan berikan.


Setelah beberapa waktu, Klara dipindahkan ke ruang perawatan. Dokter sudah mengambil pecahan kaca yang bersarang di mata kanannya dan juga sudah mengobati luka telinga kanan Klara. Satu pertanyaan dilayangkan oleh Yasa apakah telinga kanan Klara bisa kembali mendengar, dokter yang menangani Klara hanya menggeleng pelan. Kerusakan yang dialami sungguh parah dan sepertinya sulit untu sembuh.


" Tidak apa nak Yasa, beruntung masih ada sebelah yang berfungsi. Tuhan masih begitu baik kepadanya. PAdahal kesalahan yang dia perbuat bukanlah kesalahan kecil.


Rudi hanya bisa tertunduk lesu. Ia sungguh pasrah dengan keadaan Klara. Yasa akhirnya menawarkan bantuan untuk menyetop pemberitaan diluar sana mengenai Klara tapi Rudi menolak. biarlah putrinya itu berjalan. Yang mereka akan lakukan yakni mendampingi sang putri dan mengajak Klara menuju pada kebaikan.


Yasa kemudian membiarkan kedua orang tua Klara itu masuk ke kamar sang putri. Satu urusan mungkin sudah usai dan tinggal sebuah urusan lain yakni apa yang dilakukan sang putra. Dan pasien? siapa pasien yang tad dibawa oleh Tara. mengapa Zion dan kedua mertuanya juga ada di sana.


" Baiklah, siapa yang akan memberi penjelasan tentang apa yang Tara lakukan tadi. Zion apa Tara."


Tara mengambil nafasnya dalam dan membuangnya perlahan. Ini tentu harus dia menjelaskan. Paman, kakek dan neneknya hanyalah peran pembantu dalam kasus ini. Peran utamanya tetaplah dirinya.


" Begini yah, pasien tadi, nenek tua tadi itu adalah kembaran dari nenek buyut. Atau bisa dikatakan dia adalah ibu dari nenek dan nenek dari bunda."


" Apa?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2